Rabu, 25 Nov 2020
SMSI
  • Home
  • Hukrim
  • Penangkapan Sabu 16 Kg di Pekanbaru, 1 Pelaku Oknum Polisi Pangkat Kompol,Pengamat: Bukti Keseriusan

Penangkapan Sabu 16 Kg di Pekanbaru, 1 Pelaku Oknum Polisi Pangkat Kompol,Pengamat: Bukti Keseriusan

Admin
Sabtu, 24 Okt 2020 11:51
pekanbaru.tribunnews.com

PEKANBARU - Dr. Kasmanto Rinaldi, SH, M. Si, selaku Kriminolog sekaligus Dosen Pascasarjana Ilmu Hukum UIR, memberikan tanggapan atas keberhasilan pengungkapan kasus narkoba oleh Polda Riau.

Dalam penangkapan pada Jumat (23/10/2020) malam tadi, jajaran Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau menangkap 2 pelaku, dan menyita barang bukti 16 kg sabu.

"Suatu langkah yang patut kita apresiasi tentunya tetap kita berikan atas upaya dan kesigapan Polda Riau melalui Ditnarkoba Polda Riau dan jajarannya atas keberhasilannya mengungkap peredaran narkoba seberat 16 kg, meskipun ternyata ada keterlibatan oknum anggota dengan status Perwira dalam operasi ini," jelas Kasmanto, Sabtu pagi.


Lanjut dia, dalam perspektif kriminologi, siapapun bisa berpotensi sebagai pelaku kejahatan.

Kejahatan menghampiri individu bukan karena status sosialnya, tapi bagaimana proses kejahatan itu datang kepada seseorang.

Dalam sudut pandang yang sederhana, penjahat tidak lahir melalui proses genetika namun akan tercipta melalui proses dan tahapan pembelajaran. Inilah yang disampaikan oleh Sutherland melalui Diffrential Assosiasi Theory-nya.

"Bahwa anaknya jahat belum tentu ada kaitannya dengan bapaknya. Sebaliknya seorang aparat penegak hukum sebagai pelaku kejahatan bisa saja sepanjang proses pembelajaran tersebut dia alami," ungkap Kasmanto.

Ia memaparkan, narcotic crime sangat berbeda dengan kejahatan konvensional seperti pembunuhan, perampokan, perkosaan dan sebagainya.

Hal ini dikarenakan unsur "keuntungan dan cost "yang tinggi dalam lingkaran kejahatan ini.

Dengan memasukkan barang haram dalam jumlah yang kecil saja, ada keuntungan besar yang akan menanti.


Apalagi dalam jumlah besar, sudah barang tentu bisa dibayangkan keuntungan yang akan diperoleh.

Kondisi market yang luas menurutnya juga seolah-olah "membantu" eksistensi kejahatan narkoba meski di tengah kondisi pendemi Covid-19 seperti saat ini.

Pandemi memungkinkan orang banyak waktu "berdiam diri" dan untuk sisi yang lain, tidak banyak yang sedang mengalami pahitnya kehidupan


Kondisi ini mampu dengan licik dimanfaatkan oleh jejaring narkoba yang pasti punya berbagai relasi dan modal.

"Relasi bisa saja dengan "merangkul" oknum aparat penegak tertentu yang masih lemah dalam pengendalian diri dan loyalitas terhadap tugas pokok dan fungsinya serta sumpahnya kepada negara," tegas Kasmanto.

"Sehingga tidak menjadi "dugaan palsu" bahwa ada kemungkinan keterlibatan beberapa oknum aparat sistem peradilan pidana atau criminal justice system (CJS) mulai dari kepolisian, kejaksaan, peradilan maupun lembaga pemasyarakatan," sambungnya.

Kasmanto memaparkan, selain punya relasi, jejaring narkoba sudah barang tentu memiliki kapital yang besar.

Dengan kapital atau modal yang besar jelaslah dia mampu menggerakkan "orang-orang"-nya untuk mencari kurir sebagai operator di lapangan.

Kurir ini cenderung mereka dapatkan dari mereka-mereka yang sedang "mengalami masalah dalam hidup terutama persoalan ekonomi" yang dengan sedikit rayuan saja, maka mereka akan mudah terlibat.

Meskipun terkadang mereka tidak kenal dengan jejaring yang membawanya.


"Selanjutnya, kita berharap pihak Polda Riau tidak perlu ragu dalam mengungkap kasus ini secara terang benderang. Karena ini bukan aib namun bukti keseriusan Kapolda Riau dalam upaya memberantas peredaran Narkoba di Riau ini. Tetap Semangat untuk Pak Kapolda Riau dan jajarannya untuk memberantas narkoba dari Bumi Melayu ini," pungkas Kasmanto


Satu Pelaku Oknum Polisi

Sebagaimana diberitakan, upaya aparat dari Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau dalam menggagalkan peredaran barang haram pada Jumat (23/10/2020) tadi malam, berjalan dramatis.

Pasalnya, petugas terlibat aksi kejar-kejaran dengan para pelaku yang berjumlah 2 orang.

Mereka mengendarai mobil, dan diketahui membawa narkotika jenis sabu sebanyak 16 kg.

Laju kendaraan mereka berhasil dihentikan di kawasan Jalan Soekarno Hatta, Pekanbaru.

Kejar-kejaran, berlangsung saat masih di Jalan Parit Indah.

Salah satu dari pelaku yang diamankan, diketahui adalah oknum polisi berpangkat Kompol.

Perwira menengah yang diduga terlibat jaringan pengedar narkoba ini, berdinas di Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau.

Ia juga terpaksa ditembak oleh petugas yang melakukan pengejaran.

Direktur Reserse Narkoba Polda Riau, Kombes Pol Victor Siagian, saat dikonfirmasi membenarkan perihal indikasi keterlibatan oknum anggota itu.

"Betul, diduga kurir," jelasnya, Sabtu (24/10/2020) pagi.

Dibeberkan jebolan Akpol 1998 ini lagi, sempat ada perlawanan dari pelaku sesaat hendak diamankan. Mereka berupaya melarikan diri.


"Jadi kita kejar, menghindari kendaraan (pelaku) itu menabrak kanan kiri, kendaraan lain dan masyarakat, jadi kita langsung tembak ke arah dalam mobil," tuturnya.

Kombes Victor memaparkan, pihaknya masih melakukan pendalaman pasca berhasil menangkap kedua pelaku dan menyita 16 kg sabu.

"Diduga mereka berdua ini kurir, menerima barang. Kita masih introgasi lebih lanjut nih.

Apa yang akan dia lakukan dengan barang itu, apakah diserahkan lagi atau bagaimana, ini sedang dalam pendalaman," ungkap Direktur Reserse Narkoba lagi.

Ditanyai identitas kedua pelaku, Kombes Victor memberikan jawabannya.

"Inisial H dan I. (Yang oknum) yang I," tandasnya.


Sumber: pekanbaru.tribunnews.com

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2020 spiritriau.com. All Rights Reserved.