Terverifikasi Dewan Pers
 
Minggu, 31 Maret 2019 | 09:58:00
Opini

Hegemoni Pendidikan dan Pendidikan yang Membebaskan

Oleh: Poltak MS

Sebarkan:
(Foto: Google)
Ilustrasi

Menurut rumusan Antonio Gra­maci, hegemoni diarti­kan sebagai sebu­ah upaya pihak elit penguasa yang mendo­minasi untuk meng­giring cara berpikir, bersikap, dan menilai masyarakat agar sesuai dengan kehendaknya. Hegemoni bisa berlangsung secara halus, tanpa terasa, tetapi masyarakat secara suka­rela mengikuti dan menja­laninya. Secara sempit, hegemoni selalu bi­cara pengaruh kepe­mimpinan, dominasi dan kekua­saan. Teori hegemoni tidak saja diterapkan dalam sebuah bentuk kekuasaan negara tetapi pendidikan di dalam­nya. Teo­ri ini menjelaskan bagaimana ma­syarakat sosial bisa rela dan puas ter­hadap pendidikan yang ada, bukan pendidikan yang berdiri karena murni oleh kepen­tingan masyara­katnya tetapi oleh kepentingan luar yang lebih ekono­mik dan politik. Dalam dunia pendidikan, hegemoni justru dilancarkan secara sistematis dan cerdas.

Pada masa Orde Baru (Orba) jelas sekali hegemoni ini sangat terasa dan dilancarkan sekian lama­nya. Ketika itu, ada pelembagaan Pedoman Penghayatan dan Penga­malan Pancasila (P4) yang diberikan secara wajib kepada peserta didik pada setiap jenjang pendidikan, selain juga kepada instansi-instansi tertentu. Pelembagaan seperti P4 inilah yang kemudian melakukan 'penertiban' cara berpikir masya­rakat agar bersifat Pancasilais. Maka, adalah sebuah kewa­jaran bila pada masa itu masyarakat kita akan memandang sinis pada orang-orang (aktivis) yang berusaha kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tidak on the track. Akibat adanya hegemoni pemerintah inilah pada akhirnya para aktivis itu dituding sebagai 'pemberontak'.

Setali tiga uang, kebiasaan-kebiasaan mencontek, ker­jasama dengan teman, atau bahkan bertanya pada guru pengawas ketika ujian adalah dipandang wajar dan legal ke­tika tujuan menimba ilmu di sekolah atau lembaga pendi­dikan adalah hanya soal nilai, nilai yang dianggap adalah segala-galanya. Lihatlah hiruk pikuk kekinian ketika para siswa SMP dan SMU tengah menghadapi Ujian Nasional (UN). Segala cara curang pun pada akhir­nya harus dilakukan demi mencapai tingkat kelulusan yang tinggi, dan segalanya telah menge­sampingkan nilai-nilai kejujuran yang se­sungguhnya adalah tujuan paling mulia dari penyelenggaraan pendi­dikan nasional kita.

Betapa hegemoni pendidikan yang 'mengancam' para siswa yang ikut UN dengan standar nilai yang harus dicapai jika ingin dinyatakan lulus dari 3 tahun masa pendidikan yang ditempuhnya. Belum lagi oleh dinas pendidikan setem­pat, pihak penyelenggara pendidikan (seko­lah) ditargetkan harus mampu melu­luskan seluruh muridnya apabila ingin mempertahankan atau me­ning­katkan status sekolah seba­gai penyelenggara pendidikan terbaik dan terfavorit dalam suatu cakupan wilayah. Begitulah hegemoni telah mendarah da­ging sejak lama dan amatlah sulit untuk dikikis habis karena sudah menjadi tradisi dan kewajaran yang diterima oleh ma­syarakat dan didukung oleh orang tua peserta didik. Sebab, semua tujuan akhirnya adalah nilai yang bagus dan capaian kelulusan seratus persen.

Ancaman hegemoni dalam dunia pendidikan kita juga sesungguhnya datang dari hegemoni neolibe­ralisme. Neoli­beralisme menampil­kan wajah hegemoniknya lewat si­mulacra (pembangunan citra, image) yang dikemas dalam bentuk iklan-iklan, icon (lambang), merek, terma­suk secara sistemik memba­ngun ke­kuatan antar negara/kawa­san da­lam perekonomian liberal. Kesada­ran-kesadaran yang dibius­kan oleh hegemoni neoliberalisme kepada masyarakat, sering tidak disadari. Masyarakat mengikuti saja bahwa yang dika­takan cantik itu adalah sosok perempuan yang berkulit putih, langsing, berambut panjang dan berwajah bersih bak porselen.

Pendidikan yang Membebaskan

Dalam perspektif Freirian, pendi­dikan adalah alat pe­nguasa untuk melanggengkan kekuasaan­nya. Akibatnya, reka­yasa sejarah, pemu­tar balikan fakta, pembodohan-pem­bo­dohan, dan pemandulan sikap kritis, menjadi hal biasa dilakukan oleh penguasa dalam konteks politik pendidikan. Pendidikan sebagai institusi sosial dipakai sebagai alat pe­net­rasi pemikiran, nilai-nilai dan cara berpikir pihak penguasa terha­dap rakyatnya. Hal itu dilaku­kan agar terdapat legitimasi dari rakyat terhadap kekuasaan yang dijalankan tanpa ada proses, sebab pola pikir masyarakat sudah dibentuk dengan 'selera' penguasa. Dari perspektif ini, hampir bisa disimpulkan bahwa pendidikan bukanlah sebuah faktor tunggal yang bebas nilai, melainkan rangkaian dari lembaga-lembaga sosial yang disetir oleh kepentingan tertentu.

Dilihat dari jenjang pendidikan yang rata-rata ditempuh oleh masyarakat kita, katakanlah 12 tahun (SD-SLTA) atau 17 tahun (jika dihitung masa tempuh rata-rata lulusan S1), menunjukkan betapa lamanya jenjang pendidikan. Dengan waktu yang cukup lama ini, sektor pendidikan menjadi stra­tegis untuk dijadikan ladang indoktrinasi, hegemoni, juga pen­cip­taan kesadaran-kesadaran palsu. Ladang pendidikan ini bertambah subur lagi dengan rezim positivis­tik yang telah menelusuk ke dalam sanubari masyarakat du­nia terma­suk Indonesia bahwa ilmu itu netral, dunia pendidikan itu netral, tidak terkait dengan kepen­tingan po­litik, ekonomi, bebas kepentingan dan bebas nilai. Kesa­daran seperti ini membawa pengaruh terhadap sema­kin mudahnya kebijakan-kebi­jakan penguasa dalam pendidikan disepa­kati dan mudahnya melaku­kan intervensi dunia pen­didikan karena dianggap tetap steril.

Dalam dunia pendidikan kita, neoliberalisme melancar­kan hege­moni dengan melakukan kapitalisasi pendidikan, yaitu pendidikan dija­dikan sebagai barang dagangan, tanpa melihat lagi misi pendidikan yang manusiawi. Implikasi dari se­kian lamanya neoliberalisme meng­hegemoni dunia pendidikan kita, dengan gampang ditemukan lewat kesa­daran palsu, yaitu bahwa kesuksesan dan derajat kemuliaan seseorang diukur dari kuliah, lulus secepatnya dengan nilai tinggi, kerja pada tempat yang paling banyak menghasilkan uang, atau bisa men­capai taraf ekonomi lebih dari­pada yang lainnya. Sebagai implikasinya, masyarakat pun cenderung menilai orang dari mobil yang dipakai, se­berapa besar dan mentereng ru­mahnya, dan lain-lain. Jiwa dan sikap intelek­tualitas, suka mengkaji suatu fenomena, memiliki rasa keingintahuan, dan naluri pendidi­kan yang tinggi, memegang prinsip kebenaran ilmiah, dan rasa keadilan, justru meru­pakan musuh bagi neoliberalisme.

Begitulah hegemoni. Maka, bagi kaum yang mengingin­kan sebentuk perubahan progresif, harus melaku­kan counter hegemoni. Lemahnya bangsa Indonesia dalam merumus­kan filosofi dan konsep pendidikan serta praktek pendidikan yang ambu­radul, membuka celah yang sangat lebar kepada hegemoni neoli­beralisme. Filosofi pendidikan pem­bebasan sampai saat ini masih me­rupakan filosofi yang dapat dipakai untuk melakukan counter hegemoni penguasa maupun kaum neolibera­lisme. Pendidikan pembe­basan pada hakekatnya memandang manusia sebagai manusia, dan bu­kan sebagai objek yang dapat diper­lakukan dan dimanfaatkan seenak­nya oleh penguasa.

Pendidikan yang membebaskan melihat keadaan ling­kungannya dan rakyatnya, karena pendidikan pem­bebasan tidak mengalienasi (menga­singkan) peserta didiknya dari reali­tas lingkungannya. Demo­krasi me­ru­pa­kan ruh dalam pendi­dikan pem­bebasan, sehingga dalam meto­de dan praktek pengajarannya pun tetap partisipatif dan dialogis. Pen­didikan pembebasan akan me­ne­mui hasil apabila hegemoni itu sendiri dapat ditumbangkan, yakni dengan me­ngi­si konsep pedagogis yang mem­berikan pembebasan berpikir yang baru.

Di sinilah kita perlu memperbin­cang­kan soal kurikulum pendidikan yang membebaskan, yang tidak menilai kemam­puan peserta didik dari sekadar angka-angka nilai prestasi ujian teoritis belaka. Kurikulum pendidikan yang mem­bebaskan peserta didiknya dari buku-buku teks tebal yang isinya harus dihapalkan dengan meng­indahkan proses pem­belajaran sesungguhnya dalam lingkungan masyarakatnya. Sudah saatnya hegemoni pendidikan itu ditak­lukkan dengan membuat kurikulum baru yang betul-betul menghu­bungkan peserta didiknya untuk memahami realitas sosial keseha­riannya tanpa dibebani dogmatisasi berbagai ilmu yang sesungguhnya sulit diterapkannya di kehidupan nyata.

Mau tidak mau, pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang tidak membuat beban para peserta didik menjadi berat, melain­kan membuat pendidikan itu adalah sesuatu yang menyenangkan, meng­gairahkan dan tanpa beban target nilai tertentu, seperti yang dicon­tohkan beberapa sekolah pendidikan alam yang mulai menjamur di Tanah Air. Jadi, kekakuan pendidikan yang terpenjara di dalam gedung-gedung mentereng itu memang sudah saatnya dihapuskan dan dikem­balikan ke alam bebas yang sesung­guhnya menjadi tempat mereka akan kembali. ***

ottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:11.35pt;line-height:9.6pt;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none'>Jika tak mau dan tak mam­pu bergerak, apalagi kreatif dan inovatif, alih-alih berharap pada sebuah peru­bahan, jangan-jangan penge­lo­laan dana BOS yang ada bisa diperlakukan seakan memang dana bos di sekolah itu. Marilah, membangun sekolah!***

* Penulis Kasi Kurikulum dan Penilaian SMP Disdik Kota Medan

Sumber:http://harian.analisadaily.com

 
 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Senin, 22 April 2019 | 12:22:59

UN Tingkat SD dan SMP di Pinggir dan Talang Muandau, Aman dan Kondusif

Pinggir - Ujian Nasional untuk tingkat pedidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), hari ini Senin (22/04), serentak di gelar.Seperti halnya di wilayah Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis,
Minggu, 21 April 2019 | 11:17:41

Benarkah Jokowi Tak Bisa Menang Pilpres meski Raih 51 Persen Suara Lebih? Begini Faktanya

JAKARTA-Benarkah Jokowi Tak Bisa Menang Pilpres Meski Raih 51 Persen Suara Lebih? Begini Faktanya JAKARTA-Beredar sebuah tulisan soal paslon 01, Joko Widodo (Jokowi)-Maruf Amin yang diisukan tidak bisa memenan
Minggu, 21 April 2019 | 10:35:58

Kumpulan Ucapan Hari Kartini 2019

Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini setiap tahunnya.Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penghargaan atas segala jasa perempuan di sekeliling Anda, satu diantaranya dengan memberi uca
Minggu, 21 April 2019 | 10:27:47

Kedewasaan dalam Berdemokrasi

PEMILIHAN umum (Pemilu) akhir­nya telah selesai dilakukan de­ngan menghasilkan pasangan Presi­den dan Wakil Presiden, juga anggota DPR, DPD, dan DPRD pada periode 2019-2024. Setidak-tidaknya, hasil per­­hi
 
Berita Lainnya
Minggu, 21 April 2019 | 10:27:47

Kedewasaan dalam Berdemokrasi

PEMILIHAN umum (Pemilu) akhir­nya telah selesai dilakukan de­ngan menghasilkan pasangan Presi­den dan Wakil Presiden, juga anggota DPR, DPD, dan DPRD pada periode 2019-2024. Setidak-tidaknya, hasil per­­hi
 
Minggu, 21 April 2019 | 10:03:49

Tuhan Tidak Melihat Agamamu

KITA sepakat dalam suatu pema­ha­man yang utuh bahwa surga adalah hak prerogatif nya Tuhan dan manusia se­tinggi apapun ibadahnya takkan mam­pu memberi satu kepastian bah­wa si anu masuk surga dan si ana m
 
Minggu, 14 April 2019 | 07:36:36

Menjaga Pilpres

Hari pencoblosan Pemilu Pemilihan Pre­siden (Pilpres) tinggal beberapa hari lagi. Tepatnya pada hari Rabu Tanggal 17 April 2019 nanti. Ka­dang hati tak sabar lagi menunggu hari pen­coblosan ini.
 
Minggu, 7 April 2019 | 07:45:04

Neuro Ledership Menuntun Lahirnya Neuro Creativity

Persaingan yang terjadi saat ini bukan hanya di dunia usaha saja, melainkan semua orang sampai negara sedang berada pada posisi bersaing. Mungkin sebagian ada yang kurang sependapat karena istilah persaingan
 
Jumat, 5 April 2019 | 19:14:27

Jangan Pilih (Calon) Penebar Uang

Seiring bertambahnya jumlah Partai Politik, dapil dan kursi, persaingan peserta pemilu semakin ketat. Dibandingkan tahun 2014 jumlah Partai Politik nasional pada pemilu tahun ini bertambah menjadi 16 diluar 4 P
 
Minggu, 31 Maret 2019 | 09:58:00

Hegemoni Pendidikan dan Pendidikan yang Membebaskan

Menurut rumusan Antonio Gra­maci, hegemoni diarti­kan sebagai sebu­ah upaya pihak elit penguasa yang mendo­minasi untuk meng­giring cara berpikir, bersikap, dan menilai masyarakat agar sesuai dengan k
 
Jumat, 29 Maret 2019 | 15:20:46

Mengatasi Tantangan Operasional UNTSO, UNDOF, dan Misi UNIFIL

Penasehat Militer RI Untuk PBB, Brigjen TNI Fulad, S.Sos., M.Si. menghadiri pertemuan Military Staff Committee Dewan Keamanan PBB yang membahas masalah UNTSO, UNDOF, dan UNIFIL – Lebanon beberapa saat lalu, yan
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 10:00:32

Di Balik 80 Juta Bisa Apa

Kalimat 80 juta bisa dapat apa seketiga me­nyebar bak se­rangan fajar. Semua din­ding-dinding akun media sosial apa­pun itu dibanjiri oleh kalimat tersebut. Kalimat ta­nya yang se­mua orang akhirnya tahu m
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 09:20:13

Bias Gender dalam Kasus Prostitusi Online

Setelah sempat menyeruak pada tahun 2015, kasus pros­titusi on­line yang melibatkan para artis kembali naik ke permukaan. Kali ini melibatkan artis kenamaan Vanessa Angel. ditang­kap Kepolisian daerah Jawa
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:50:06

Pelecehan di Dunia Akademik

Beberapa waktu yang lalu kita mende­ngar seorang maha­siswi S3 mem­polisi­kan rektor sebuah PTS kare­na di­lempar disertasi. Ikhwalnya, sebagai­mana diberitakan banyak media, m­a­hasiswi S3 tersebut menjelaskan
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:29:18

Prostitusi, Hukum dan Moralitas

Di tengah kasak-kusuk Pemilu 2019, sua­sana awal tahun menda­dak heboh dengan keberhasilan Polda Jawa Timur memergoki sekaligus me­nangkap VA, AS dan R terkait kasus pros­titusi di Surabaya. Kendati prostitusi
 
Minggu, 6 Januari 2019 | 07:57:54

Bencana Alam di Awal 2019

TAHUN 2019 telah diawali dengan ben­cana tanah longsor di Desa Sirnaresmi, Ke­­camatan Cisolok, Kabu­pa­ten Suka­bu­mi, Jawa Barat.  Bencana tersebut te­lah  merenggut puluhan jiwa manusia d
 
Rabu, 5 Desember 2018 | 14:20:45

Korupsi Masa Orba, Ini Pernyataan Ahmad Basarah

Pertama, saya ingin letakkan dulu konteks dan teks pernyataan media saya tentang mantan Presiden Soeharto. Saya ditanya oleh teman-teman media tentang pernyataan Capres Pak Prabowo di forum internasional yang m
 
Kamis, 27 September 2018 | 13:10:16

Eksistensi TNI Dalam Pendidikan Karakter Bangsa

Persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu mengenai semua aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dan dialog di media elektronik.
 
Kamis, 20 September 2018 | 11:11:18

Babinsa di Lombok Saat Gempa, Antara Keluarga dan Tugas

Musibah gempa bumi yang mengguncang Pulau Lombok, Sumbawa dan Sumbawa Barat beberapa waktu lalu telah menyisakan kenangan dan cerita yang mengharukan bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya bagi
 
 
 
Terpopuler

1

21 Apr 2019 10:27 | 510 views
Opini

Kedewasaan dalam Berdemokrasi

2

21 Apr 2019 10:03 | 331 views
Opini

Tuhan Tidak Melihat Agamamu

 
 
 
 
 
 
Top