Deputi Menneg PPN/Kepala Bappenas Bidang Kemaritiman dan SDA: Riau Harus Kembangkan Komoditas Selain Sawit
Kamis, 10 Sep 2015 08:43
"Selama ini ada kesan sektor pertanian hanya didominasi beberapa komoditas saja. Perusahaan perkebunan misalnya lebih tertarik pada kelapa sawit dan tebu. Hal ini terlihat dari tingginya pertumbuhan dua komoditas ini. Sementara komoditas lain pertumbuhannya stagnan," kata Endah, saat menjadi salah pemakalah dalam seminar bertema Paradigma Agribisnis dalam Mewujudkan Pembangunan Pertanian 2045 yang digelar Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau (UIR) di Kampus UIR, Rabu (9/9/2015).
Konsentrasi pada komoditas tertentu ini menurut Endah memiliki sisi kelemahan, yaitu rentan terhadap krisis ekonomi.Kalau ekonomi mengandalkan komoditas tunggal, mudah terpukul begitu ada krisis. Jadi kita harus siapkan keberagaman komoditas untuk menghindari hal itu,ujarnya
Begitu juga dengan di Riau katanya, komoditas unggulannya hanya kelapa sawit. Endah menyarankan Riau harus mengembangkan komoditas lainnya agar tidak rentan dengan krisis ekonomi.Provinsi Riau juga begitu, tidak mungkin bergantung komoditas sawit selamanya. Jadi juga harus mengembangkan komoditas pertanian yang lainnya,saran Ketua Pimpinan Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) ini.
Dalam mengembangkan sektor pertanian, Endah mengingatkan jangan sampai mengorbankan lingkungan. Menurutnya ketersediaan lahan sangat terbatas, oleh karenanya lingkungan harus menjadi pembatas agar tidak terjadi pencemaran.Masalah isu lingkungan harus menjadi pembatas di samping penegakan hukum dalam pengembangan sektor pertanian ini,tegasnya.
Sementara itu, menurut Rektor UIR Prof Dr Detri Karya, mengatakan, pengembangan sektor agribisnis tidak bisa hanya dipikirkan orang-orang disiplin ilmu pertanian saja,tapi harus dipikirkan bersama-sama, karena menyangkut aspek hukum, ekonomi dan sebagainya.
Ini menyangkut masalah bersama, karena paradigma agribisnis ini saling berhubungan,kata Detri dalam sambutannya saat membuka seminar tersebut.
Dia berharap, melalui seminar ini, bisa ditemukan suatu solusi pemecahan dalam mengembangkan sektor pertanian.Apa yang diadakan hari ini, hendaknya dapat menjadi suatu model atau solusi pemecahan pencapaian paradigma agribisnis untuk mengangkat ekonomi masyarakat,harapnya.
Seminar digelar dalam rangka Dies Natalis ke-35 UIR. Bersamaan dengan kegiatan seminar tersebut, juga dilakukan pengukuhan kepengurusan Perhimpunan Ekonomi Pertanian (Perhepi) Cabang Riau periode 2015-2018. Musda Perhepi Cabang Riau Maret lalu memilih Djaimi Bakce sebagai Ketua Perhepi Cabang Riau.(grc)
"Selama ini ada kesan sektor
pertanian hanya didominasi beberapa komoditas saja. Perusahaan
perkebunan misalnya lebih tertarik pada kelapa sawit dan tebu. Hal ini
terlihat dari tingginya pertumbuhan dua komoditas ini. Sementara
komoditas lain pertumbuhannya stagnan," kata Endah, saat menjadi salah
pemakalah dalam seminar bertema “Paradigma Agribisnis dalam Mewujudkan
Pembangunan Pertanian 2045†yang digelar Fakultas Pertanian
Universitas Islam Riau (UIR) di Kampus UIR, Rabu (9/9/2015).
Konsentrasi
pada komoditas tertentu ini menurut Endah memiliki sisi kelemahan,
yaitu rentan terhadap krisis ekonomi.“Kalau ekonomi mengandalkan
komoditas tunggal, mudah terpukul begitu ada krisis. Jadi kita harus
siapkan keberagaman komoditas untuk menghindari hal itu,†ujarnya
Begitu
juga dengan di Riau katanya, komoditas unggulannya hanya kelapa sawit.
Endah menyarankan Riau harus mengembangkan komoditas lainnya agar tidak
rentan dengan krisis ekonomi. “Provinsi Riau juga begitu, tidak
mungkin bergantung komoditas sawit selamanya. Jadi juga harus
mengembangkan komoditas pertanian yang lainnya,†saran Ketua Pimpinan
Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) ini.
Dalam
mengembangkan sektor pertanian, Endah mengingatkan jangan sampai
mengorbankan lingkungan. Menurutnya ketersediaan lahan sangat terbatas,
oleh karenanya lingkungan harus menjadi pembatas agar tidak terjadi
pencemaran. “Masalah isu lingkungan harus menjadi pembatas di samping
penegakan hukum dalam pengembangan sektor pertanian ini,†tegasnya.
Sementara
itu, menurut Rektor UIR Prof Dr Detri Karya, mengatakan, pengembangan
sektor agribisnis tidak bisa hanya dipikirkan orang-orang disiplin ilmu
pertanian saja, tapi harus dipikirkan bersama-sama, karena menyangkut
aspek hukum, ekonomi dan sebagainya.
“Ini menyangkut
masalah bersama, karena paradigma agribisnis ini saling berhubungan,â€
kata Detri dalam sambutannya saat membuka seminar tersebut.
Dia
berharap, melalui seminar ini, bisa ditemukan suatu solusi pemecahan
dalam mengembangkan sektor pertanian.“Apa yang diadakan hari ini,
hendaknya dapat menjadi suatu model atau solusi pemecahan pencapaian
paradigma agribisnis untuk mengangkat ekonomi masyarakat,†harapnya.
Seminar
digelar dalam rangka Dies Natalis ke-35 UIR. Bersamaan dengan kegiatan
seminar tersebut, juga dilakukan pengukuhan kepengurusan Perhimpunan
Ekonomi Pertanian (Perhepi) Cabang Riau periode 2015-2018. Musda Perhepi
Cabang Riau Maret lalu memilih Djaimi Bakce sebagai Ketua Perhepi
Cabang Riau.
4 Cara Bikin Tummy Time Jadi Momen Seru, Bukan Drama!
EMPAT cara bikin tummy time jadi momen seru akan diulas Okezone dalam artikel ini. Tummy time atau sesi melatih bayi tengkurap sering kali menjadi momen yang menantang bagi or
Wisatawan Indonesia Mulai Lirik Australia, Tren Sportcation Ikut Meningkat
JAKARTA " Minat wisatawan Indonesia untuk berkunjung ke Australia menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan laporan Consumer Demand Project 2025 dari Tou
Penelitian Ungkap Risiko Kehilangan Massa Otot pada Penggunaan Obat Diet
JAKARTA " Studi terbaru menyoroti adanya perbedaan dampak dari penggunaan obat penurun berat badan (diet) terhadap kondisi tubuh, khususnya terkait massa otot. Temuan ini menunjukkan bahwa penu
Mitos atau Fakta: Tubuh Terkilir dan Bengkak Gara-Gara Cedera Sebaiknya Langsung Diurut?
BANYAK orang masih percaya bahwa cedera seperti terkilir atau bengkak sebaiknya langsung diurut agar cepat sembuh. Praktik ini sudah lama menjadi kebiasaan turun-temurun di ma
Pekerja Waspada! Kemenkes Ungkap Demam Berdarah Dengue Bisa Terjadi di Tempat Kerja
JAKARTA - Demam Berdarah Dengue (DBD) sering kali identik dengan lingkungan rumah atau permukiman padat. Padahal, risiko penularan penyakit yang disebabkan virus dengue ini juga dapat terjadi di