Terverifikasi Dewan Pers
 
Minggu, 21 April 2019 | 10:27:47
Opini

Kedewasaan dalam Berdemokrasi

Oleh: Ksatria Praja Pranata Surbakti, SH

Sebarkan:
(Foto:Google)
Ilustrasi

PEMILIHAN umum (Pemilu) akhir­nya telah selesai dilakukan de­ngan menghasilkan pasangan Presi­den dan Wakil Presiden, juga anggota DPR, DPD, dan DPRD pada periode 2019-2024. Setidak-tidaknya, hasil per­­hitu­ngan cepat (quick count) dari beberapa lembaga survei dapat dija­dikan sebagai bahan rujukan semen­tara yang biasanya tidak jauh berbeda dengan hasil yang nantinya akan dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Pemilu di tahun ini juga sekaligus mengukir sejarah baru karena Indonesia, untuk pertama kalinya, berhasil melaksanakan Pemilu serentak untuk pemilihan umum presiden dan pemi­lihan umum legislatif.

Demokrasi, Konstitusi, dan Pemilu

Sebagai negara yang menganut sistem demokrasi, pemerintahan di Indo­nesia berasal dari, oleh, dan untuk rakyat, yang caranya ditempuh mela­lui gelaran Pemilu. Pemilu merupakan bentuk konkret dari sarana partisipasi rakyat dalam turut serta dalam penye­lenggaran negara. Pada demo­krasi modern yang menjalankan sis­tem demokrasi tidak langsung (indirect democarcy) atau demokrasi per­wakilan, aspirasi rakyat disalurkan melalui para wakil-wakil yang duduk di pemerintahan. Artinya, kepada orang-orang terpilih inilah harapan dan kemurnian suara rakyat dapat diwujudkan.

Kontestasi politik yang dijalankan dengan baik akan secara langsung menghasilkan para pemimpin yang berkualitas. Sumber kekuasaan yang dimiliki oleh orang-orang terpilih dalam sistem demokrasi dimandat­kan lang­sung oleh rakyat sebagai pemilik sah dan tertinggi kekuasaan tersebut yang dilakukan melalui sarana Pemilu. Tingginya partisipasi warga negara dalam Pemilu akan memperkuat terciptanya legitimasi di pemerintahan.

Pemilu sebagai sarana pergantian pucuk pemimpin yang rutin dilakukan bukan sekedar formalitas yang dipe­rintahkan oleh hukum saja, melainkan sebagai momentum bagi rakyat me­majukan bangsa dengan turut serta ber­partisipasi menggu­nakan hak pilih­nya dan mengawasi agar rang­kaian Pemilu dapat berjalan dengan jujur dan adil.

Esensi Pemilu

Tujuan terpenting dilaksanakan­nya Pemilu adalah untuk menyaring para putera dan putri terbaik bangsa yang siap untuk mengabdikan dirinya melayani kepentingan masyarakat dengan mengesampingkan kepen­tingan pribadi, partai politik, ataupun golongan. Melalui Pemilu, diharap­kan keterwakilan masyarakat beserta dengan kepentingannya dapat diako­modir oleh orang-orang yang terpilih untuk diperjuangkan.

 Pemilu bukan merupakan sarana pertarungan modal, melainkan ide dan gagasan politik yang hendak di­sam­paikan kepada masyrakat dan kemudian dijalankan ketika terpilih nantinya. Pemilu bukan sekedar sara­na untuk melegitimasi kekuasaan semata, lebih dari itu, ia adalah ke­murnian dari suara rakyat.

Hendaknya kita tidak melupakan esensi dari Pemilu dalam negara de­mokrasi bukan untuk sekedar sebagai formalitas untuk memenuhi apa yang diperintahkan oleh Konsti­tusi, melainkan terlaksananya penge­ja­wantahan suara dan kehendak rak­yat melalui para wakilnya untuk me­ngisi jabatan-jabatan di pemerin­tahan yang nantinya akan menentukan nasib republik ini. Tanggung jawab untuk memajukan bangsa ini merupakan tanggung jawab bersama, sebagai­mana negara Indonesia juga meru­pakan milik kita bersama.

Agenda Pasca Pemilu

Setelah Pemilu selesai dilaksa­na­kan, bukan berarti proses demo­krasi telah selesai begitu saja. Masih ba­nyak hal-hal yang harus dilakukan sebagai tindak lanjut dari selesainya pelaksanaan Pemilu. Para wakil-wa­kil rakyat ini harus diingatkan untuk menuntaskan janji-janji politik yang sudah diteriakkan kepada masyarakat, diawasi untuk fokus bekerja demi dan untuk kepentingan rakyat saja.

Sejatinya, demokrasi adalah rang­kaian proses yang sifatnya berkelan­jutan yang tidak selesai setelah Pemilu berakhir. Dari pesta demokrasi ini, kita harus selalu senantiasa melaku­kan evaluasi dan menyempurnakan demokrasi yang dicita-citakan bangsa Indonesia, demokrasi yang didasar­kan atas nilai-nilai Pancasila.

Tentu Pemilu ini tidak serta merta lepas dari bahan evaluasi untuk pe­nye­lenggaran Pemilu selanjutnya. Ter­dapat beberapa hal yang masih harus terus dibenahi, baik pengawas, penyelenggara Pemilu, dan juga sis­tem penegakan hukum. Ketidak­sempurnaan yang banyak kita temui ini, apabila disikapi dengan benar, ma­ka akan semakin mewujudkan sistem Pemilu yang substantif.

Bagi yang terpilih, dapat bernafas sedikit lega dan mengambil waktu untuk menikmati kemenangan karena tugas yang berat nan mulia sudah menunggu di depan. Jangan terlalu lama berleha-leha, apalagi setelah menjabat dan menjalankan tugas. Ingat kembali janji politik yang diberikan kepada para konstituen dan jalankan amanat itu dengan baik. Terpilihnya para wakil rakyat ini bukan merupakan garis akhir dari perjuangan, melainkan awalan yang baru sebagai "pelayan" bagi rakyat.

Juga bagi mereka yang gagal ter­pilih, mungkin akan merasakan pera­saan kecewa. Tegakkan wajah dan ber­besar hatilah karena hal demikian merupakan bumbu dalam demokrasi. Konsekuensi Pemilu sebagai sarana rakyat untuk memilih para pemimpin adalah ada yang dimenangkan dan ada yang gagal untuk mengemban tu­gas tersebut. Selalu ada yang ter­sisihkan untuk dapat menghasilkan orang-orang terpilih. Itu merupakan konsekuensi dalam berdemokrasi. Masih banyak cara lain untuk mengab­di kepada rakyat dan negara.

Sekiranya merasa tidak puas dengan hasil karena diduga terdapat pelanggaran maupun kecurangan, silahkan pergunakan berbagai instru­men hukum yang dijamin dan dise­diakan oleh negara, seperti me­ngajukan permohonan sengketa hasil Pemilu ke Mahkamah Kon­stitusi (MK), jika sengketa bersifat administratif dan prosedural maka menga­jukan sengketa ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dengan upaya hu­kum yang dapat diselesaikan di Pe­ngadilan Tata Usaha Negara (PTUN), bahkan dalam beberapa kasus tertentu dapat berujung pada tindak pidana.

Pergunakan cara-cara terhormat secara konstitusional. Jangan meng­gunakan ancaman-ancaman atau penge­rahan massa (people power) hanya demi kepentingan jangka pendek. Mari ber­sama-sama dewasa dalam berdemokrasi guna memba­ngun demokrasi konsti­tu­sio­nal yang adil dan bermartabat ber­dasarkan hukum dengan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

Akal sehat publik (public common sense) jangan sampai dibutakan dengan pilihan politik yang berbeda-beda. Masyarakat tidak boleh diadu atau saling menjatuhkan. Masyarakat harus dewasa dalam melihat bahwa Pemilu hanyalah sebagai salah satu instrumen dalam negara demokrasi untuk dapat menya­lurkan aspirasi. Pemilu bukanlah medan perang untuk saling "membunuh", melainkan kon­testasi politik untuk saling mengadu gagasan yang disuguhkan kepada khalayak ramai. Jangan sampai hanya karena terdapat perbedaan pilihan politik, justru berujung pada disinte­grasi bangsa.***

 Sekali lagi, mari bersama-sama dewasa dalam berdemokrasi.***

Penulis, Advokat pada salah satu boutiq law firm di Jakarta

Sumber:harian.analisadaily.com

 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Senin, 20 Mei 2019 | 16:50:34

Ketum Dharma Pertiwi : Ibadah Puasa Sebagai Wahana Peningkatan Kesadaran Spiritual

JAKARTA - Ibadah puasa yang sedang dilaksanakan ini, dapat dijadikan sebagai wahana pengendalian diri dan peningkatan kesadaran spiritual. Makna berpuasa setiap warga muslim adalah untuk melatih dan menahan emo
Senin, 20 Mei 2019 | 14:41:27

Jalan Moujolelo Rusak, Camat Pinggir Hanya Surati HKi Pekdum 4 B

Pinggir - Pembangunan ruas jalan tol Pekanbaru-Dumai oleh perusahaan Hutama Karya Infrastruktur (HKi), khususnya di wilayah seksi 4 B, menimbulkan banyak kerusakan di sejumlah badan jalan Moujolelo, Desa Pinggi
Senin, 20 Mei 2019 | 13:53:47

Diduga Mark Up Dana Desa, Oknum Penghulu Bangko Pusako dilaporkan Ke Polres Rohil

UJUNGTANJUNG- Ketua Badan Permusyawaratan Kepenghuluan( BPKep)  Bangko Pusaka Kecamatan Bangko Pusako ,Safrizal  akhirnya melaporkan Bahadi seorang oknum  Penghulu Bangko Pusaka ke pihak Polres R
Minggu, 19 Mei 2019 | 21:35:56

Pasutri Tewas di Rohil, Polisi Duga Suami Habisi Istri Lalu Bunuh Diri

PUJUD-Warga Dusun empat Sawah Kota, Kepenghuluan Kasang Bangsawan, Kecamatan Pujud, Rokan Hilir (Rohil) digemparkan dengan adanya penemuan dua mayat suami istri disalah satu Rumah Toko, Minggu (19/5/2019).Pasut
 
Berita Lainnya
Minggu, 28 April 2019 | 10:00:38

Pemilu 2019 yang Mematikan

Pemilu 2019 pantas disebut sebagai pe­milihan umum yang "mematikan" se­panjang sejarah. Pemilu 2019 secara umum berlangsung secara aman, tertib, lan­car, dan nyaris tanpa gangguan ke­ru­suh­an. Tapi korban jiwa
 
Minggu, 28 April 2019 | 09:34:39

Sinergitas Menjaga Lingkungan Pasca Pemilu

Masyarakat Indonesia te­ngah dirundung berbagai in­formasi mengenai hasil suara pemilihan presiden dan wakil presiden. Persetan dengan semua hal yang disampaikan baik di media elektronik maupun media sosia
 
Minggu, 21 April 2019 | 10:27:47

Kedewasaan dalam Berdemokrasi

PEMILIHAN umum (Pemilu) akhir­nya telah selesai dilakukan de­ngan menghasilkan pasangan Presi­den dan Wakil Presiden, juga anggota DPR, DPD, dan DPRD pada periode 2019-2024. Setidak-tidaknya, hasil per­­hi
 
Minggu, 21 April 2019 | 10:03:49

Tuhan Tidak Melihat Agamamu

KITA sepakat dalam suatu pema­ha­man yang utuh bahwa surga adalah hak prerogatif nya Tuhan dan manusia se­tinggi apapun ibadahnya takkan mam­pu memberi satu kepastian bah­wa si anu masuk surga dan si ana m
 
Minggu, 14 April 2019 | 07:36:36

Menjaga Pilpres

Hari pencoblosan Pemilu Pemilihan Pre­siden (Pilpres) tinggal beberapa hari lagi. Tepatnya pada hari Rabu Tanggal 17 April 2019 nanti. Ka­dang hati tak sabar lagi menunggu hari pen­coblosan ini.
 
Minggu, 7 April 2019 | 07:45:04

Neuro Ledership Menuntun Lahirnya Neuro Creativity

Persaingan yang terjadi saat ini bukan hanya di dunia usaha saja, melainkan semua orang sampai negara sedang berada pada posisi bersaing. Mungkin sebagian ada yang kurang sependapat karena istilah persaingan
 
Jumat, 5 April 2019 | 19:14:27

Jangan Pilih (Calon) Penebar Uang

Seiring bertambahnya jumlah Partai Politik, dapil dan kursi, persaingan peserta pemilu semakin ketat. Dibandingkan tahun 2014 jumlah Partai Politik nasional pada pemilu tahun ini bertambah menjadi 16 diluar 4 P
 
Minggu, 31 Maret 2019 | 09:58:00

Hegemoni Pendidikan dan Pendidikan yang Membebaskan

Menurut rumusan Antonio Gra­maci, hegemoni diarti­kan sebagai sebu­ah upaya pihak elit penguasa yang mendo­minasi untuk meng­giring cara berpikir, bersikap, dan menilai masyarakat agar sesuai dengan k
 
Jumat, 29 Maret 2019 | 15:20:46

Mengatasi Tantangan Operasional UNTSO, UNDOF, dan Misi UNIFIL

Penasehat Militer RI Untuk PBB, Brigjen TNI Fulad, S.Sos., M.Si. menghadiri pertemuan Military Staff Committee Dewan Keamanan PBB yang membahas masalah UNTSO, UNDOF, dan UNIFIL – Lebanon beberapa saat lalu, yan
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 10:00:32

Di Balik 80 Juta Bisa Apa

Kalimat 80 juta bisa dapat apa seketiga me­nyebar bak se­rangan fajar. Semua din­ding-dinding akun media sosial apa­pun itu dibanjiri oleh kalimat tersebut. Kalimat ta­nya yang se­mua orang akhirnya tahu m
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 09:20:13

Bias Gender dalam Kasus Prostitusi Online

Setelah sempat menyeruak pada tahun 2015, kasus pros­titusi on­line yang melibatkan para artis kembali naik ke permukaan. Kali ini melibatkan artis kenamaan Vanessa Angel. ditang­kap Kepolisian daerah Jawa
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:50:06

Pelecehan di Dunia Akademik

Beberapa waktu yang lalu kita mende­ngar seorang maha­siswi S3 mem­polisi­kan rektor sebuah PTS kare­na di­lempar disertasi. Ikhwalnya, sebagai­mana diberitakan banyak media, m­a­hasiswi S3 tersebut menjelaskan
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:29:18

Prostitusi, Hukum dan Moralitas

Di tengah kasak-kusuk Pemilu 2019, sua­sana awal tahun menda­dak heboh dengan keberhasilan Polda Jawa Timur memergoki sekaligus me­nangkap VA, AS dan R terkait kasus pros­titusi di Surabaya. Kendati prostitusi
 
Minggu, 6 Januari 2019 | 07:57:54

Bencana Alam di Awal 2019

TAHUN 2019 telah diawali dengan ben­cana tanah longsor di Desa Sirnaresmi, Ke­­camatan Cisolok, Kabu­pa­ten Suka­bu­mi, Jawa Barat.  Bencana tersebut te­lah  merenggut puluhan jiwa manusia d
 
Rabu, 5 Desember 2018 | 14:20:45

Korupsi Masa Orba, Ini Pernyataan Ahmad Basarah

Pertama, saya ingin letakkan dulu konteks dan teks pernyataan media saya tentang mantan Presiden Soeharto. Saya ditanya oleh teman-teman media tentang pernyataan Capres Pak Prabowo di forum internasional yang m
 
 
 
Terpopuler
 
 
 
 
Top