Iklan Sosial
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 10:00:32
Opini

Di Balik 80 Juta Bisa Apa

Oleh: Salamun Nasution

Sebarkan:
(Foto:google )
Ilustrasi

Kalimat 80 juta bisa dapat apa seketiga me­nyebar bak se­rangan fajar. Semua din­ding-dinding akun media sosial apa­pun itu dibanjiri oleh kalimat tersebut. Kalimat ta­nya yang se­mua orang akhirnya tahu mak­sud dan tujuannya ke mana serta siapa yang disindir dan dimak­sud­kan.

Nah, kalimat 80 juta bisa apa kemudian men­jadi tempat di pikiran masyarakat ka­rena telah dibingkai sedemikian rupa oleh para netizen yang merasa paling benar. Mereka merang­kai bullyan bertajuk 80 juta bisa apa untuk menjadi bahan ter­tawaan. Kalimat itu pun akhirnya membe­kas di pikiran kita karena setiap membuka sosial media ada saja yang menjadikan ini menjadi suatu bahan candaan dengan kreasinya masing-masing.

Vanessa Angel atau VA salah satu artis Indonesia yang di­ciduk oleh pihak kepo­lisi­an akibat prostitusi onlinelah yang ke­mu­dian menjadi akar timbulnya kalimat 80 juta bisa dapat apa, yang beberapa hari ini menjadi spam (untuk penulis) di din­ding akun media sosial  belakangan ini. Pihak kepolisian me­nangkap Vanessa Angel karena diduga ikut dalam pusaran pros­titusi online dengan tarif Rp80 juta sekali berkencan.

Maksud dari tulisan ini bukan kembali untuk membahas pros­titusi online di ka­langan artis. Karena jauh sebelum ia ter­­tang­kap kasus prostitusi di kalangan artis bu­kanlah barang baru lagi. Yang jadi per­hatian adalah semenjak kasus ini bergu­lir tim­bul satu bentuk keprihatinan atas kede­wasaan di media sosial. Pasalnya kalimat mau­pun angka 80 juta menjadi landmark untuk sang artis tersebut. Pri­hatin  juga terhadap oknum war­ganet yang menjadi­kan isu ini sebagai santapan untuk mem­peroleh keuntungan baik dari segi viewers ataupun follo­wers maupun "dui­ters". Dibalik 80 juta bisa apa ternyata ada orang yang dibully dan ada orang yang mendapat keun­tungan dari bullyan.

Kelebihan Porsi

Di tengah akun-akun media sosial lain yang kemudian me­lakukan pembullyan ber­lanjut kepada VA, penulis malah terta­rik terhadap postingan Deddy Corbuzier di akun instag­ramnya yang mengkritik ung­kapan maaf dari VA yang dinilai tidak pan­tas. Di postingan Deddy mengatakan bahwa yang membuat kegaduhan adalah media. Terlepas dari permintaan maaf atau tidak itu adalah hak dari VA yang menya­dari ke­salahannya.

Awalnya penulis memang  tidak terlalu memperhatikan hal tersebut, namun beberapa hari kemudian terbitlah sebuah "kalimat berantai" yang diteruskan oleh para warganet tentang 80 juta bisa dapat apa. Netizen pun ramai-ramai kalimat ter­se­but. Postingannya pun beragam mulai dari hanya sebatas kata-kata, meme, komik maupun video kreasi warganet yang me­na­makan diri sebagai selebgram. Tentunya de­ngan tem 80 juta dapat apa?

Tentunya hal ini menjadi kerisihan ter­sendiri dan menjadi tan­da tanya, se­be­gi­tunyakah menanggapi kasus ini? Ada apa dengan VA dan mengapa sebegi­tu­nya ia mendapat perlakuan dari warganet terse­but. Apakah karena tarifnya atau di­karena­kan ia seorang publik figur? Atau ada hal lain untuk mencari keuntungan pri­badi dengan memanfaatkan kasus yang lagi hangat.

Jika memang ada yang merasa tulisan ini dimaksudkan pem­belaan untuknya pe­nulis  tidak menyangkali itu. Namun yang perlu digarisbawahi adalah pembelaan terhadap orangnya yang menjadi bulan-bulanan di sosial media bukan pembelaan terhadap kasus dan perbuatannya.

Mengapa pembelaan terhadap orang­nya? Penulis merasa pemberitaan VA su­dah kelebihan porsi di tengah banyaknya per­­masalahan yang sebenrnya lebih pen­ting lagi untuk diba­has. Selanjutnya ke­prihatinan terhadap beberapa akun yang men­­coba mengambil keuntungan dengan ada­nya kasus ini. Mereka mengolah sede­mikian mungkin kasus ini menjadi konten yang kreatif. Yang  jadi permasalahannya adalah kalian, kita atau siapapun itu apa­kah pantas menjadikan orang sebagai olok-olokan dan menjadikan ia bahan becan­daan dan bahan kekreatifan kita atau siapapun itu.

Jika diibaratkan kita kini sedang menari di atas penderitaan orang lain. Dengan kasus seperti itu kita sama-sama sepakat se­bagai makhluk yang beragama dia memang bersalah, titik! Namun apakah pantas kita terus-terusan memberikan bullyan dengan branding tersebut. Di te­ngah ia yang masih punya keluarga yang tidak menutup kemungkinan juga melihat bullyan tersebut. Coba tarik kembali jika kita adalah salah satu keluarganya.

Dengan dibawanya ia ke kantor polisi dan membuat per­mintaan maaf di depan awak media mungkin bisa jadi hu­kuman sosial yang telah ia dapatkan. Tak perlulah nam­­paknya kita juga ikut-ikutan menghu­kum­nya dengan melebeli ia dengan 80 juta bisa dapat apa. Dan menyebar luas foto mau­pun video yang pernah ia unggah di akun media sosialnya. Kita semua sepakat apa yang dilakukannya bersalah. Kita juga mendukung pihak kepolisian untuk segera membongkar prostitusi online di kalangan artis yang bukan sekali ini saja terungkap.

Beritakan lah ia sesuai dengan porsinya dan jangan terlalu membingkai ia dan me­ngambil angel berita yang sama sekali tidak penting. Seperti misalnya berita ten­tang harga alat kon­trasepsi (kondom). Atau celana dalam ungu yang menjadi alat bukti.

Ingat pengguna media sosial bukan hanya orang-orang dewasa saja, banyak anak-anak di bawah umur juga yang men­jadi pengguna setia media sosial. Jika VA berhari-hari menghiasi media sosial bagai­mana cara kita mengedukasi anak-anak di bawah umur tersebut. Sesuatu yang ia tidak diketahui tapi dikarenakan sering ia lihat dan ia baca me­nim­bulkan rasa ingin tahunya dan menggerakan nalurinya untuk mencari. Stop porsi yang sudah berlebihan ini.

Dibalik itu semua

Perlu digarisbawahi sekali lagi penulis mem­bela orangnya yang penulis rasa sudah keterlaluan mendapat bullya yang dilakukan banyak akun akun media sosial. Tak perlulah kita menjadi Tuhan bagi orang lain seakan kita yang paling suci di muka bumi ini. Manusia tempat salah dan dosa, bukan bullyan harusnya yang ia dapatkan melainkan ajakan untuk kembali ke jalan yang benar.

Jika terjadi kasus bully yang didapatkan se­seorang baik di sekolah maupun di ling­kungannya, kita sebagai warganet sama-sama mengutuk dan menolaknya. Nah, di kasus ini kita malah jadi orang  tersebut. Membully orang habis-habisan ka­rena perbuatan negatif yang ia lakukan. Lalu apa bedanya kita dengan ular berkepala dua.

Belum lagi kasus ini kemudian dija­dikan bahan kekreatifan yang bertujuan mendatangkan viewers dan menarik followers hingga menghasilkan "duiters". Jadi dibalik isu 80 juta bisa dapat apa ada orang yang menikmati itu semua. Ini bukan masalah VA saja, juga beberapa publik figur lainnya yang pembullyannya sudah keterlaluan.

Kasus VA ini mungkin bisa jadi pembe­la­jaran buat kita yang ingin sehat bermedia sosial. Ataupun membuat pukulan keras (Berharap) kepada akun-akun yang sudah ke­terlaluan dalam menyikapi hal tersebut. Di suasana tahun yang baru ini mungkin bi­salah kita selipkan resolusi untuk men­jadi warganet yang baik. Buatlah konten-kon­ten yang bisa menjadi edukasi bagi para penontonya. Bukan konten yang akhir­nya membuat kerusuhan dan meman­faat­kan kasus orang lain sebagai ide untuk meng­improvenya sesuai keinginan kita.

Banyak orang dan bahkan penulis sen­diri yang beralih dari televisi ke internet di­karenakan banyaknya tontonan yang tidak menjadi tuntunan. Namun jika ke­duanya pun tidak bisa mem­berikan tun­tun­an lalu kemana lagi masyarakat bisa men­da­­patkan tontonan yang sehat dan tidak me­nyesatkan. Lalu jika terus berlan­jut dan banyak yang mencontoh hal terse­but mau jadi apa generasi ke depanya. Generasi pembully?. ***

Penulis Adalah Alumni FISIP UMSU.

sumber:analisadaily.com

 
 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Kamis, 14 Februari 2019 | 19:05:59

Sidang Gugatan UKW Akhirnya Dimenangkan Dewan Pers

MEDAN-Persidangan yang dilakukan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Rabu (13/02/2019) kemarin, akhirnya dimenangkan oleh Dewan Pers.Sebelumnya, pada akhir April 2018, Dewan Pers telah digugat oleh SPRI dan
Rabu, 13 Februari 2019 | 19:35:15

Personel Bakamla Ikuti Operational Command Course di JCLEC

JAKARTA-Dalam perkembangannya menjadi Indonesian Coast Guard, personel Bakamla ditempa untuk meningkatkan kapabilitas dan kemampuannya, salah satunya yaitu dengan mengikuti undangan pelatihan Operational Comman
Rabu, 13 Februari 2019 | 19:30:50

Pemko Dumai Tetapkan Status Siaga Darurat

DUMAI- Pemerintah Kota Dumai menetapkan status siaga darurat bencana Kebakaran Lahan dan Hutan di Kota Dumai. Hal ini terkait dengan semakin meluasnya wilayah yang terbakar dan menyebabkan kualitas udara menjad
Selasa, 12 Februari 2019 | 20:21:44

Mappilu PWI Riau Hadiri Rakor Pemilu, Rusidi: Bawaslu Tidak Bisa Kerja Sendiri

PEKANBARU-Pasca dilantik beberapa hari lalu di Surabaya, Pengurus Daerah Masyarakat dan Pers Pemantau Pemilu (Mappilu) PWI Riau, menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Pengawasan dan Pemantauan Kampanye Pemilu 201
 
Berita Lainnya
Minggu, 20 Januari 2019 | 10:00:32

Di Balik 80 Juta Bisa Apa

Kalimat 80 juta bisa dapat apa seketiga me­nyebar bak se­rangan fajar. Semua din­ding-dinding akun media sosial apa­pun itu dibanjiri oleh kalimat tersebut. Kalimat ta­nya yang se­mua orang akhirnya tahu m
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 09:20:13

Bias Gender dalam Kasus Prostitusi Online

Setelah sempat menyeruak pada tahun 2015, kasus pros­titusi on­line yang melibatkan para artis kembali naik ke permukaan. Kali ini melibatkan artis kenamaan Vanessa Angel. ditang­kap Kepolisian daerah Jawa
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:50:06

Pelecehan di Dunia Akademik

Beberapa waktu yang lalu kita mende­ngar seorang maha­siswi S3 mem­polisi­kan rektor sebuah PTS kare­na di­lempar disertasi. Ikhwalnya, sebagai­mana diberitakan banyak media, m­a­hasiswi S3 tersebut menjelaskan
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:29:18

Prostitusi, Hukum dan Moralitas

Di tengah kasak-kusuk Pemilu 2019, sua­sana awal tahun menda­dak heboh dengan keberhasilan Polda Jawa Timur memergoki sekaligus me­nangkap VA, AS dan R terkait kasus pros­titusi di Surabaya. Kendati prostitusi
 
Minggu, 6 Januari 2019 | 07:57:54

Bencana Alam di Awal 2019

TAHUN 2019 telah diawali dengan ben­cana tanah longsor di Desa Sirnaresmi, Ke­­camatan Cisolok, Kabu­pa­ten Suka­bu­mi, Jawa Barat.  Bencana tersebut te­lah  merenggut puluhan jiwa manusia d
 
Rabu, 5 Desember 2018 | 14:20:45

Korupsi Masa Orba, Ini Pernyataan Ahmad Basarah

Pertama, saya ingin letakkan dulu konteks dan teks pernyataan media saya tentang mantan Presiden Soeharto. Saya ditanya oleh teman-teman media tentang pernyataan Capres Pak Prabowo di forum internasional yang m
 
Kamis, 27 September 2018 | 13:10:16

Eksistensi TNI Dalam Pendidikan Karakter Bangsa

Persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu mengenai semua aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dan dialog di media elektronik.
 
Kamis, 20 September 2018 | 11:11:18

Babinsa di Lombok Saat Gempa, Antara Keluarga dan Tugas

Musibah gempa bumi yang mengguncang Pulau Lombok, Sumbawa dan Sumbawa Barat beberapa waktu lalu telah menyisakan kenangan dan cerita yang mengharukan bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya bagi
 
Jumat, 14 September 2018 | 10:43:17

Sejarah Membuktikan, Papua adalah Indonesia Sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Tidak banyak orang Papua yang tahu bahwa saat anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) bersidang pada tanggal 14 Juli 1945, para founding fathers negara Indonesia itu telah
 
Rabu, 29 Agustus 2018 | 21:37:37

Kenapa Jokowi Berpelukan dengan Prabowo

Peristiwa yang membuat warga Indonesia terharu saat ini ketika melihat kedua calon presiden  Indonesia, Jokowi dan Prabowo  berpelukan. Keduanya berpelukan setelah Hanifan Yunadi Kusumah yang merupaka
 
Jumat, 27 Juli 2018 | 16:01:51

Tragedi Tenggelamnya KM Sinar Bangun

Gema Takbir berkumandang membahana ada dimana-mana sebagai pertanda perayaan Idul Fitri 1439 H tahun ini, karena umat Muslim telah berhasil melewati ujian untuk menahan hawa nafsu selama sebulan penuh melaksana
 
Selasa, 24 Juli 2018 | 13:39:27

PERANG DAGANG USA vs CHINA

Genderang perang Amerika Serikat (USA) dengan China sudah dikumandangkan. Namun perang ini bukan perang senjata (hard power) tetapi ini adalah perang ekonomi (soft power) yaitu perang dagang.  Kalau dulu U
 
Jumat, 6 Juli 2018 | 15:14:19

Peran Media Massa Dalam Memberantas Aksi Terorisme di Indonesia

Terorisme merupakan musuh dunia yang tidak mengenal batas wilayah dan undang-undang suatu negara.  Aksinya dapat terjadi di negara mana saja yang mereka targetkan, tidak terkecuali di negara Indonesia terc
 
Minggu, 27 Mei 2018 | 12:22:31

Bersatu Melawan Aksi Terorisme

Terorisme identik dengan kekerasan. Tindakan teroris menyebabkan keresahan, rasa takut di tengah masyarakat, melukai atau mengancam kehidupan, kebebasan, atau keselamatan orang lain dengan tujuan tertentu. Korb
 
Minggu, 20 Mei 2018 | 16:47:03

Cegah Terorisme Dengan Pendidikan

Beberapa waktu yang lalu, bahkan sampai saat ini hangat dibicarakan tentang terorisme. Dalam waktu yang berdekatan terjadi penyerangan di Surabaya sampai penyerangan Mapolda Riau di Pekanbaru.Seluruh masyarakat
 
 
 
Terpopuler
 
 
 
 
 
 
Top