Senin, 20 Apr 2026
  • Home
  • Opini
  • Samosir sebagai Monaco of Asia (?)

Opini

Samosir sebagai Monaco of Asia (?)

Oleh: T. Sandi Situmorang
Minggu, 28 Agu 2016 10:08
Internet
Danau Toba
Pemkab Samosir paling siap di antara Ka­bupaten lain yang berada di kawasan Danau Toba, dalam me­nyong­song program pemerintah yang akan menjadikan Danau Toba sebagai "Mo­naco of Asia" Indonesia." Inilah kali­mat pembuka dari berita berjudul Sa­mosir Siap Songsong "Monaco of Asia", terbit di halaman 11, Harian Ana­lisa, Selasa 2 Agustus 2016. Statment ter­sebut milik Bupati Samosir, Rapidin Sim­bolon.

Hebat, begitu pikir saya.  Saya ba­yang­kan, Sang Bupati beserta segenap ja­jarannya telah berbuat sesuatu atau  me­miliki program kerja yang sangat aduhai. Membaca berita hingga tuntas, pe­rasaan saya menjadi datar. Bayangan  yang begitu indah pupus sekejab mata. Saya kecewa.  Ada sederet program kerja (yang sudah dilakukan maupun hendak di­la­kukan), Sang Bupati tidak menying­gung pembe­nahan kondisi Danau Toba saat ini.

Beliau mungkin lupa, daya tarik uta­ma Sa­mosir adalah Danau Toba.  Bila di­ana­logikan pada kebutuhan hidup, Danau Toba menjadi kebutuhan primer dan Samosir adalah kebutuhan sekunder. Manusia pasti mengutamakan kebutuhan primer daripada sekunder. Semestinya kita pun berpikir demikian menyangkut Danau Toba.

Di antara kekecewaan, saya berusaha ber­baik sangka. Mungkin pembersihan (te­rutama air Danau Toba) bukanlah ma­salah besar bagi Sang Bupati. Sehingga tidak perlu dimasuk­kan sebagai program kerja. Sehari dua hari saja beres semua­nya.

Namun, bila ternyata Sang Bupati berpikir  pemulihan kon­­disi Danau Toba bukan hal penting untuk 'memonacokan' Danau Toba. Alangkah salahnya pemiki­r­an itu. Para pakar berkata, kerambah ja­ring apung menjadi kontributor paling be­sar dalam merusak kualitas air Danau Toba. Perusahaan asing yang 'menanam' ikan di Danau Toba memang tidak di per­airan wilayah Samosir. Tetap saja, ke­tujuh kepala daerah yang mengepung Da­nau Toba harus duduk bersama ke­mu­dian memutuskan cara meningkat­kan kua­litas air Danau Toba.  Bukan ha­nya ke­pala daerah, sesungguhnya Da­nau Toba menjadi tanggung jawab semua pi­­hak. Baik rakyat dan pengusaha se­tem­pat, pejabat daerah, bahkan juga pusat.

Monaco dan Samosir

Ketika wacana hendak menjadikan Da­nau Toba sebagai Monaco-nya Asia, yang timbul di pikiran saya adalah: Sa­mo­sir akan menjadi pusat judi. (Ingat, ha­nya Samosir. Tidak terpikir­kan saya ka­bupaten lainnya). Saya yakin tidak sen­diri berpikir seperti itu karena Monaco identik dengan kasinonya.

Karena kiblat pemerintah adalah Mo­naco, saya jadi ingin tau sedikit mengenai Mo­­naco. Google menjadi media paling te­pat untuk itu. Ternyata, Monaco hanya me­­miliki luas 70 hektar sehingga ia men­jadi negara kedua terkecil di dunia.  Tiga sisi berbatasan dengan Perancis dan satu sisi berhadapan dengan Laut Tengah. War­ga negara Monaco sekitar 5.000 jiwa di­tambah penduduk musiman sekitar 25.000 jiwa. Penduduk musiman itu me­rupakan orang-orang kaya dari penjuru du­nia.

Sektor Pariwisata menjadi pendapatan utama Monaco. Mereka menjual peman­da­ngan Laut Tengah yang indah serta iklim­­nya yang hangat. Pangeran Albert Grimaldi sebagai kepala negara berkata,  se­mua kegiatan dan segala sektor harus meng­hasilkan. Berbagai kegiatan yang ter­susun rapi berlang­sung sepanjang ta­hun. Seperti balap mobil Formula 1, per­tan­dingan tenis tingkat dunia, lomba ka­pal pesiar dan sederet kegiatan lainnya. Sing­­katnya, Monaco adalah sorga bagi pe­­lancong berkantong tebal sekaligus ru­­mah bagi orang-orang berduit yang hen­­dak menghindari pajak di negara asalnya.

Setelah sedikit mengenal Monaco, barangkali wacana menjadikan Danau Toba sebagai Monaco of Asia bisa  'dipersempit' menjadi Samosir sebagai Monaco of Asia. Monaca adalah sebuah daratan. Sehingga lebih pas disandingkan dengan Samosir yang juga daratan. Bila Monaco menjual pemandangan Laut Te­ngah, maka Samosir menjual peman­da­ngan Danau Toba dari segala sisi. Seperti Monaco yang memiliki kegiatan rutin sepanjang tahun, Samosir pun demikian. Event-event di Samosir harus ditambah, pe­nuh perencanaan matang hingga tidak asal jadi.  Event ini bisa berbalut budaya Batak, sebagian juga modern.

Berhubung jualan utama tetaplah Da­nau Toba, maka sangat penting men­jaga, memelihara kebersihan Danau Toba.  Kwalitas air harus ditingkatkan. Seka­rang, semakin banyak wisatawan menge­luh badannya gatal-gatal setelah mandi di Danau Toba. Air Danau Toba telah ter­cemar sisa limbah pakan ikan. Per­ha­rinya sekitar 250 ton pakan (pelet) masuk ke dalam Danau Toba. Diperkira­kan se­kitar 20 persen menjadi residu ka­rena ti­dak termakan ikan. Residu ini me­num­puk di dasar danau. Sangat me­ngerikan ke­tika sebuah penelitian me­nye­­but, ketebalan sisa pakan ikan di dasar Danau Toba sudah mencapai satu meter.

Ketebalan itu  pasti meningkat bila ke­rambah jaring apung tetap subur di Da­nau Toba. Hanya menunggu waktu, Danau Toba tidak lebih seperti comberan. Saat masa itu tiba, semenarik apapun event di Samosir, sudikah wisatawan ber­kunjung? Sungguh geli memba­yang­kan wisatawan di Tuk-tuk duduk santai di sebuah kafe atau di beranda hotel tempatnya menginap, sementara benta­ngan air Danau Toba tak lebih baik dari com­beran di belakang rumah mereka. Is­tilah saya memang terdengar kasar, te­tapi itulah yang akan terjadi bila pen­cemaran air Danau Toba terus dibiarkan.

Berhubung Danau Toba dikitari tujuh kabupaten kota. Ketujuh daerah ini memang harus bersinergi, bahu mem­bahu memelihara Danau Toba.  Bisa di­jalin kerja sama  antara ketujuhnya hingga sama-sama memperoleh devisa dari pa­riwisata Danau Toba. Sehingga di saat  Sa­mosir telah benar-benar menjadi Mo­naconya Asia, enam daerah lainnya tidak tertinggal serta turut menikmati hasilnya.

Situs Wisata Kurang Terawat

Pernyataan Bupati Samosir, bila Pem­kab Samosir yang paling siap di an­tara kabupaten lain dalam menyong­song program Danau Toba sebagai Monaco of Asia, pada akhirnya kita anggap menjadi hal yang seharusnya. Mengingat wilayah Ka­bupaten Samosir memang paling banyak bersinggungan dengan Danau Toba. Saya tidak bisa sebut pa­ling banyak mendapat kunjungan wi­satawan karena tidak ada data yang me­nye­butkan.  Tetapi tidak dapat kita mung­kiri, saat menyebut Danau Toba kebanya­kan orang pasti teringat dengan Samosir,  atau Tuk-tuk dan Tomok (Tuk-tuk dan Tomok berada di Samosir) dan Parapat.

Pemkab Samosir begitu semangat menyusun program kerja demi menyong­song Danau Toba sebagai Monaconya Asia, mohon jangan dilupakan aset yang di­­miliki sekarang. Sebagai contoh se­der­hana, Museum Huta Bolon Si­ma­nin­do. Sejak 1969 rumah adat warisan Raja Si­dauruk ini dijadikan museum terbuka. Mu­seum Huta Bolon dibuka setiap hari. Ada pertunjukan tor-tor dua kali sehari di sana.

Pertunjukan itu sangat sederhana dan se­adanya. Turis mancanegara yang me­nyaksikan pertunjukan hanya dipandu se­carik kertas yang dibagikan saat pem­be­lian tiket.  Sebagian dari mereka seperti je­nuh melihat pertunjukan itu.

Sebuah Rumah Bolon yang sejatinya sebagai wadah  memajang barang-barang kuno dan antik yang bersejarah justru lebih menyerupai gudang daripada museum.  Benda-benda yang dipajang tidak terurus hingga diselimuti debu. Lemari kaca ditumbuhi, seperti, sarang laba-laba. Uang kertas kuno yang dipajang dalam lemari kaca berserakan tidak beraturan.

Menyedihkan melihat beberapa turis ber­sama pemandunya sebentar saja be­rada di dalam museum. Sebagian hanya me­longok dari mulut pintu. Mereka justru lebih tertarik melihat makam yang le­taknya berhadapan dengan Rumah Bolon pe­nyimpan benda-benda berseja­rah. Saya sebut lebih tertarik karena se­tidaknya sebagian turis memotret atau  berfoto di depan makam itu.

Seunik, seindah dan semenarik apapun situs wisata akan berkurang nilainya ma­na­kala ia tidak dipelihara. Apalagi bila sam­pai situs itu kotor dan terlantar. Bila Sa­mosir berniat pariwisata menjadi sektor andalan pendapatan. Tidak bisa ditawar, selain infrastruktur, kebersihan dan pelayanan merupakan modal utama.

Masih menurut Bupati Samosir, Pemkab Samosir sudah memiliki kelom­pok sadar wisata. Kelompok ini akan membantu mensosialisasikan di bidang pelayanan. Semoga saja menjaga kebersi­han dan merawat aset wisata telah terma­suk ke dalam bidang pelayanan itu. Saya tidak tahu, apakah sekarang ini pihak pem­kab Samosir menjalin komunikasi de­ngan para pemandu wisata di Samosir. Bila belum, tidak salah komunikasi itu di­jalin. Sehingga pemkab Samosir me­nge­tahui apa keluhan para wisatawan, apa yang mereka suka dan tidak suka di Sa­mosir.

Akhirnya, tulisan ini semata panda­ngan saya sebagai wisatawan yang bisa saja lucu bagi beberapa pihak. Simpan bila cocok, buang bila tidak.***

Penulis alumnus ITM Medan. Sering berkunjung ke Samosir.

sumber:harian.analisadaily.com
Opini
Berita Terkait
  • Sabtu, 14 Mar 2026 15:06

    Birokrasi, Investasi, dan Jalan Baru Pembangunan Provinsi Riau

    DALAM Dalam diskursus pembangunan daerah, otonomi sering kali dipahami secara sederhana: jika infrastruktur dibangun, investasi akan datang; jika investasi datang, ekonomi daerah akan tumbuh. Pandanga

  • Minggu, 07 Sep 2025 10:19

    Rumah Besar PWI Harus Dirawat Bersama, Persatuan Lebih Mulia dari Ambisi

    Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Bekasi, 29-30 Agustus 2025, telah menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi wartawan tertua di Indonesia. Dengan penuh suasana demokratis, Direktur Utama L

  • Senin, 02 Des 2024 19:18

    Pilkada Rohil: Sejarah Berulang Petahana Tumbang, Bistamam Harapan Baru Rokan Hilir

    TAHUN 2024 menjadi tahun politik yang penuh tantangan bagi Bupati Rokan Hilir (Rohil), Afrizal Sintong. Pada 27 November 2024, masyarakat Rokan Hilir memilih pasangan Bupati dan Wakil Bupati da

  • Senin, 27 Mar 2023 20:06

    Undang Undang Cipta Kerja Yang Sempat Dipandang Tidak Baik Oleh Beberapa Orang

    Dikenal dengan Omni buslaw, UU 11 Tahun 2020  tentang Penciptaan Lapangan Kerja merupakan undang-undang yang fenomenal. Undang-Undang cipta kerja dirancang dengan kecepatan tinggi dan memaparkan

  • Minggu, 12 Mar 2023 09:40

    Blackpink, Kaum Muda, dan Nasionalisme

    Indonesia pada Maret ini kedatangan group K-Pop dunia asal Korea Selatan, Blackpink. Rasanya tak ada kaum Milenial maupun Gen-Z yang tidak kenal dengan group ini. Antusiasme ditunjukkan Blink dengan k

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.