iklan Situs
 
Minggu, 11 Juni 2017 | 09:52:20
Opini

Napi Kabur dan Lusuhnya Hukum

Oleh: Fransisca Ayu K

Sebarkan:
internet
Ilustrasi
Sebanyak 17 tahanan dan narapidana rumah tahanan (Rutan) Klas I Palembang kabur, Jumat (26/5) pukul 01.45 Wib. Mereka keluar penjara dengan menjebol teralis penjara sete­lah dipotong pakai gergaji. Petugas rutan awalnya menge­cek blok E nomor 9. Namun, mereka kaget karena 17 napi sedang memanjat tembok. Sembilan napi ditangkap kembali dan sisanya berhasil kabur. Penghuni Blok E 9 itu adalah terpidana penyalahgunaan narkoba dengan beragam masa hukuman. Konon ide untuk kabur sudah mereka rancang seminggu sebelumnya dengan memotong teralis besi kamar mandi. Diduga ada semacam ketidakpuasan para napi terhadap kondisi rutan yang sempit dan dianggap tidak manusiawi. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Su­dirman D. Hury mengatakan lembaga pemasyarakatan (lapas) tersebut saat ini dihuni 1600 orang padahal lapas hanya mampu menampung penghuni tidak lebih dari 750 orang.

Insiden ini menjadi tamparan untuk kesekian kali buat institusi hukum khususnya buat lapas kita. Padahal awal bulan Mei, pe­ristiwa serupa juga terjadi di Riau. 488 penghuni lapas kabur dari rutan Kelas IIB Pekanbaru, Riau, tepat pada saat shalat (Jumat, 5/5). Itu merupakan insiden terbesar se­panjang sejarah Indonesia. Gerombolan napi tersebut berham­bur­an ke luar dengan memanfaatkan suasana rusuh yang didu­ga merupakan akumulasi kekecewaan yang telah disampaikan para tahanan dengan unjuk rasa. Tahanan berteriak-teriak keluar dari kamar II B hingga mendobrak salah satu pintunya, dan keluar seperti anak ayam yang terlepas dari kandang. Sa­ma seperti di Pa­lembang, diduga tahanan kabur karena rutan kelebihan kapasitas. Rutan Pekanbaru hanya memiliki 361 ruang namun dihuni 1.800 tahanan.

'Pelayan napi'

Kita tentu menyayangkan, kaburnya napi seolah sudah menjadi trend akhir-akhir ini. Ketika para napi di salah satu penjara di Amerika (Country Jail No.5) berlomba-lomba men­desain ruang penjara yang artistik, para napi di sini justru ber­lomba-lomba meru­saki ruang penjara supaya bisa kabur dan terhindari dari hukuman. Para napi memperlihatkan perilaku pembangkangan­nya terhadap hukum dengan berani. Ketaatan terhadap konsekuensi kejahatan yang mereka laku­kan seolah-olah kalah oleh kesemena-menaan berbalut barbar.

Apakah ini menunjukkan proses pembi­naan di lapas kurang efektif? Alih-alih berharap pembinaan di penjara berjalan bagus, konon yang terjadi malah sebaliknya para sipir sudah menjadi 'pelayan' bagi para napi. Artinya ada 'kultur transaksi' di penjara yang kemudian menghadirkan berbagai 'bisnis yang menggiurkan'. Bayangkan saja, setelah masuk penjara dan ditaruh di tempat penampungan, untuk bisa masuk sel, seorang napi di sebuah kota besar harus membayar Rp 2,5- Rp 7 juta. Jika tidak, ia akan tetap berada di tempat penampungan dengan segala risiko: tak bisa mandi, tidak makan berhari-hari, rentan disiksa dan lain sebagai­nya. Keluarga yang ingin membesuk napi juga harus membayar.

Yang tak kalah menyesakkan, menurut investigasi salah sebuah media nasional di Rutan Pekanbaru baru-baru ini, un­tuk minum air saja, susahnya minta ampun karena jumlah peng­huni lapas sudah overkapasitas. Akibatnya mereka harus membeli air minum galon yang harganya Rp.50 ribu. Begitu­pun dengan makan sehari-hari, untuk bisa makan yang wajar, mereka terpaksa datang membeli di kantin penjara dengan harga tiga kali lipat. Susahnya menjalani hukuman, membuat para napi seakan dipaksa untuk mengem­bangkan intuisi 'hukum rimba' dalam penjara. Bagi yang punya uang, bisa pin­dah ke sel yang lebih manusiawi, seperti sel untuk napi korupsi yang jumahnya tak terlalu berjubel, itu pun setelah membayar. Mungkin itu sebabnya, para koruptor setiap saat bertambah jumlahnya di republik ini karena mereka tidak terlalu cemas jika akan dijebloskan ke penjara, berhubung mereka sudah disediakan fasilitas tahanan yang 'mewah'. Sedangkan untuk napi yang pas-pasan, agar bisa bertahan hidup dan punya uang untuk membayar biaya hidup yang mahal di penjara, tak sedikit dari mereka yang akhirnya meng­ge­luti bisnis haram, seperti terlibat dalam sindikat jual-beli narkoba. Itu sebabnya angka peredaran narkoba di penjara juga dari waktu ke waktu kian bertambah seiring terbong­kar­nya jaringan narkoba di berbagai penjara. Maka tak heran jika Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Iwayan Dusak mengatakan setengah penghuni lapas meru­pakan terpidana kasus narkoba (Tempo.co 28/3/2016).

Belum lagi diskriminasi hukuman yang tak kalah maraknya dan seolah dianggap wajar dalam belantara hukum kita. Mi­salnya ada napi pengedar uang palsu dihukum bisa sam­pai 4-5 tahun, sementara yang korupsi mil­yaran rupiah cuma diganjar 2-3 tahun. Praktek pungli bisa bebas terjadi untuk meri­ngankan hukuman seseorang, asal lancar setor.

Cerita di atas adalah salah satu potret lu­suhnya penegakan hu­kum di negeri ini. Setiap keputusan ditentukan oleh uang peli­cin atau uang administrasi, bukan berda­sarkan kebutuhan manusia (Nugroho & Hanurita 2005). Akibatnya, lembaga hu­kum semakin kehilangan kewibawaannya. Lapas yang diharapkan menjadi tempat pendidikan atau pembinaan, rehabilitasi dan integrasi napi, justru menjadi tempat reproduksi benih-benih kejahatan, termasuk melakukan pemberontakan. Di sisi lain, ekosistem penjara yang tidak manusiawi dan justru dijadikan lahan bisnis, membuat nilai-nilai keadilan semakin langka ditemui di situ.

Dulu penjara didesain oleh fil suf Inggris Jeremy Bentham dengan model panopticon yakni penjara dengan desain struktur melingkar dengan rumah inspeksi di pusat­nya, tempat bagi para sipir mengawasi ruang-gerak tahanan. Dengan struk­tur yang melingkar tersebut tiap tahanan akan saling meng­awasi diri mereka. Bahkan sekalipun tak ada yang meng­awasi, dengan model panopticon tersebut, tiap orang lama-kelamaan akhirnya menginternalisasi dalam dirinya suatu rasa diawasi atau dimata-matai terus-menerus.

Tak mempan

Metode panopticon memang dinilai berhasil pada saat itu karena mampu melahirkan kewaspadaan internal para napi untuk tidak berbuat aneh-aneh apalagi mencoba kabur. Namun seiring berjalannya waktu, ketika monetisme dan kreatifitas kejahatan makin canggih, dan tingginya kebutuhan uang di ling­kungan penjara, metode tersebut tak mempan lagi. Marak­nya aktifitas pungli atau suap-menyuap di penjara telah ikut menyuburkan pembangkangan terhadap etika, moral dan kesadaran hukum.

Para napi tak takut mengambil pilihan brutal, kabur beramai-ramai dengan merusak fasilitas tahanan karena di mata mereka, wajah hukum sudah tak bisa dipercaya lagi alias penuh ketidakadilan. Menurut mereka kepala rutan dan para sipir juga tak ubahnya sebagai 'pelayan' bagi para pemilik duit.

Belum lagi minimnya kapasitas dan profesio­nalisme me­reka sebagai pe­tugas yang me­ngedukasi dan membina para na­pi, karena ke­banyakan mereka direkrut tanpa pendi­di­kan dan pelatihan khusus.Padahal pekerjaan sipir cukup berat.

Mereka bukan menjaga barang mati, tapi manusia, yang martabat dan ke­ma­nusiaannya perlu dilindungi meskipun mere­ka orang pesakitan. Rasio sipir de­ngan napi ketika melakukan penjagaan sejauh ini rata-rata adalah 1 banding 50, artinya satu orang sipir harus menjaga 50 orang napi. Bah­kan satu blok di Lapas Cipinang yang dihuni 400 orang kadang hanya di­jaga satu orang sipir. Itu di Ibu Kota, bagai­mana dengan lapas yang ada di daerah-daerah? Tentu lebih runyam.

Wajah hukum akan makin penuh bo­peng, jika insiden kaburnya napi di berbagai daerah dianggap sesuatu yang wajar. Apalagi jika napi itu adalah napi narkoba yang dianggap seba­gai peng­hancur masa depan generasi bangsa.

Overka­pasitas penjara harus disikapi dengan kebijakan tegas dan konkret, dengan menambah jumlah rutan secara bertahap, termasuk juga merevisi model perekrutan sipir agar benar-be­nar di­per­oleh sipir yang terampil dan berde­di­kasi. Konse­kuen­sinya mereka harus di­pikirkan kesejahteraannya secara serius, seba­liknya, sipir yang me­lang­gar hu­kum, harus diberikan sanksi tegas, bu­kan sekadar sanksi administrasi, namun bila perlu dipecat saja.

Sudah saatnya pemerintah mengede­pan­kan pola restoratif justice dalam pe­ngadilan sehingga tak harus semua ke­ja­hatan berujung di penjara. Untuk pe­laku kejahatan ringan, cukup dilakukan pembinaan yang terukur. Sistem huku­man seperti kerja sosial (mem­ber­sihkan parit, gedung pemerintah atau bah­kan arak-arakan di jalanan ramai untuk me­munculkan syah­wat malu pelaku keja­hatan) sudah saatnya diberlakukan un­tuk skala keja­hatan tertentu. Selain itu, perlu ada kajian kembali terhadap un­dang-undang atau perda yang meng­andung pidana. Saat ini ada seki­tar 100 UU dan perda yang mengandung pi­dana yang menjadi 'kontributor' pertam­ba­han jumlah napi di penjara. Kalau hal ter­sebut bisa dikurangi, paling tidak bis­a merem membeludaknya penghuni penjara. ***

Penulis adalah Magister Kenotariatan Fakultas Hukum UGM

sumber:analisadaily.com

 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Kamis, 27 Juli 2017 | 11:03:01

Perkuat Lini Depan, Juventus Resmi Layangkan Tawaran untuk Winger Lazio

TURIN – Juventus sepertinya benar-benar serius untuk bisa mendapatkan tanda tangan winger kiri Lazio, Keita Balde. Bahkan klub yang bermarkas di J-Stadium tersebut sudah melayangkan tawaran untuk pemain berpasp
Kamis, 27 Juli 2017 | 10:57:10

Wiih, Mahasiswa Indonesia Unjuk Gigi Riset di Meksiko

JAKARTA - Mahasiswa Indonesia kembali unjuk gigi di panggung internasional. Kali ini panggung internasional itu bertajuk International Student Energy Summit (ISES) 2017 yang diselenggarakan di Merida, Meksiko.I
Kamis, 27 Juli 2017 | 10:54:36

Catat! Waskita Beton Siapkan Rp1 Triliun untuk Buyback Saham

JAKARTA – PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) mengalokasikan dana sebesar Rp1 triliun untuk pembelian kembali (buyback) saham perseroan sebanyak-banyaknya 7% atau setara 1,84 miliar saham.Aksi korporasi ini ber
Kamis, 27 Juli 2017 | 10:51:27

Terkait Kasus Korupsi, Presiden Federasi Sepakbola Spanyol Ditangkap Polisi

MADRID – Presiden Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF), Angel Villar ditangkap oleh kepolisian setempat karena terkait kasus dugaan korupsi yang dilakukannya. Kepoloisian Spanyol pun mengonfirmasi soal kabar terse
 
Berita Lainnya
Minggu, 23 Juli 2017 | 17:51:12

Dengan Semangat Hari Anak Nasional, Kita Ciptakan Sekolah Tanpa Tindakan Bullyng

ROKANHULU - Seperti kita ketahui berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 ditetapkan bahwa setiap tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Tahun 2017 ini, Hari
 
Jumat, 16 Juni 2017 | 15:23:12

Gurihnya Sensagun Bakar dan Tepung Tuak

PELALAWAN-Aroma wanginya kian menyengat dan menebar seantero, manakala wanita paroh baya ini mulai mengaduk-ngaduk makanan yang di masak di dapur sederhana menggunakan tungku tanah liat dan berbahan bakar kayu
 
Senin, 12 Juni 2017 | 10:13:30

Ramalan Zodiak Minggu Ini

Lihat ramalan zodiak anda minggu ini ARIES 12 Juni - 18 Juni 2017 Umum Sudah mulai kepikiran untuk mudik. Kamu jadi sulit untuk berkonsentrasi. Tahan keinginan kamu untuk sementara waktu. Seberat apa
 
Minggu, 11 Juni 2017 | 09:52:20

Napi Kabur dan Lusuhnya Hukum

Sebanyak 17 tahanan dan narapidana rumah tahanan (Rutan) Klas I Palembang kabur, Jumat (26/5) pukul 01.45 Wib. Mereka keluar penjara dengan menjebol teralis penjara sete­lah dipotong pakai gergaji. Petugas
 
Minggu, 11 Juni 2017 | 09:43:09

Kopdit Merdeka di Antara Awan Panas Sinabung

Berdirinya Koperasi Mer­de­­ka pertengahan tahun 1987 di Desa Merdeka Kecamatan Merdeka Tanah Karo dalam se­­mangat demokratis dan ke­terbukaan untuk membantu ang­gotanya. Ketika tahun per­tama ber­diri,
 
Rabu, 31 Mei 2017 | 17:32:58

Pejabat dan Penjara China

Begitu Xi Jinping berkuasa, 14 Maret 2013, Presiden yang diusung Partai Komunis China ini perlahan mulai memberangus habis para pejabat kotor. Melalui 4 aturan keramatnya. Xi Jinping berhasil membuat pejabat di
 
Minggu, 28 Mei 2017 | 12:59:42

Sambut Ramadan dengan Penuh Sukacita

Tanpa terasa, bulan Ramadan sudah be­rada di ambang mata. Sebagai umat Is­lam, seyo-gianya kita senan­tiasa ber­usa­ha menyam­but bulan mulia yang pe­nuh dengan keberkahan dan am­punan ini de­ngan penuh s
 
Minggu, 28 Mei 2017 | 12:32:02

Ironi Kebangsaan Kita

"Aku tidak hafal Pancasila, Bang. Guru tidak pernah mengajari kami merapalkan Pancasila di dalam kelas." Ini adalah kutipan percakapan saya dengan seorang anak kelas 3 Sekolah Dasar (SD) beberapa hari
 
Minggu, 28 Mei 2017 | 12:24:01

Ramadan, Toleran dan Bulan Istimewa

Tidak terasa, waktu berjalan begitu ce­pat. Akhir bulan sya'ban akan berakhir be­berapa hari lagi akan masuk ke dalam bu­lan Ramadan yang penuh dengan ke­berkahan dan kebajikan. Bulan ini s
 
Minggu, 28 Mei 2017 | 12:17:02

Menjaga Puasa Jangan Puas, Ah!

"UDAH kayak puasa, ah, suas­a­na­nya". Kalimat itu atau semacamnya se­ring terdengar diucap di dalam cakap-ca­kap tak resmi baik di tempat-tempat for­mal maupun tak formal saat mendekati – bahkan sebulan
 
Minggu, 21 Mei 2017 | 07:18:26

Memaknai Hari Kebangkitan Nasional

Kebangkitan nasional yang perta­ma se­kali digagas oleh Dr. Wahidin Sudiro Hu­sodo melalui organi­sasi Budi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 bertujuan untuk membangkitkan se­mangat na­sio­na­lisme, persatu
 
Minggu, 21 Mei 2017 | 07:08:31

19 Tahun Reformasi, Dimana Gerakan Mahasiswa?

Tulisan ini saya buat untuk meng­ingat­­kan semua anak bangsa yang 'berlabel' ma­hasiswa juga sebagai refleksi pada tang­gal 21 mei yang kita peringati sebagai hari bersejarah bangsa Indonesia ya
 
Minggu, 21 Mei 2017 | 06:54:21

Harkitnas 2017, Ayo Bersatu....!

Kedaulatan negara terancam, Men­teri Koor­dinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wi­ranto me­ngatakan peme­rin­tah akan me­ngambil upaya hukum untuk mem­bu­bar­kan ormas yang kegia­t
 
Minggu, 21 Mei 2017 | 06:43:14

Beda Pandangan Soal Makar

Jangan ragukan kesetiaan, nasionalisme, dan patriotisme Tentara Nasional Indonesia (TNI) terhadap NKRI. Dahulu TNI bersama rakyat, pemberontakan atau makar yang bercirikan separatisme, militerisme, agama,
 
Minggu, 14 Mei 2017 | 05:47:29

Napi Juga Manusia

Akhir-akhir ini beberapa media di Indonesia memberitakan me­nge­­nai ratusan di sebuah lapas di Riau yang melarikan diri, narapidana atau di­singkat dengan napi  melarikan diri de­ngan ca
 
 
 
Terpopuler
 
 
 
 
Top