Kamis, 19 September 2019 | 16:35:41
sosial

Orang-orang Ini Telah Bertaruh Nyawa Meneroka Belantara Ibu Kota Baru

detik.com

Sebarkan:
detik.com
Jakarta - Kelak bila tempat ini menjadi ibu kota, jasa orang-orang renta ini perlu selalu diingat. Puluhan tahun lalu, mereka bertaruh nyawa membabat alas, meneroka belantara meski malaria maut mengancam jiwa. Bahkan mereka sempat merasa dibuang oleh negara.

Ini adalah kisah perjuangan para transmigran di Kabupaten Penajam Paser Utara pada masa lalu yang begitu berat. Kabupaten yang akan jadi Ibu kota baru itu dulunya hanyalah rawa-rawa dan hutan belantara.

Pada Selasa (10/9/2019) Tim Jelajah Ibu Kota Baru detikcom mengunjungi Desa Sidorejo, Kecamatan Penajam Paser Utara untuk mendapatkan cerita langsung dari transmigran yang ikut program transmigrasi gelombang pertama di Kaltim. Menurut keterangan Kepala Desa Sidorejo, Muhaji, Sidorejo merupakan desa transmigrasi pertama di Kaltim sejak tahun 1957, saat Indonesia masih dipimpin oleh Presiden Sukarno.

Sesampainya di Sidorejo, kami menemui Slamet, transmigran asal Solo yang turut ikut program transmigrasi Presiden Soekarno itu. Kami menemuinya saat ia sedang mengurus ladangnya. Tanda-tanda usia senja begitu nampak pada wajahnya. Maklum, usia Slamet sudah 67 tahun.

Slamet bercerita, dirinya yang masih berusia enam tahun ketika diajak orang tuanya pindah ke Kalimantan Timur melalui program transmigrasi tahun 1957. Slamet berangkat dari Tanjung Priok, Jakarta menuju Pelabuhan Balikpapan, Kalimantan Timur, menggunakan kapal layar. Pasalnya, saat itu kapal mesin belum banyak digunakan.

Melalui program transmigrasi ini, orang tuanya mendapatkan rumah dan lahan garapan. Lahan inilah yang nantinya akan jadi modal mereka untuk bertani.

"Orang tua dari Jawa langsung mau. Dijanjikan dikasih rumah satu, tanah pekarangan seperempat, lahan satu hektare," tutur Slamet.

Namun, rumah yang dijanjikan oleh pemerintah kala itu ternyata kondisinya masih sangat seadanya. Dinding rumahnya terbuat dari kayu, sedangkan atapnya dari daun nipah. Rumah tersebut berada di tengah hutan belantara. Selama setahun itu, Slamet dan keluarganya mendapat jatah sembako dari pemerintah.

"Rumah, masih kayu bulat mas. Daunnya, daun nipah. Tak ada genting. Dijamin kurang lebih setahun, diberi jatah beras dan ikan asin. Sudah dilepas, bapak saya usaha sendiri. Waktu itu hutan ditebang saja, kayunya belum dikumpulkan," katanya sembari mengingatkan masa berat pada tahun-tahun itu.

Slamet masih ingat betul, makanan pokok yang mereka terima adalah bulgur. Menurut penuturannya, bulgur ini punya bau menyengat. Slamet menyebutnya sebagai 'beras bulgur'. "Beras bulgur dulu itu makanan kami. Bau sekali beras itu. Meskipun dicuci berkali-kali, baunya masih ada," tambahnya.

Dia juga mengatakan kondisi Desa Sidorejo pada masa itu masih berbentuk rawa-rawa. Sedangkan tanahnya masih berjenis gambut. Jika tanah itu diinjak, maka bagian tanah lain kadang masih bergoyang-goyang. Ular, beruang, dan binatang buas lainnya masih banyak ditemukan saat itu.

Tak hanya kendala dari lingkungan saja. Slamet juga ingat bahwa desanya pernah mendapat serangan epidemi malaria tropika. Berdasarkan kesaksiannya, orang yang terkena penyakit itu biasanya akan merasakan sakit di sore hari, dan paginya akan meninggal dunia.

"Banyak kendalanya. Salah satunya ya penyakit. Sore-sore sakit, paginya mati. Pagebluk itu bahasa Jawa-nya. Banyak yang nggak betah karena itu, akhirnya ada yang ke Balikpapan atau pulau ke Jawa. Malaria tropika dan lain sebagainya. Adaptasinya saat itu masih susah. Akses kemana-mana susah. Mobil itu masih mobil proyek," kenangnya.

Slamet pernah menjadi korban malaria tropika ini. Sampai-sampai ia harus berganti nama, karena pada waktu itu orang tuanya percaya bahwa penyakit tersebut adalah kesialan yang dibawa oleh nama. Sebelumnya, Slamet bernama Marno.

Lantas, ketika mendengar kabar soal pemindahan Ibu kota ke Penajam Paser Utara, Slamet merasa bersyukur. Semua perjuangannya kala menjadi transmigran pertama itu seolah terbayar.

"Kalau pindah ibu kota. Alhamdulillah, semoga bisa nikmati. Walaupun semestinya yang menikmati itu anak cucu. Kalau pandangan saya sangat setuju," ujarnya.

Selain Slamet, Tim Jelajah Ibu Kota detikcom juga berkunjung ke kediaman Suwarjo yang merupakan transmigran tertua di desa Sidorejo. Suwarjo sendiri adalah transmigran asal Blora, Jateng. Namun sayang, Suwarjo sudah sulit untuk diajak berkomunikasi karena faktor usia. Menurut putrinya, Ismiah, Suwarjo sudah berumur 100 tahun lebih.

Ismiah menuturkan, kegiatan sehari-hari ayahnya kini hanya berdiam diri saja di teras rumah. Namun, terkadang Suwarjo juga masih ikut salat berjamaah di masjid terdekat.

Meskipun begitu, kami masih berusaha menanyai Suwarjo. Dia hanya menjawab 'iya' dan menganggukkan kepala. Suwarjo membenarkan, bahwa kala itu Desa Sidorejo adalah hutan belantara dan rawa-rawa.

Merasa Terbuang, Hingga Hujan Air Mata

Di hari selanjutnya, pada Rabu (11/9) kami berkunjung ke Desa Semoi Dua, Kecamatan Sepaku yang juga merupakan desa transmigran era Suharto. Program transmigrasi di Desa ini dimulai sejak tahun 1970-an. Desa ini pulalah yang terindikasi kuat sebagai titik Ibu kota baru.

Kami bertemu dengan Mas'ud yang merupakan generasi kedua transmigran di Desa Semoi Dua. Kebetulan, Mas'ud juga menjabat sebagai kepala dusun di dusun I. Cerita Mas'ud tak jauh berbeda dengan cerita Slamet, sama-sama berisi tentang kemalangan hidup para transmigran. Mas'ud adalah transmigran asal Tuban, Jawa Timur.

Menurut penuturan Mas'ud, pada saat itu akses jalan di Semoi juga masih sangat sulit. Dia dan keluarganya bahkan harus berjalan berkilo-kilo meter terlebih dahulu jika ingin pergi ke Balikpapan.

"Jadi kami transmigrasi tahun itu, tahun 1977, saya lahir 1971. Umur 6 tahun. Saya sendiri dari Tuban. Awalnya Semoi Dua dulu itu penuh penderitaan. Kalau kita mau ke balikpapan itu, kita mesti jalan ke KM 38 dulu, kita mesti jalan kaki sekitar 20 kilometer," tuturnya mengenang masa kepahitan kala itu.

Mas'ud mengatakan, karena akses jalan yang masih sangat sulit. Lingkungan Desa Semoi Dua juga masih jalan berbukit dan hutan belantara. Di sana, pohon-pohon besar seperti pohon ulin masih banyak ditemui.

Selain itu, kondisi ekonomi masyarakat transmigran di Semoi Dua bisa dibilang masih terpuruk. Bahkan, meskipun mereka berhasil memanen hasil pertanian dan kebun mereka, barangnya tidak laku lantaran sulit untuk menjualnya.

"Tanaman itu hasilnya melimpah, tapi pemasarannya susah. Satu biji, singkong itu bisa sampai lima kilo. Tapi gak laku. Kita juga sudah gak bisa makan singkong," ungkapnya.

Akibat kondisi yang begitu sulit ini, banyak transmigran yang merantau ke Balikpapan atau kembali ke kampung halamannya. Tetapi saat itu, keluarga Mas'ud memilih untuk tinggal karena terpaksa.

Dia juga bercerita, saat melakukan perjalanan untuk mencapai rumah kayu yang disediakan oleh pemerintah, para orang tua nampak menangis. Bahkan, orang tuanya sendiri merasa seperti orang buangan.

"Istilahnya dulu itu hujan air mata. Sambil berjalan itu rata-rata menangis orang tua itu. Saya masih anak-anak waktu itu, jadi enjoy aja, melihat sungai, melihat ikan-ikan banyak. Kalau orang tua menangis, karena dia merasa terbuang," katanya.

Kesulitan tak hanya sampai di situ. Ketika mencari rumahnya, Mas'ud menjelaskan bahwa orang-orang harus melempar batu terlebih dahulu, untuk mendengar bunyi gentingnya yang terbuat dari seng.

Seperti halnya Slamet, Mas'ud menyebut di Semoi Dua pun pernah ada pagebluk 'sore sakit, pagi mati' karena epidemi malaria tropika. Bahkan, dia sempat tak bisa berjalan selama tiga bulan karena serangan ini.

"Termasuk saya. Pernah tiga bulan ndak bisa jalan. Malaria tropika ini di Kalimantan kayak penyakit bawaan. Jadi, kalau belum kena malaria tropika, belum bisa dinamakan orang kalimantan," imbuhnya.

Meskipun begitu, Mas'ud menjelaskan pada satu tahun pertama program trasmigrasi pemerintah masih memberikan bantuan beras, ikan asin, minyak goreng, minyak tanah sama sabun jari dua.

Hal senada pun dituturkan oleh warga Semoi Dua lainnya. Kami mewawancarai Karsimah, generasi pertama transmigran pertama yang sudah berusia 70 tahun. Karsimah juga berasal dari Tuban, Jawa Timur.

Karsimah mengatakan bahwa saat itu kondisi Semoi Dua masih berbentuk hutan belantara. Untuk menempuh perjalanan keluar Semoi Dua, dia bahkan sampai menginap di hutan hanya bekal selendang sebagai alas tidurnya.

"Sedih sekali. Jam 12 malam masih di jalan. Selendang pernah saya pakai untuk alas tidur sama anak-anak," kata Karsimah dalam bahasa Jawa.

Orang-orang Ini Telah Bertaruh Nyawa Meneroka Belantara Ibu Kota BaruFoto: Karsimah (Muhammad Abdurrosyid/detikcom)

Sedangkan terkait serangan malaria tropika, Karsimah mengaku dirinya tidak ikut menjadi korban. Saat itu, justru dia yang ikut menolong para transmigran yang terkena penyakit malaria tropika.

"Kalau malaria itu yang di hutan dalam sekali. Kalau sudah ada yang kena, mereka ke sini rumah saya. Numpang mandi dan makan. Yang mati kemudian dipikul dengan sarung. Soalnya belum ada mantri kesehatan dan lain-lain," lanjutnya.

Karsimah mengaku ikut program transmigrasi ini karena ajakan sanak saudaranya. Program tersebut seperti menjanjikan masa depan yang gemilang pada kala itu.

Ketika mendengar kabar soal Ibu kota yang akan dipindahkan ke PPU, Karyimah merasa gembira. Dia merasa pemindahan Ibu kota ini merupakan harga yang pantas atas semua perjuangannya kala menjadi warga transmigran pada tahun-tahun yang berat itu.

"Alhamdulillah, bisa merasakan rejane (kemajuan) zaman. Semoga bisa dinikmati cucu-cucuku," pungkasnya.

 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Kamis, 17 Oktober 2019 | 19:48:04

Bedah RUU KUHP FJPI dan UIR, Hak Perempuan Terlindungi

PEKANBARU - Seninar tentang Rancangan Undang-undang Kitab Hukum Pidana (KUHP) yang ditaja Forum Jurnalis Perempuan Indonesia  (FJPI) menggandeng Universitas Islam Riau (UIR), Kamis (17/10/2019) berjalan su
Kamis, 17 Oktober 2019 | 19:38:51

Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Raider 514/SY Wujudkan Lingkungan Asri di Gereja Kampung Karubate

PAPUA- Dalam rangka mewujudkan lingkungan yang asri dan sehat, personel Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Raider 514/SY melaksanakan pembersihan bersama warga di Gereja GIDI Kampung Karubate, Distrik Muara, Kabupaten
Kamis, 17 Oktober 2019 | 19:35:39

Panglima TNI: Marwah dan Nama Baik NKRI Dipertaruhkan Dalam Pelantikan Presiden RI

JAKARTA- Marwah dan nama baik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dipertaruhkan dalam pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI. Dengan demikian, seluruh komponen bangsa harus turut serta dalam menjamin k
Kamis, 17 Oktober 2019 | 15:37:21

Pemerintahan, Tokoh Masyarakat, Serta Ormas se-Kecamatan Pinggir Dukung Pelantikan Presiden

Pinggir - Jelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang ke-7 pada tanggal 2O Oktober 2019 mendatang, seluruh jajaran Pemerintan yang ada di wilayah Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis
 
Berita Lainnya
Kamis, 17 Oktober 2019 | 19:48:04

Bedah RUU KUHP FJPI dan UIR, Hak Perempuan Terlindungi

PEKANBARU - Seninar tentang Rancangan Undang-undang Kitab Hukum Pidana (KUHP) yang ditaja Forum Jurnalis Perempuan Indonesia  (FJPI) menggandeng Universitas Islam Riau (UIR), Kamis (17/10/2019) berjalan su
 
Kamis, 17 Oktober 2019 | 15:20:36

Koramil 05/Sail Melaksanakan Gotong Royong di Rumah Ibadah Vihara Wira Sakti

PEKANBARU- Danpos Tenayan Raya Peltu F. Siburian dan Babinsa Kelurahan Bambu Kuning beserta personil  Koramil 05/Sail Kodim 0301/Pekanbaru  melaksanakan kegiatan Humanis gotong-royong di Vihara Wira S
 
Kamis, 17 Oktober 2019 | 15:10:26

Para Ustadz dan Tokoh di Simpang Kanan Ramai - Ramai Dukung Pelantikan Presiden

ROKANHILIR - Menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2019 nanti, para Tokoh Agama, Pemuda dan Masyarakat Kecamatan Simpang Kanan memberikan dukungan.Tidak hanya dukun
 
Kamis, 17 Oktober 2019 | 12:35:00

Tolak Unjuk Rasa Anarkis, Tokoh Agama di Rimba Melintang Inginkan Pelantikan Presiden Damai

RIMBAMELINTANG - Masyarakat Kecamatan Rimba Melintang secara terang terangan menolak segala tindakan kekerasan, baik Radikalisme, Terorisme dan unjuk rasa anarkis.Demikian penolakan itu disampaikan para jamaah
 
Kamis, 17 Oktober 2019 | 11:56:14

Dai di Kecamatan Pujud Ini Tolak Unjuk Rasa dan Dukung Pelantikan Presiden

ROKANHILIR - Tokoh masyarakat yang juga merupakan Dai di Kecamatan Pujud, Sarifullah Rangkuti mengajak seluruh masyarakat untuk menolak unjuk rasa.Hal itu disampaikan Tokoh Agama ini mengingat waktu pelantikan
 
Selasa, 15 Oktober 2019 | 18:37:07

5 Karya Budaya Rohul Ditetapkan Sebagai WBTB Indonesia

ROKAN HULU -.Dua tahun terakhir, sedikitnya 5 (lima) karya budaya di Kabupaten Rokan Hulu mendapat pengakuan dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Menteri Pendidikan dan Kebudaya
 
Selasa, 15 Oktober 2019 | 16:29:26

Komunitas Foto Rokan Bantu Keluarga Miskin Warga Rimba Melintang

ROKAN HILIR-Komunitas Foto Rokan  (FR) kali keduanya menyisihkan sebagian rezekinya untuk dibagikan kepada warga kurang mampu. Apa yang dilakukan pencinta seni Fotografi ini mendapat dukungan dari seluruh
 
Selasa, 15 Oktober 2019 | 11:52:57

Tujuh Kecamatan Di Rohul Dapat BSPS Dari Kementrian PUPR RI

ROKAN HULU - Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu tahun ini kembali mendapatkan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia.   
 
Senin, 14 Oktober 2019 | 19:32:25

Wabup Said Hasyim Lantik 4 Kades di Kec. Rangsang Pesisir dan Hadiri Pelantikan Pengurus LAM

MERANTI - Wakil Bupati Kepulauan Meranti H. Said Hasyim melantik  4 Kepala Desa di kecamatan Rangsang Pesisir sekaligus menghadiri acara Pelantikan Pengurus LAM kecamatan Rangsang Pesisir, bertempat di Hal
 
Senin, 14 Oktober 2019 | 19:09:16

Rutan Siak Akan di Rehap Tahun ini Dianggarkan Senilai Rp 6,6 Milyar

SIAK - Deputi Bidang dan Penyelesaian Sanggah LKPP Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) RI Ikak G Patriastomo di dampingi Asisten Admintrasi Umum Jamaluddin, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Set
 
Jumat, 11 Oktober 2019 | 16:30:29

Pemkab Inhu Taja Kegiatan Sunat Massal, ini Jadwalnya

INHU - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indragiri Hulu (Inhu) melalui Bagian Kesra Setdakab Inhu telah menginformasikan jadwal kegiatan sunat massal. Jadwal akan dilaksanakan, yaitu pada tanggal 12 Oktober, tepatn
 
Kamis, 10 Oktober 2019 | 19:24:47

Surung Pasaribu Sebut Lapas Pasirpangaraian Humanis dan Religius

  ROKAN HULU -  Kepala Devisi Permasyarakatan (Kadiv Pas) Kementerian Hukum dan Ham Wilayah Riau  Surung Pasaribu BC Ip, SH, M. Hum, Ketua Pembina  Pipas Ibu Diah, Ketua Pangguyuban P
 
Kamis, 10 Oktober 2019 | 19:15:22

LP Pasirpangaraian Adakan Acara Perpisahan Ketua Pangguyuban Pipaswil Riau

ROKAN HULU - Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II B Pasirpengaraian, Kabupaten Rokan Hulu laksanakan acara Pertemuan & Perpisahan Ketua Pangguyuban Ibu-ibu Permasyarakatan (Pipas) Wilayah Riau Kamis, (10
 
Kamis, 10 Oktober 2019 | 00:03:25

BAZNAS Kab Siak Distribusikan Zakat Tahap III 2019 Sejumlah 4,7 M

SIAK - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) kab Siak kembali mendistribusiakn zakat tahap III tahun 2019 senilai 4,7 Milyar lebih.Penyerahan zakat tahap III diserahkan  secara simbolis oleh Bupati Siak Drs H
 
Rabu, 9 Oktober 2019 | 17:59:39

Lestarikan Warisan Budaya, Dekranasda Siak Gelar Festival Batik

SIAK - Hari Batik Nasional yang dirayakan setiap tanggal 2 Oktober dan Hari Jadi Kabupaten Siak ke 20 menjadi momen istimewa bagi pelajar SMA dan Taman Kanak - kanan (TK) Siak. Kegiatan ini yang berlangsun
 
 
 
Terpopuler
 
 
 
 
Top