Terverifikasi Dewan Pers
 
Minggu, 21 April 2019 | 10:03:49
Opini

Tuhan Tidak Melihat Agamamu

Oleh: Abdi Mulia Lubis

Sebarkan:
(Foto:Google)
Ilustrasi

KITA sepakat dalam suatu pema­ha­man yang utuh bahwa surga adalah hak prerogatif nya Tuhan dan manusia se­tinggi apapun ibadahnya takkan mam­pu memberi satu kepastian bah­wa si anu masuk surga dan si ana ma­suk neraka. Antara agama dan ke­ima­nan tak ada seseorang pun yang meng­inginkan ia dilahirkan dengan agama orang tuanya.

Saya memikirkan judul opini yang saya tulis diatas berbulan-bulan se­be­lum membulatkan tekad untuk me­nu­liskannya, pada awalnya saya men­co­ba untuk melupakan judul tersebut untuk ditulis karena takut disalah­pa­hami dan akhirnya seiring dengan ber­kembangnya rasa ingin tahu saya tidak bisa juga untuk menjauhkan judul ter­sebut dari pikiran saya.

Terkadang dan terbiasa dalam ke­se­­harian yang saya jalani, bila ada sua­tu pikiran dan tanda-tanya yang begitu menyengat di kepala dan bila semakin saya menjauh dari suatu pe­mikiran tersebut, hal itu semakin mem­buat saya justru semakin pena­saran untuk mencari tahunya dan saya sangat termotivasi untuk mencari dan me­ngumpulkan bahan penulisan ini. Tak pernah puas, ingin yang lebih tapi bukan berarti tidak bersyukur ha­nya berusaha untuk lebih baik lagi.

Tentu akan ada penolakan dari be­berapa pihak dan bisa berujung pada pengkafiran apabila konsep judul ide diatas tidak didalami argumen­tasinya secara logis. Hal pertama yang paling saya khawatirkan dari tulisan ini ada­lah saya takut dianggap mungkin disin­dir sebagai nabi, dajjal, pemikir sesat dan perusak aqidah bangsa bah­kan dituduh murtad. Seorang penulis ha­rus siap mendapat cercaan tersebut de­ngan lapang dada tanpa harus men­caci orang tersebut.

Padahal niat saya bukan seperti itu, dari awal ketika menulis yang men­­jadi motivasi saya adalah mem­per­­­kaya sudut pandang, kita bisa melihat dari pandangan yang lain. Niat saya hanya untuk membuka sudut pandang pembaca dan mungkin kita bisa sama-sama melihat dari sisi yang lain agar kita bisa merasa lebih hidup akan kesadaran dari beragam perspek­tif yang ada.

Hal yang kedua ditakuti oleh se­orang pemikir adalah dianggap se­ba­gai filsuf, saya rasa titel filsuf itu tidak tepat bila dijuluki kepada se­seorang yang masih hidup, apalagi bila seseorang dianggap sebagai ahli fil­safat, titel itu sangat menggangu dan bisa menjadi satire yang berujung penghinaan kepada seorang pemikir. Maka janganlah pernah memanggil seseorang dengan nama sebutan filsuf karena itu sangat menyakiti pikiran­nya dan bisa membuatnya sombong sehingga lupa untuk bergaul sebagai manusia biasa.

Maka sebelum menulisnya saya coba jogging  sampai mendapatkan inspirasi apakah judul tersebut ditulis atau tidak, dan akhirnya saya menda­pat tekad untuk menuliskannya secara jujur.

Tuhan tidak melihat agamamu, yang terlintas dipikiran saya adalah satu negara yang tanpa memandang identitas rakyatnya. Tuhan memberi kuasa kepada manusia berupa akal un­tuk berpikir memberi penilaian pada suatu fenomena baik yang terjadi dan akibat selanjutnya.

Suatu Pemikiran terkadang tidak di­sukai bisa jadi karena ia meng­han­curkan ilusi dari sensasi yang dikon­sumsi manusia secara berlebih. Ke­na­pa Tuhan menurunkan kitab suci dan memerintahkan kepada manusia un­tuk mengamalkannya karena bisa jadi ada batas yang tak harus dilampaui ma­­­nusia disebabkan bisa menghan­cur­­kan mental seseorang.

Pikiran kalau kita analogikan bisa jadi seperti pabrik kimia yang sebagaimana yang kita ketahui bila zat-zat berbahaya tidak dapat dikon­trol 0,001 % saja bisa mengakibatkan le­­dakan besar yang berujung pada ke­­bakaran besar. namun disisi selan­jut­nya dalam banyak dalil yang ia turunkan banyak perintah kepada manusia untuk berpikir. Memang pada momentum yang tengah kita lalui saat ini, terlalu memikirkan Tuhan sama dengan menghabiskan waktu karena pada prinsip materialnya manusia ha­rus bergerak bekerja untuk me­me­nuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Tuhan tidak melihat agamamu, se­ba­gaimana yang saya tulis itu tidak ber­maksud untuk mengatakan bahwa Tu­han tidak melihat, yang saya mak­sud adalah bahwa agama apapun yang dianut seseorang tidak menjadi kunci uta­ma dalam menentukan penilaian Tuhan kepada hambanya.

Saya tak ingin bermain dalam menulis sehingga tak ingin dianggap sebagai lelucon, apa yang saya tulis ini adalah apa yang saya pikirkan bu­kan apa yang saya khayalkan, suatu ima­jinasi yang merangkul seluruh lo­gika menjadi satu konsep pemi­kiran dan itu lah kenapa filsafat sangat di­butuhkan bukan disesatkan dan jangan di­haramkan.

Tidak ada yang namanya merusak iman selama seseorang berpikir fil­safat untuk diri dan sekitarnya, se­bab yang dipikirkan bukan memper­ka­ya diri dengan merusak alam, melainkan justru yang berbahaya adalah mema­kai agama untuk melakukan korupsi, sua­tu kebiadaban yang dipakai dan ba­nyak yang merasa bangga dengan korupsi asal beragama.

Disinilah keimanan teruji takkala se­seorang mampu mengendalikan di­rinya untuk tidak mengkafirkan se­seorang yang rupanya mengka­fir­kan itu adalah seorang koruptor. Baik bu­ruknya seseorang itu dilihat pada ke­adi­lan bagaimana seseorang meng­gu­nakan waktunya untuk bersi­kap adil kepada alam.

Bagaimana mungkin kita merasa suci dengan mengkafirkan orang yang ber­beda agama, kalau bersikap adil de­ngan tidak korupsi saja kita tidak bisa? Itu adalah sebuah pertanyaan yang juga sebuah argumentasi logis bila saya menulis Tuhan tidak melihat agamamu melainkan melihat bagai­mana dirimu bersikap adil.

Tuhan tidak melihat agamamu bisa di­tafsirkan sebagai pandangan baru yai­tu manusia bebas mengin­terpre­ta­si­kan bagaimana ia berada dengan iden­titas agama yang tak pernah ia ingin. Kenapa dilahirkan beragama Islam dan kenapa dilahir­­kan tidak beragama menun­jukkan bahwa dalam penilaian agama Tuhan sudah tidak memperma­sa­lahkannya lagi sebab ia mengenal betul sisi kema­nusiaan hambanya.

Tuhan tidak melihat agamamu adalah suatu cara pandang yang memperlihatkan bahwa tak perlu berlebihan dalam menganggap bahwa agamaku paling benar, dan tidak boleh meremehkan hingga memperkecil kan agama yang berbeda dari keyakinan seseorang. Semakin banyak agama dan perbe­daan kekayaan ragam yang dimiliki negeri ini semakin menunjukkan bahwa semakin baik suatu negeri itu berdiri.

Dalam buku Catatan Pinggir, Goenawan Mohamad menulis : "Kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam, adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir. Di ujung sana, Tuhan lebih tahu."

Yang menunjukkan bahwa ia adalah Tuhan yang memiliki hukum yang tertulis di dalam kesadarannta adalah pemilik keadilan yang paling tinggi, dan maha tahu bagaimana awal dan akhir. Manusia tak bisa memberi penilaian yang tepat sebab manusia memiliki sisi khilaf dalam dirinya. Menjadi jujur dengan bersikap adil sebab Tuhan tidak melihat agamamu.***

Penulis adalah pemikir filsafat berdomisili di Kota Rantauprapat

sumber:harian.analisadaily.com

 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Senin, 20 Mei 2019 | 20:24:55

Polres Rohul Berikan Pemahaman dan Keselamatan Berlalulintas kepada Siswa

PASIRPANGARAIAN- ‎ Kapolres Rokan Hulu (Rohul), AKBP Muhamad Hasyim Risahondua, melalui, Kasat Lantas Polres Rohul, AKP Irnanda Oktora mengungkapkan, pihaknya telah melakukan langkah preventif pada Operas
Senin, 20 Mei 2019 | 20:02:30

Jalin Sinergitas, Polres Rohil Bukber Dengan Wartawan

UJUNGTANJUNG- Menjaga sinergitas antara Polres Rokan Hilir  dengan insan Pers yang bertugas liputan di wilayah UJungtanjung, Kabag Humas Polres Rokan Hilir AKP, Jliandi, SH  mengadakan buka bersama de
Senin, 20 Mei 2019 | 16:50:34

Ketum Dharma Pertiwi : Ibadah Puasa Sebagai Wahana Peningkatan Kesadaran Spiritual

JAKARTA - Ibadah puasa yang sedang dilaksanakan ini, dapat dijadikan sebagai wahana pengendalian diri dan peningkatan kesadaran spiritual. Makna berpuasa setiap warga muslim adalah untuk melatih dan menahan emo
Senin, 20 Mei 2019 | 14:41:27

Jalan Moujolelo Rusak, Camat Pinggir Hanya Surati HKi Pekdum 4 B

Pinggir - Pembangunan ruas jalan tol Pekanbaru-Dumai oleh perusahaan Hutama Karya Infrastruktur (HKi), khususnya di wilayah seksi 4 B, menimbulkan banyak kerusakan di sejumlah badan jalan Moujolelo, Desa Pinggi
 
Berita Lainnya
Minggu, 28 April 2019 | 10:00:38

Pemilu 2019 yang Mematikan

Pemilu 2019 pantas disebut sebagai pe­milihan umum yang "mematikan" se­panjang sejarah. Pemilu 2019 secara umum berlangsung secara aman, tertib, lan­car, dan nyaris tanpa gangguan ke­ru­suh­an. Tapi korban jiwa
 
Minggu, 28 April 2019 | 09:34:39

Sinergitas Menjaga Lingkungan Pasca Pemilu

Masyarakat Indonesia te­ngah dirundung berbagai in­formasi mengenai hasil suara pemilihan presiden dan wakil presiden. Persetan dengan semua hal yang disampaikan baik di media elektronik maupun media sosia
 
Minggu, 21 April 2019 | 10:27:47

Kedewasaan dalam Berdemokrasi

PEMILIHAN umum (Pemilu) akhir­nya telah selesai dilakukan de­ngan menghasilkan pasangan Presi­den dan Wakil Presiden, juga anggota DPR, DPD, dan DPRD pada periode 2019-2024. Setidak-tidaknya, hasil per­­hi
 
Minggu, 21 April 2019 | 10:03:49

Tuhan Tidak Melihat Agamamu

KITA sepakat dalam suatu pema­ha­man yang utuh bahwa surga adalah hak prerogatif nya Tuhan dan manusia se­tinggi apapun ibadahnya takkan mam­pu memberi satu kepastian bah­wa si anu masuk surga dan si ana m
 
Minggu, 14 April 2019 | 07:36:36

Menjaga Pilpres

Hari pencoblosan Pemilu Pemilihan Pre­siden (Pilpres) tinggal beberapa hari lagi. Tepatnya pada hari Rabu Tanggal 17 April 2019 nanti. Ka­dang hati tak sabar lagi menunggu hari pen­coblosan ini.
 
Minggu, 7 April 2019 | 07:45:04

Neuro Ledership Menuntun Lahirnya Neuro Creativity

Persaingan yang terjadi saat ini bukan hanya di dunia usaha saja, melainkan semua orang sampai negara sedang berada pada posisi bersaing. Mungkin sebagian ada yang kurang sependapat karena istilah persaingan
 
Jumat, 5 April 2019 | 19:14:27

Jangan Pilih (Calon) Penebar Uang

Seiring bertambahnya jumlah Partai Politik, dapil dan kursi, persaingan peserta pemilu semakin ketat. Dibandingkan tahun 2014 jumlah Partai Politik nasional pada pemilu tahun ini bertambah menjadi 16 diluar 4 P
 
Minggu, 31 Maret 2019 | 09:58:00

Hegemoni Pendidikan dan Pendidikan yang Membebaskan

Menurut rumusan Antonio Gra­maci, hegemoni diarti­kan sebagai sebu­ah upaya pihak elit penguasa yang mendo­minasi untuk meng­giring cara berpikir, bersikap, dan menilai masyarakat agar sesuai dengan k
 
Jumat, 29 Maret 2019 | 15:20:46

Mengatasi Tantangan Operasional UNTSO, UNDOF, dan Misi UNIFIL

Penasehat Militer RI Untuk PBB, Brigjen TNI Fulad, S.Sos., M.Si. menghadiri pertemuan Military Staff Committee Dewan Keamanan PBB yang membahas masalah UNTSO, UNDOF, dan UNIFIL – Lebanon beberapa saat lalu, yan
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 10:00:32

Di Balik 80 Juta Bisa Apa

Kalimat 80 juta bisa dapat apa seketiga me­nyebar bak se­rangan fajar. Semua din­ding-dinding akun media sosial apa­pun itu dibanjiri oleh kalimat tersebut. Kalimat ta­nya yang se­mua orang akhirnya tahu m
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 09:20:13

Bias Gender dalam Kasus Prostitusi Online

Setelah sempat menyeruak pada tahun 2015, kasus pros­titusi on­line yang melibatkan para artis kembali naik ke permukaan. Kali ini melibatkan artis kenamaan Vanessa Angel. ditang­kap Kepolisian daerah Jawa
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:50:06

Pelecehan di Dunia Akademik

Beberapa waktu yang lalu kita mende­ngar seorang maha­siswi S3 mem­polisi­kan rektor sebuah PTS kare­na di­lempar disertasi. Ikhwalnya, sebagai­mana diberitakan banyak media, m­a­hasiswi S3 tersebut menjelaskan
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:29:18

Prostitusi, Hukum dan Moralitas

Di tengah kasak-kusuk Pemilu 2019, sua­sana awal tahun menda­dak heboh dengan keberhasilan Polda Jawa Timur memergoki sekaligus me­nangkap VA, AS dan R terkait kasus pros­titusi di Surabaya. Kendati prostitusi
 
Minggu, 6 Januari 2019 | 07:57:54

Bencana Alam di Awal 2019

TAHUN 2019 telah diawali dengan ben­cana tanah longsor di Desa Sirnaresmi, Ke­­camatan Cisolok, Kabu­pa­ten Suka­bu­mi, Jawa Barat.  Bencana tersebut te­lah  merenggut puluhan jiwa manusia d
 
Rabu, 5 Desember 2018 | 14:20:45

Korupsi Masa Orba, Ini Pernyataan Ahmad Basarah

Pertama, saya ingin letakkan dulu konteks dan teks pernyataan media saya tentang mantan Presiden Soeharto. Saya ditanya oleh teman-teman media tentang pernyataan Capres Pak Prabowo di forum internasional yang m
 
 
 
Terpopuler
 
 
 
 
Top