Terverifikasi Dewan Pers
 
Jumat, 5 April 2019 | 19:14:27
Opini

Jangan Pilih (Calon) Penebar Uang

Oleh: Yanto Budiman Situmeang

Sebarkan:
(Foto: Jonathan Surbakti)
Yanto Budiman Situmeang
Seiring bertambahnya jumlah Partai Politik, dapil dan kursi, persaingan peserta pemilu semakin ketat. Dibandingkan tahun 2014 jumlah Partai Politik nasional pada pemilu tahun ini bertambah menjadi 16 diluar 4 Partai Lokal Aceh.

Realitas ini sudah barang tentu akan memicu masing-masing peserta bekerja keras untuk merebut  suara pemilih demi  memenangkan kontestasi secara nasional sehingga bisa lolos dari ambang batas parlemen (PT) yang ditetapkan UU: 4 %.

Bagi Partai Partai lama dan besar peluang lolos dari 'lubang jarum' ini tidak terlalu sulit mengingat mereka telah memiliki popularitas dan elektabilitas yang lebih dari cukup. Namun bagi Partai baru mereka harus "berjibaku" dan tidak sedikit duit yang harus digelontorkan secara biaya politik.

Di titik inilah kemudiaan muncul isu plus kekhawatiran  melakukan praktik praktik tidak mendidik, dengan menghalalkan segala cara untuk meraih ambang batas parlemen atau Parlemen Threshold (PT): 4 %. 

Pemilu tahun ini yang dilakukan secara serentak (Pileg dan Pilpres) menjadi ajang eksperimen demokrasi kita yang diharapkan dapat menghasilkan pemimpin dan wakil rakyat yang "clear and clean". Mampu membawa harapan perubahan yang diinginkan masyarakat Indonesia secara umum dan daerah khususnya.

Dari perspektif demokrasi dan penghematan anggaran, pemilu serentak merupakan pilihan yang tepat. Namun, disisi lain, banyak pihak yang khawatir terhadap maraknya praktik praktik kotor seperti politik uang yang dimainkan oleh para calon anggota DPRD (Kabupaten/kota dan Provinsi), DPR RI, DPD bahkan Calon Presiden dan Wakil Presiden.

Isu politik uang bukan lagi menjadi rahasia umum dalam percaturan politik kita. Bahkan menurut hasil berbagai lembaga survey setiap periode lima tahun kecenderungan nya terus meningkat. 

Politik uang diakui atau tidak merupakan momok yang sangat menakutkan bagi proses demokrasi yang ada di Indonesia. Politik dan uang adalah merupakan dua hal yang berbeda namun tidak dapat  dipisahkan antara satu sama lainnya karena untuk berpolitik orang membutuhkan uang dan dengan uang orang dapat berpolitik.

 Hal ini disebakan oleh karena politik itu merupakan arena yang sangat 
menggiurkan untuk melakukan berbagai macam transaksi yang disebut dengan istilah "money politik". 

Money politik bukanlah merupakan barang 
baru bagi system demokrasi yang ada di Indonesia karena sejak awal mulai pemilihan secara langsung digulirkan, praktek praktek seperti ini sudah berlangsung sehingga ini tentunya harus kita waspadai bersama. 

Waspada dalam arti untuk tidak ikut serta dalam praktek praktek yang jelas jelas merugikan proses demokrasi bangsa ini, selain itu juga money politik itu dapat meremehkan, selain kepada pemilih dan politisi juga terhadap institusi demokrasi yang ada di negara ini. 

Dari sinilah muncul berbagai macam konflik yang berkepanjangan yang notabenya sangat mengganggu stabilitas daerah maupun nasional. Dengan demikian berbagai macam masalah yang ditimbulkan oleh money politik ini diantaranya adalah 
situasi dan iklim politik menjadi tidak stabil, menghilangkan kesempatan munculnya pemimpin atau parlemen berkualitas.

 Money Politics juga akan menjadi cikal-bakal korupsi  dan dapat mempengaruhi partisipasi politik masyarakat

 Dari rentetan peristiwa politik uang yang telah terjadi dan ada yang telah diproses secara hukum, menunjukkan  bahwa "racun" demokrasi ini ibarat fenomena gunung es  yang hanya nampak di permukaan namun sesungguhnya dibawah sudah berlangsung lama. 

Kasus OTT KPK terhadap salah seorang politisi yang diduga kuat akan melakukan  "serangan fajar" baru baru ini merupakan contoh sekaligus mengukuhkan fenomena gunung es itu. "Penangkapan ini barangkali apes aja bagi pelaku. Kita menduga jangan jamgan praktik politik uang sudah terjadi dimana-mana. Ini Ibarat fenomena gunung es," kata Ketua KPK Agus Rahardjo baru baru ini.

Tulisan ini tidak berpretensi mengarahkan pemilih untuk memilih calon (caleg), DPD dan Capres-cawapres tertentu. Namun lebih kepada memberi pencerahan dan warning kepada seluruh masyarakat yang memiliki hak pilih agar tidak terjebak dalam pusaran permainan politik uang yang diperankan oleh para kontestan.

Kalau kita semua sepakat agar pemilu tahun ini bersih, rakyat berdaulat dan Negara bermartabat: Jangan Pilih Politisi yang membeli suara Anda dengan uang atau barang. 

Pilihlah mereka yang memiliki rekam jejak yang clear and clean, kinerjanya baik (bagi Inkumben). Dan bagi caleg pendatang baru, pilih yang memiliki record akademik, yang kompeten/kapabel serta memiliki program atau visi dan misi yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan. Bukan caleg yang populer tapi tidak bermoral yang dalam benak pikiran nya duit adalah segalanya. Duit bisa membeli suara.

Terakhir, ayo kita ramaikan TPS masing-masing, Rabu tanggal 17 April 2019. Ada lima kertas suara yang tersedia:1. Warna hijau untuk DPRD kabupaten/kota. 2. Biru untuk DPRD provinsi.3. Kuning untuk DPR RI.4. Merah untuk DPD RI dan 5. Abu abu untuk Presiden dan wakil presiden.

Selamat mencoblos, Selamat berkontestasi (***)

Penulis adalah: Anggota PWI dan Wartawan Senior  Riau

 
 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Senin, 22 April 2019 | 12:22:59

UN Tingkat SD dan SMP di Pinggir dan Talang Muandau, Aman dan Kondusif

Pinggir - Ujian Nasional untuk tingkat pedidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), hari ini Senin (22/04), serentak di gelar.Seperti halnya di wilayah Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis,
Minggu, 21 April 2019 | 11:17:41

Benarkah Jokowi Tak Bisa Menang Pilpres meski Raih 51 Persen Suara Lebih? Begini Faktanya

JAKARTA-Benarkah Jokowi Tak Bisa Menang Pilpres Meski Raih 51 Persen Suara Lebih? Begini Faktanya JAKARTA-Beredar sebuah tulisan soal paslon 01, Joko Widodo (Jokowi)-Maruf Amin yang diisukan tidak bisa memenan
Minggu, 21 April 2019 | 10:35:58

Kumpulan Ucapan Hari Kartini 2019

Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini setiap tahunnya.Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penghargaan atas segala jasa perempuan di sekeliling Anda, satu diantaranya dengan memberi uca
Minggu, 21 April 2019 | 10:27:47

Kedewasaan dalam Berdemokrasi

PEMILIHAN umum (Pemilu) akhir­nya telah selesai dilakukan de­ngan menghasilkan pasangan Presi­den dan Wakil Presiden, juga anggota DPR, DPD, dan DPRD pada periode 2019-2024. Setidak-tidaknya, hasil per­­hi
 
Berita Lainnya
Minggu, 21 April 2019 | 10:27:47

Kedewasaan dalam Berdemokrasi

PEMILIHAN umum (Pemilu) akhir­nya telah selesai dilakukan de­ngan menghasilkan pasangan Presi­den dan Wakil Presiden, juga anggota DPR, DPD, dan DPRD pada periode 2019-2024. Setidak-tidaknya, hasil per­­hi
 
Minggu, 21 April 2019 | 10:03:49

Tuhan Tidak Melihat Agamamu

KITA sepakat dalam suatu pema­ha­man yang utuh bahwa surga adalah hak prerogatif nya Tuhan dan manusia se­tinggi apapun ibadahnya takkan mam­pu memberi satu kepastian bah­wa si anu masuk surga dan si ana m
 
Minggu, 14 April 2019 | 07:36:36

Menjaga Pilpres

Hari pencoblosan Pemilu Pemilihan Pre­siden (Pilpres) tinggal beberapa hari lagi. Tepatnya pada hari Rabu Tanggal 17 April 2019 nanti. Ka­dang hati tak sabar lagi menunggu hari pen­coblosan ini.
 
Minggu, 7 April 2019 | 07:45:04

Neuro Ledership Menuntun Lahirnya Neuro Creativity

Persaingan yang terjadi saat ini bukan hanya di dunia usaha saja, melainkan semua orang sampai negara sedang berada pada posisi bersaing. Mungkin sebagian ada yang kurang sependapat karena istilah persaingan
 
Jumat, 5 April 2019 | 19:14:27

Jangan Pilih (Calon) Penebar Uang

Seiring bertambahnya jumlah Partai Politik, dapil dan kursi, persaingan peserta pemilu semakin ketat. Dibandingkan tahun 2014 jumlah Partai Politik nasional pada pemilu tahun ini bertambah menjadi 16 diluar 4 P
 
Minggu, 31 Maret 2019 | 09:58:00

Hegemoni Pendidikan dan Pendidikan yang Membebaskan

Menurut rumusan Antonio Gra­maci, hegemoni diarti­kan sebagai sebu­ah upaya pihak elit penguasa yang mendo­minasi untuk meng­giring cara berpikir, bersikap, dan menilai masyarakat agar sesuai dengan k
 
Jumat, 29 Maret 2019 | 15:20:46

Mengatasi Tantangan Operasional UNTSO, UNDOF, dan Misi UNIFIL

Penasehat Militer RI Untuk PBB, Brigjen TNI Fulad, S.Sos., M.Si. menghadiri pertemuan Military Staff Committee Dewan Keamanan PBB yang membahas masalah UNTSO, UNDOF, dan UNIFIL – Lebanon beberapa saat lalu, yan
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 10:00:32

Di Balik 80 Juta Bisa Apa

Kalimat 80 juta bisa dapat apa seketiga me­nyebar bak se­rangan fajar. Semua din­ding-dinding akun media sosial apa­pun itu dibanjiri oleh kalimat tersebut. Kalimat ta­nya yang se­mua orang akhirnya tahu m
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 09:20:13

Bias Gender dalam Kasus Prostitusi Online

Setelah sempat menyeruak pada tahun 2015, kasus pros­titusi on­line yang melibatkan para artis kembali naik ke permukaan. Kali ini melibatkan artis kenamaan Vanessa Angel. ditang­kap Kepolisian daerah Jawa
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:50:06

Pelecehan di Dunia Akademik

Beberapa waktu yang lalu kita mende­ngar seorang maha­siswi S3 mem­polisi­kan rektor sebuah PTS kare­na di­lempar disertasi. Ikhwalnya, sebagai­mana diberitakan banyak media, m­a­hasiswi S3 tersebut menjelaskan
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:29:18

Prostitusi, Hukum dan Moralitas

Di tengah kasak-kusuk Pemilu 2019, sua­sana awal tahun menda­dak heboh dengan keberhasilan Polda Jawa Timur memergoki sekaligus me­nangkap VA, AS dan R terkait kasus pros­titusi di Surabaya. Kendati prostitusi
 
Minggu, 6 Januari 2019 | 07:57:54

Bencana Alam di Awal 2019

TAHUN 2019 telah diawali dengan ben­cana tanah longsor di Desa Sirnaresmi, Ke­­camatan Cisolok, Kabu­pa­ten Suka­bu­mi, Jawa Barat.  Bencana tersebut te­lah  merenggut puluhan jiwa manusia d
 
Rabu, 5 Desember 2018 | 14:20:45

Korupsi Masa Orba, Ini Pernyataan Ahmad Basarah

Pertama, saya ingin letakkan dulu konteks dan teks pernyataan media saya tentang mantan Presiden Soeharto. Saya ditanya oleh teman-teman media tentang pernyataan Capres Pak Prabowo di forum internasional yang m
 
Kamis, 27 September 2018 | 13:10:16

Eksistensi TNI Dalam Pendidikan Karakter Bangsa

Persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu mengenai semua aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dan dialog di media elektronik.
 
Kamis, 20 September 2018 | 11:11:18

Babinsa di Lombok Saat Gempa, Antara Keluarga dan Tugas

Musibah gempa bumi yang mengguncang Pulau Lombok, Sumbawa dan Sumbawa Barat beberapa waktu lalu telah menyisakan kenangan dan cerita yang mengharukan bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya bagi
 
 
 
Terpopuler

1

21 Apr 2019 10:27 | 510 views
Opini

Kedewasaan dalam Berdemokrasi

2

21 Apr 2019 10:03 | 331 views
Opini

Tuhan Tidak Melihat Agamamu

 
 
 
 
 
 
Top