Iklan Sosial
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:50:06
Opini

Pelecehan di Dunia Akademik

Oleh: Fotarisman Zaluchu

Sebarkan:
(Foto:google )
Ilustrasi

Beberapa waktu yang lalu kita mende­ngar seorang maha­siswi S3 mem­polisi­kan rektor sebuah PTS kare­na di­lempar disertasi. Ikhwalnya, sebagai­mana diberitakan banyak media, m­a­hasiswi S3 tersebut menjelaskan bah­wa ia telah se­bulan lamanya meminta tan­da ta­ngan yang dibutuhkan untuk me­leng­kapi proses administrasi disertasi­nya dari pe­­nguji yang notabene seorang rek­tor. Na­mun bukannya ditandatangani, sang pe­ngu­ji menolak, malah melempar draf di­­ser­tasi tersebut ke arah mahasiswi se­hing­ga mengenai lengan yang bersang­kutan.

Peristiwa tersebut adalah puncak dari upaya mahasiswi ter­se­but. Menurut mahasiswi tersebut, ia sangat dipersulit menda­patkan tanda tangan sang penguji. Seluruh pembimbing (3 orang) dan penguji (3 orang) nyatanya telah membe­ri­kan tanda tangan, namun penguji yang ter­akhir ini tetap menolak. Alhasil, atas ke­jadian pelemparan disertasi tersebut, sang mahasiswi melapor ke polisi dan Om­budsman Riau atas tuduhan peng­aniayaan.

Peristiwa pelemparan disertasi terse­but mungkin berkaitan dengan hal lain, yaitu masalah pribadi mahasiswi dengan pe­ng­ujinya tersebut, yaitu masalah pro­yek penelitian yang kemu­dian diba­has di grup-grup Whatsappinternal kam­pus. Namun tetap saja pelemparan diser­tasi kepada mahasiswi yang sedang ber­ada dalam koridor relasi penguji-yang diuji adalah sebuah kejadian yang me­ma­lukan.

Kejadian tersebut memperlihatkan sebuah kejadian yang tak pantas terjadi di dunia akademik yang begitu meng­har­gai etika dan penghargaan pada ke­mam­puan akademik itu. Namun pada saat yang sama kita juga melihat beberapa titik-titik "ge­lap" dunia akademik yang ma­sih sangat banyak dan jarang ter­ung­kap kepada publik. Saya mencoba mendiskusikannya dalam beberapa poin berikut.

Pertama, sungguh sangat tidak pantas, hak seseorang yang telah disetujui di­sertasinya kemudian ditunda-tunda tanpa ala­san yang berkenaan dengan masalah aka­demik. Kelulusan seorang mahasis­wa/i bukanlah ditentukan oleh mood tidaknya seorang penguji bahkan pem­bim­bing, namun pada kelayakan aka­de­mik yang telah ditempuh oleh yang ber­sangkutan. Dari kisah mahasiswi ter­se­but, sudah sebulan lamanya ia bolak-balik "meminta" tandatangan namun tak per­nah diberikan oleh pengujinya. Tanpa pen­jelasan yang memadai, maka hal terse­but sungguh sangat tidak dibenar­kan. Apakah regulasi di uni­ver­sitas tersebut tidak dibuat bahwa jika penguji tidak mem­berikan tandatangan maka seharusnya secara otomatis disertasi tersebut telah disetujui?

Tetapi sesungguhnya dunia akademik kita menyimpan begitu banyak keanehan yang rasanya begitu menye­dihkan bisa ter­jadi di kalangan akademisi dan il­mu­wan. Saya tahu mahasiswa misalnya tidak jarang telah sangat siap memper­tang­gung-jawabkan tulisan akademiknya (skripsi, tesis, disertasi). Tetapi acapkali kes­ulitan justru dialami ketika berha­dap­an dengan pembimbing atau penguji. Be­ragam alasan kita dengar. Ada dosen yang sibuk mengajar sana sini sehingga tak sempat membaca karya tulis maha­sis­wa, ada dosen yang me­ra­sa harus me­nye­lesaikan proyek penelitiannya ter­le­bih dahu­lu. Bahkan ada dosen yang mung­kin karena hanya perka­taan atau pe­rilaku mahasiswa tertentu, langsung mem­batalkan karya tulis mahasiwa yang no­tabene mungkin telah siap untuk di­per­tanggung-jawabkan.

Belum lagi keluhan-keluhan mahasis­wa sering menyuara­kan hal-hal yang sangat tidak mengenakkan untuk dide­ngar berkaitan dengan tandatangan ini. Di­antaranya bahwa tanda-tangan dosen ter­kadang bernilai rupiah tertentu atau ma­kanan tertentu. Ini bukan isapan jem­pol. Informasi-informasi dari mahasiswa yang merasa kecewa karena kerja ke­rasnya menye­lesaikan karya tulis il­miah­nya ternyata tidak dihargai, bahkan bisa dibatalkan karena dosen tertentu merasa tidak "diservis" dengan baik.

Kejadian seperti ini jangan bilang tidak ada. Tetapi maha­siswa yang mela­por­kannya dan mengangkatnya ke per­mu­kaan jangan harap bakal banyak. Ma­hasiswa tidak ingin mengambil risiko yang umum­nya merugikan mahasiswa sen­diri. Alhasil, mahasiswa menelan sen­diri pil pahit pengalaman pahit berhubu­ngan dengan dosen model mood seperti ini.

Maka kejadian yang diungkapkan oleh mahasiswi S3 di atas adalah refleksi begitu masifnya persoalan yang menim­pa dunia akademik kita dalam hal pe­nge­sahan sebuah karya tulis ilmiah ma­ha­siswa. Benar bahwa yang diberikan per­setujuan banyak yang menempuh jalan yang benar, namun tidak sedikit yang harus mengemis, menangis dan meratap terlebih dahulu.

Kedua, sungguh sangat tidak pantas jika masalah non karya tulis ilmiah dicampuradukkan di dalam pemberian sebuah tandatangan. Disini kita melihat relasi yang sangat tidak sehat, antara pe­nguji dengan yang diuji. Penguji meng­gu­nakan hak­nya sebagai penguji (dan mung­kin sebagai Rektor) sehingga ia me­rasa berhak tidak memberikan tanda ta­ngannya karena ketidakpuasan terha­dap mahasiswi yang diujinya tersebut pada masalah lain.

Otoritas keilmuwan yang lebih tinggi umumnya dipahami oleh orang awam ber­ada di tangan dosen. Inilah yang kemu­dian bablas. Akibatnya, mahasis­wa/i selalu berada di area lemah, semen­tara dosen harus dianggap paling tinggi dan yang selalu dihormati otoritas­nya.

Acapkali ini menyebabkan banyak ma­­hasiswa tak punya nyali untuk mene­mu­­kan kebebasannya di dalam melak­sa­nakan penelitian atau meramu tuli­san­nya. Mahasiswa umumnya hanya "cari aman", karena tidak ingin bermasalah ke­lak, karena tak sedikit dosen yang mur­ka, bahkan kemudian main fisik, seperti ke­­jadian di atas, hanya karena dosen yang bersangkutan merasa di dalam si­tuasi lain ia tidak dihargai. Maka keke­ra­san fisik dan non-fisik dalam dunia aka­­demik sebenarnya begitu banyak, mes­ki tak terungkap. Dosen memarahi ma­hasiswa diluar batas, menganggap diri paling benar, anti diskusi bahkan cende­rung merasa paling tahu.

Sesungguhnya era sekarang begitu me­nekankan kemandiri­an mahasiswa. Mahasiswa dapat dengan mudah meng­akses sumber informasi ilmiah meng­gu­nakan mesin pencari dan buku-buku on­line. Namun lagi-lagi, persepsi soal oto­ritas do­sen pembimbing/ penguji yang lebih tinggi menyebabkan mahasiswa pun berdiri tegak tak mampu. Berapa ba­nyak mahasiswa/i yang harus menun­duk­­kan diri sedalam-dalamnya ketika ber­hadapan dengan dosennya? Bahkan berapa banyak mahasiswa yang terkena ma­rah hanya karena nama dosennya tidak disebut bersama dengan gelarnya selengkap-lengkapnya?

Terus terang, banyak kejadian tidak se­hat seperti di atas terjadi di kampus-kam­pus di negeri ini. Hanya saja, lagi-lagi, hal-hal ini tersembunyi di ruang-ruang pengalaman mahasis­wa/i saja. Me­reka terlalu takut untuk berbicara.

Ketiga, yang paling penting, adalah bahwa mahasiswi perem­puan memang rawan mendapatkan kekerasan fisik dari dosen laki-laki. Kekerasan berupa pe­lemparan berkas disertasi kepada se­orang mahasiswi perempuan oleh (do­sen) laki-laki ada­lah kekerasan yang ter­jadi karena faktor dominasi laki-laki da­lam budaya kita, termasuk dalam budaya aka­demik. Laki-laki yang berprofesi se­bagai dosen merasa punya hak mela­ku­kan kekerasan bahkan pelecehan kepada pe­rempuan. Pelakunya merasa kuat, me­rasa berhak marah dan terlebih merasa diri paling superior, dibandingkan seorang perempuan.

Banyak kasus dosen laki-laki yang de­ngan otoritas di tangan­nya melecehkan ma­hasiswi (perempuan). Tak jarang mereka secara fisik menggunakan tangan un­tuk meraba tubuh mahasiswinya, me­ngirimkan pesan tak sopan, bahkan me­mak­sa mahasiswinya melakukan tin­da­kan yang sangat tidak seno­noh. Itu jarang ter­ungkap, lagi-lagi karena mahasiswi berada dalam posisi yang tak mengun­tung­kan. Pendampingan kepada mereka-mereka yang mengalami ini, meski meninggalkan trauma mendalam, tak pernah disuarakan karena kejadiannya pun tak mudah diungkapkan.

Kesimpulan

Kejadian pelemparan disertasi di atas dan kisah-kisah yang saya ungkapkan di atas menggambarkan betapa pelecehan aka­demik masih sering terjadi bahkan pada mahasiswi setingkat doktor sekali­pun. Ini tak bisa didiamkan. Regulasi etika dan pemantauan pembimbingan ma­­hasiswa harus benar-benar diterapkan. Kam­­pus bisa menghilangkan budaya me­nan­datangani disertasi ini sebagai­mana pernah saya jalani dalam studi di Eropa. Kam­pus juga seharusnya membudaya­kan pro­ses supervisi pembimbingan oleh prodi sehingga perkem­bangan akademik mahasiswa terpantau secara baik. Dem­i­ki­an juga sanksi atas pelanggaran etika oleh pembimbing dan atau penguji ma­hasiswa harus benar-benar diterapkan.

Pemerintah jangan cuma ngomong soal Scopus dan Sinta!***

* Penulis adalah pendiri Perhimpunan Suka Menulis/ Perkamen

sumber:analisadaily.com

 
 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Kamis, 14 Februari 2019 | 19:05:59

Sidang Gugatan UKW Akhirnya Dimenangkan Dewan Pers

MEDAN-Persidangan yang dilakukan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Rabu (13/02/2019) kemarin, akhirnya dimenangkan oleh Dewan Pers.Sebelumnya, pada akhir April 2018, Dewan Pers telah digugat oleh SPRI dan
Rabu, 13 Februari 2019 | 19:35:15

Personel Bakamla Ikuti Operational Command Course di JCLEC

JAKARTA-Dalam perkembangannya menjadi Indonesian Coast Guard, personel Bakamla ditempa untuk meningkatkan kapabilitas dan kemampuannya, salah satunya yaitu dengan mengikuti undangan pelatihan Operational Comman
Rabu, 13 Februari 2019 | 19:30:50

Pemko Dumai Tetapkan Status Siaga Darurat

DUMAI- Pemerintah Kota Dumai menetapkan status siaga darurat bencana Kebakaran Lahan dan Hutan di Kota Dumai. Hal ini terkait dengan semakin meluasnya wilayah yang terbakar dan menyebabkan kualitas udara menjad
Selasa, 12 Februari 2019 | 20:21:44

Mappilu PWI Riau Hadiri Rakor Pemilu, Rusidi: Bawaslu Tidak Bisa Kerja Sendiri

PEKANBARU-Pasca dilantik beberapa hari lalu di Surabaya, Pengurus Daerah Masyarakat dan Pers Pemantau Pemilu (Mappilu) PWI Riau, menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Pengawasan dan Pemantauan Kampanye Pemilu 201
 
Berita Lainnya
Minggu, 20 Januari 2019 | 10:00:32

Di Balik 80 Juta Bisa Apa

Kalimat 80 juta bisa dapat apa seketiga me­nyebar bak se­rangan fajar. Semua din­ding-dinding akun media sosial apa­pun itu dibanjiri oleh kalimat tersebut. Kalimat ta­nya yang se­mua orang akhirnya tahu m
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 09:20:13

Bias Gender dalam Kasus Prostitusi Online

Setelah sempat menyeruak pada tahun 2015, kasus pros­titusi on­line yang melibatkan para artis kembali naik ke permukaan. Kali ini melibatkan artis kenamaan Vanessa Angel. ditang­kap Kepolisian daerah Jawa
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:50:06

Pelecehan di Dunia Akademik

Beberapa waktu yang lalu kita mende­ngar seorang maha­siswi S3 mem­polisi­kan rektor sebuah PTS kare­na di­lempar disertasi. Ikhwalnya, sebagai­mana diberitakan banyak media, m­a­hasiswi S3 tersebut menjelaskan
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:29:18

Prostitusi, Hukum dan Moralitas

Di tengah kasak-kusuk Pemilu 2019, sua­sana awal tahun menda­dak heboh dengan keberhasilan Polda Jawa Timur memergoki sekaligus me­nangkap VA, AS dan R terkait kasus pros­titusi di Surabaya. Kendati prostitusi
 
Minggu, 6 Januari 2019 | 07:57:54

Bencana Alam di Awal 2019

TAHUN 2019 telah diawali dengan ben­cana tanah longsor di Desa Sirnaresmi, Ke­­camatan Cisolok, Kabu­pa­ten Suka­bu­mi, Jawa Barat.  Bencana tersebut te­lah  merenggut puluhan jiwa manusia d
 
Rabu, 5 Desember 2018 | 14:20:45

Korupsi Masa Orba, Ini Pernyataan Ahmad Basarah

Pertama, saya ingin letakkan dulu konteks dan teks pernyataan media saya tentang mantan Presiden Soeharto. Saya ditanya oleh teman-teman media tentang pernyataan Capres Pak Prabowo di forum internasional yang m
 
Kamis, 27 September 2018 | 13:10:16

Eksistensi TNI Dalam Pendidikan Karakter Bangsa

Persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu mengenai semua aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dan dialog di media elektronik.
 
Kamis, 20 September 2018 | 11:11:18

Babinsa di Lombok Saat Gempa, Antara Keluarga dan Tugas

Musibah gempa bumi yang mengguncang Pulau Lombok, Sumbawa dan Sumbawa Barat beberapa waktu lalu telah menyisakan kenangan dan cerita yang mengharukan bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya bagi
 
Jumat, 14 September 2018 | 10:43:17

Sejarah Membuktikan, Papua adalah Indonesia Sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Tidak banyak orang Papua yang tahu bahwa saat anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) bersidang pada tanggal 14 Juli 1945, para founding fathers negara Indonesia itu telah
 
Rabu, 29 Agustus 2018 | 21:37:37

Kenapa Jokowi Berpelukan dengan Prabowo

Peristiwa yang membuat warga Indonesia terharu saat ini ketika melihat kedua calon presiden  Indonesia, Jokowi dan Prabowo  berpelukan. Keduanya berpelukan setelah Hanifan Yunadi Kusumah yang merupaka
 
Jumat, 27 Juli 2018 | 16:01:51

Tragedi Tenggelamnya KM Sinar Bangun

Gema Takbir berkumandang membahana ada dimana-mana sebagai pertanda perayaan Idul Fitri 1439 H tahun ini, karena umat Muslim telah berhasil melewati ujian untuk menahan hawa nafsu selama sebulan penuh melaksana
 
Selasa, 24 Juli 2018 | 13:39:27

PERANG DAGANG USA vs CHINA

Genderang perang Amerika Serikat (USA) dengan China sudah dikumandangkan. Namun perang ini bukan perang senjata (hard power) tetapi ini adalah perang ekonomi (soft power) yaitu perang dagang.  Kalau dulu U
 
Jumat, 6 Juli 2018 | 15:14:19

Peran Media Massa Dalam Memberantas Aksi Terorisme di Indonesia

Terorisme merupakan musuh dunia yang tidak mengenal batas wilayah dan undang-undang suatu negara.  Aksinya dapat terjadi di negara mana saja yang mereka targetkan, tidak terkecuali di negara Indonesia terc
 
Minggu, 27 Mei 2018 | 12:22:31

Bersatu Melawan Aksi Terorisme

Terorisme identik dengan kekerasan. Tindakan teroris menyebabkan keresahan, rasa takut di tengah masyarakat, melukai atau mengancam kehidupan, kebebasan, atau keselamatan orang lain dengan tujuan tertentu. Korb
 
Minggu, 20 Mei 2018 | 16:47:03

Cegah Terorisme Dengan Pendidikan

Beberapa waktu yang lalu, bahkan sampai saat ini hangat dibicarakan tentang terorisme. Dalam waktu yang berdekatan terjadi penyerangan di Surabaya sampai penyerangan Mapolda Riau di Pekanbaru.Seluruh masyarakat
 
 
 
Terpopuler
 
 
 
 
 
 
Top