iklan Situs
 
Kamis, 14 September 2017 | 12:23:39
OPINI

Ketika Akreditasi Membatasi

Oleh : Hardianto, S.Pd., M.Pd

Sebarkan:
Istimewa
Hardianto, S.Pd., M.Pd
Beberapa waktu yang lalu di grup Media Sosial (Medsos) dosen Indonesia cukup ramai dibahas tentang akreditasi program studi (prodi) dan kaitannya dengan melamar pekerjaan.

Hampir semua instansi penerima tenaga kerja memiliki persyaratan bahwa seorang mahasiswa yang lulus dari sebuah program studi dengan akreditasi C pada saat lulus tidak bisa melamar pekerjaan, walaupun saat ini program studi tersebut telah memperoleh akreditasi B atau A.

Fenomena ini menjadikan akreditasi menutup peluang seseorang untuk mendapatkan pekerjaan.

Dalam tulisan ini penulis tidak akan membahas apakah akreditasi berlaku berdasarkan tahun terbitnya SK akreditasi atau tidak, tetapi lebih kepada kaitan akreditasi dengan penerimaan pegawai/karyawan baru baik di instansi pemerintah maupun swasta.

Saat ini hampir semua instansi mensyaratkan calon tenaga kerja berasal dari prodi dengan akreditasi minimal B. Dengan kata lain lulusan dari prodi dengan prediket akreditasi C tidak bisa ikut mendaftar/ melamar pekerjaan. 
Seperti diketahui bahwa hampir semua siswa yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bercita-cita agar mudah untuk memperoleh pekerjaan.
Berdasarkan informasi dari Suara rakyat.com, saat ini jumlah prodi pada Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta adalah 26.672 prodi. Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 5.000-an prodi belum terakreditasi.

Sementara prodi dengan akreditasi A baru sebanyak 2.512 (9,4%) prodi. Prodi dengan akreditasi B sebanyak 9.922 prodi, sedangkan prodi dengan akreditasi C sebanyak 7.820 prodi. Apabila seorang sarjana baru bisa melamar pekerjaan dengan memiliki akreditasi minimal B akan sangat banyak para sarjana yang tidak bisa melamar pekerjaan.

Apabila untuk melamar pekerjaan saja tidak bisa, tentu saja ijazah yang mereka peroleh akan sia-sia saja. Jika satu prodi tersebut (prodi belum terakreditasi dan akreditasi C) dalam setahun meluluskan 20 orang, maka akan ada 256.400 orang sarjana tidak bisa melamar pekerjaan dalam setahun disebabkan karena akreditasi prodi.

Pertanyaan sederhana adalah untuk apa program studi tersebut dibuka (memperoleh izin operasional), apabila peluang untuk melamar pekerjaan tidak ada. Prodi yang baru memperoleh izin operasional biasanya mendapatkan peringkat akreditasi C.

Sangat tragis rasanya peringkat akreditasi tersebut dijadikan acuan sebuah institusi atau lembaga untuk menerima karyawan atau pegawai baru. Sedangkan pada dasarnya setelah memperoleh izin, prodi tersebut dianggap layak dan mampu melaksanakan kegiatan perkuliahan dengan baik (memenuhi standar yang ada).

Berdasarkan fenomena tersebut alangkah bijak apabila persyaratan akreditasi prodi tidak lagi menjadi salah satu syarat bagi lulusan perguruan tinggi untuk melamar pekerjaan. Apabila tidak ada aturan ataupun himbauan yang mengaturnya, kita juga tidak bisa menyalahkan instansi penerima tenaga kerja, karena mereka tentunya ingin memperoleh pegawai/karyawan yang bermutu yang dapat dilihat dari akreditasi program studi calon pegawai/karyawan tersebut.

Pada dasarnya tidak ada jaminan bahwa lulusan prodi akreditasi C memiliki integritas, skill ataupun kemampuan kerja yang lebih rendah dari prodi dengan akreditasi B atau A.

Penulis melihat bahwa regulasi penerimaan pegawai baru harus diubah. Harus ada ketegasan bahwa setiap tamatan perguruan tinggi bisa memperoleh kesempatan untuk melamar pekerjaan.

Indeks Prestasi Komulatif (IPK) bisa dijadikan dasar untuk melamar pekerjaan. Sementara itu, untuk formasi tertentu bisa saja lulusan dengan prediket cumlaude yang lebih diprioritaskan.

Ketika mereka tidak diterima bekerja (gagal) setelah mengikuti serangkaian tes, akan jauh lebih melegakan dari pada mereka sama sekali tidak bisa mendaftar karena terkendala masalah akreditasi. ***

Penulis adalah Dosen Universitas Pasir Pengaraian
 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Senin, 20 November 2017 | 08:37:37

Diduga Rusak Aset Perusahaan, Dua Pria ini Diamankan Polsek Batu Hampar

UJUNGTANJUNG- JS (18) dan RM  (20), akhirnya harus diamankan pihak Polsek Batu Hampar. Kedua pelaku ini diamankan  atas pengaduan pihak PT Sindora Seraya yang berada di Kepenghuluan Bantaian Kec
Minggu, 12 November 2017 | 10:38:49

Kepahlawanan dan Bela Negara

DALAM memperingati Hari Pahlawan 10 November pada tahun ini, sudah saatnya kembali merenungkan ba­gai­mana peranan strategis mahasiswa se­ba­gai kelompok pemuda terdidik untuk mere­fleksika
Minggu, 12 November 2017 | 09:50:42

Pahlawan Daerah, Solusi Ketatnya Seleksi Pahlawan Nasional

SETIAP memperingati Hari Pahlawan, Pre­siden Repubik Indonesia meng­umum­kan penganugerahan gelar pahla­wan ke­pada tokoh-tokoh yang dipandang layak me­nerimanya. Peng­anugerahan ini dila­k
Minggu, 12 November 2017 | 09:39:49

Ayo, Jadilah Pahlawan Lingkungan!

MENYUSUL wafatnya salah se­orang tokoh besar negeri ini beberapa wak­tu silam, sementara kalangan lang­sung mengusulkan kepada pemerintah agar sang tokoh yang telah wafat ter­sebut diberi gelar pahlawan n
 
Berita Lainnya
Minggu, 12 November 2017 | 10:38:49

Kepahlawanan dan Bela Negara

DALAM memperingati Hari Pahlawan 10 November pada tahun ini, sudah saatnya kembali merenungkan ba­gai­mana peranan strategis mahasiswa se­ba­gai kelompok pemuda terdidik untuk mere­fleksika
 
Minggu, 12 November 2017 | 09:50:42

Pahlawan Daerah, Solusi Ketatnya Seleksi Pahlawan Nasional

SETIAP memperingati Hari Pahlawan, Pre­siden Repubik Indonesia meng­umum­kan penganugerahan gelar pahla­wan ke­pada tokoh-tokoh yang dipandang layak me­nerimanya. Peng­anugerahan ini dila­k
 
Minggu, 12 November 2017 | 09:39:49

Ayo, Jadilah Pahlawan Lingkungan!

MENYUSUL wafatnya salah se­orang tokoh besar negeri ini beberapa wak­tu silam, sementara kalangan lang­sung mengusulkan kepada pemerintah agar sang tokoh yang telah wafat ter­sebut diberi gelar pahlawan n
 
Minggu, 29 Oktober 2017 | 10:49:19

Masih Pentingkah Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia?

Di Indonesia, bulan Oktober dikenal se­­­bagai bulan bahasa. Bahasa yang di­mak­­­sud tentu saja adalah bahasa per­sa­tuan negara kita, bahasa Indonesia. Satu per­­tanyaan yang langsung melintas di ke­­pa
 
Minggu, 29 Oktober 2017 | 10:32:28

Pemuda dan Masa Depan Indonesia

Salah satu kekuatan terbesar bangsa ini dalam mem­pertahankan kemerdekaan adalah pemuda. Tepat sudah 85 tahun yang lalu pemuda Indonesia pada masa itu berkumpul dengan satu spirit untuk menunaikan kewajib
 
Minggu, 29 Oktober 2017 | 10:09:32

Pemuda dan Alternatif

Sebelum dimulai, mari merayakan hari Sum­pah Pemuda ini dengan baik. Ya, se­lalu saja menarik membincangkan pe­muda. Karena itu, di komunitas kami, TWF (Toba Writers Forum), kami lebih mengutamakan para p
 
Minggu, 29 Oktober 2017 | 09:52:13

Surat Kabar Indonesia di Zaman Penjajahan

Masyarakat Indonesia sejak 273 tahun silam sudah mengenal surat kabar (s.k). Demikian tulisan John Tebbel, seorang peraih anugerah Pulitzer 1972. John Tebbel adalah pakar jurnalistik yang menulis buku "Ka
 
Jumat, 20 Oktober 2017 | 13:33:08

3 Tahun Kepemimpinan Jokowi - JK, Menagih Nawacita di Bidang Pendidikan

Sebelum melenggang menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI, Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla (Jokowi-JK) mengungkapkan visi misinya jika terpilih menjadi pemimpin negara. Selama berlangsungnya masa kampanye,
 
Kamis, 19 Oktober 2017 | 07:55:05

Dilema Hukuman Rehabilitasi Narkoba

Seorang terpidana kasus narkoba, mengajukan uji materi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Pemohon merasa dirugikan dengan berlakunya Pasal 112, Pasal 114, serta Pasal 127 UU Narkotika, yang me
 
Rabu, 18 Oktober 2017 | 21:25:36

Fokuslah Pada Isu-Isu Besar, Jangan Terkecoh Dengan Isu Kecil

Strategi perang Cina kuno dalam buku memancing Harimau turun gunung, 36 Strategi Perang Cina Kuno GAO YUAN yakni 'Mengecoh Langit Menyeberangi Lautan' adalah kata yg tepat untuk menggambarkan situasi d
 
Minggu, 15 Oktober 2017 | 10:53:58

Jubah Hakim Makin Kusam

KPK menangkap Ketua Penga­dilan Ting­gi Sulawesi Utara Sudiwardono di Ja­karta, Sabtu (7/10). SDW di­duga me­ne­rima suap senilai US$64 ribu dari ang­gota DPR RI dari Fraksi Golkar AAM. Setelah menjalani
 
Minggu, 15 Oktober 2017 | 10:40:13

Ihwal 5.000 Pucuk Senjata dan Pilpres 2019

Beberapa waktu yang lalu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan ada institusi non-militer yang berencana mendatangkan 5.000 pucuk senjata secara ilegal ke Indonesia dengan mencatut nama Preside
 
Minggu, 15 Oktober 2017 | 10:19:24

Hari Surat dan Teknologi Komunikasi

Teknologi komunikasi disambut semua kalangan, dari anak anak hingga orang tua. Namun, ternyata pengguna (user) teknologi komunikasi itu yang paling banyak ada­lah remaja. Fak­tanya remaja dan pelajar paha
 
Minggu, 15 Oktober 2017 | 09:54:49

Wisata Indah Bebas Sampah

Salah satu kebiasaan buruk ma­sya­ra­kat Indonesia adalah ge­mar mem­buang sampah disembarang tempat. Mung­kin selama ini, kita sering melihat orang-orang di sekitar kita dengan seenak udel­nya
 
Kamis, 12 Oktober 2017 | 20:39:07

Pelajaran Penting Dari Kualifikasi Piala Dunia Tahun 2018

Babak kualifikasi Piala Dunia 2018 di berbagai zona telah berakhir. Selain tuan rumah Rusia, dari zona Eropa telah diketahui 9 kontestan lain yaitu Portugal, Perancis, Inggris, Spanyol, Jerman, Serbia, Islandia
 
 
 
Terpopuler
 
 
 
 
Top