Terverifikasi Dewan Pers
 
Minggu, 6 Januari 2019 | 07:57:54
Opini

Bencana Alam di Awal 2019

Oleh: Hasan Sitorus

Sebarkan:
(Foto:google )
Ilustrasi

TAHUN 2019 telah diawali dengan ben­cana tanah longsor di Desa Sirnaresmi, Ke­­camatan Cisolok, Kabu­pa­ten Suka­bu­mi, Jawa Barat.  Bencana tersebut te­lah  merenggut puluhan jiwa manusia dan rumah rusak serta harta benda lain­nya. Hingga kini telah berhasil ditemu­kan dan dievakuasi sebanyak 16 korban me­ninggal, dan diperkira­kan masih ba­nyak tertimbun tanah longsor (kom­pas.com, 2/1/2019).

Menurut informasi dari Badan Meteo­ro­logi, Klimatologi dan Geofisika (BM­KG) bahwa puncak musim hujan akan berlangsung hingga bulan Februari 2019.  Oleh sebab itu, peluang akan terjadinya  bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung sangat besar di Indonesia hingga bulan Februari yang akan datang.  Melihat fakta ini, maka seluruh masyarakat di­ha­rap­kan waspada dan pemerintah sangat diharapkan dapat melak­sanakan sistem peringatan dini (early warning system) bencana alam untuk meminimalkan jatuh­nya korban manusia.

Bila kita melihat kejadian ben­cana tahun 2018, maka sesung­guhnya program mi­tigasi bencana sudah dapat diim­ple­mentasikan secara lebih baik, baik itu je­nis bencana banjir bandang, tanah long­sor, angin puting beliung, gunung me­le­tus, gempa bumi, dan tsunami, tetapi pada kenyataannya kita selalu lengah dan tidak siap, sehingga korban jiwa re­latif besar. 

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB, 2018), tahun 2017 terjadi 2.862 bencana, dan tahun 2018 menurun menjadi 2.426 ben­cana, tetapi korban jiwa meningkat dari 378 orang tahun 2017 menjadi 4.231 orang tahun.  Dari seluruh kejadian bencana ini dinyatakan bahwa lebih dari 80 %  merupakan bencana yang terkait de­ngan hidrome­teorologi.

Dengan mengetahui bahwa penyebab ben­cana terbesar di tanah air adalah faktor hidrometeorologi yang berinteraksi dengan kerusa­kan hutan, Daerah Aliran Sungai (DAS) yang kritis, tata guna lahan yang menyimpang, dan pemuki­man di lokasi rawan bencana, maka seharusnya pe­merintah sudah dapat menetapkan ke­bi­jakan strategis dan langkah konkrit un­tuk mengatasi faktor kritis penyebab bencana alam tersebut.

Kerusakan Hutan

Tidak ada yang dapat mem­bantah bahwa kerusakan ekosis­tem hutan sangat ber­­kaitan erat dengan terjadinya banjir ban­­dang dan tanah longsor di berbagai wil­ayah.  Secara ekologis hutan mem­pu­nyai fungsi konservasi tanah dan air, se­hingga dapat dipas­­tikan penggundulan hutan di suatu wilayah akan menim­bul­kan rawan bencana alam. Berdasarkan la­po­ran dari Bank Dunia (2015), ke­ru­sa­kan hutan di Indonesia mencapai 500.000 hektar/tahun atau menempati urutan teratas di Asia Tenggara.        

Dengan mengetahui ekosistem hutan berperang penting dalam siklus hidrologi dan hidrome­teorologi, maka tidak ada jalan lain, pemerintah harus menerap­kan kebijakan yang ketat dalam pembe­rian izin pemanfaatan sumberdaya hutan dan penindakan yang tegas terhadap pe­nebangan hutan liar atau pembakaran hu­tan untuk berbagai tujuan peruntukan.

Bagi kita anggota masyarakat, tentu juga dapat mengambil bagian dalam rang­ka pelestarian ekosis­tem hutan, yak­ni ikut serta dalam kegiatan reboisasi atau penghijauan yang digerakkan or­ga­nisasi kema­syarakatan atau lembaga swa­daya masyarakat tanpa mengharapkan pamrih. 

Demikian juga masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan yang berba­tasa­n dengan ekosistem hutan hendaknya selalu bertindak arif terhadap lingkungan dengan tidak membuka areal hutan secara sembarangan untuk lahan perla­dangan atau pemukiman, karena hal itu bisa menjadi awal mala­petaka di kemudian hari. Hutan adalah sumber air karena lahan hutan dapat menjadi resapan air hu­jan, dan vegetasi hutan yang tumbuh kokoh akan mencegah terja­dinya tanah long­sor.

DAS Kritis

Perubahan struktur vegetasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) akibat pemanfatan lahan secara intensif di sepanjang DAS di Indonesia, merupakan salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan banjir di berbagai wilayah.

Menurut Balai Penelitian dan Pe­ngem­bangan Teknologi Penge­lolan Dae­rah Aliran Sungai (2017), terdapat sekitar 282 DAS di Indonesia berada dalam kon­disi kritis akibat alih fungsi lahan yang membuat penyangga lingkungan itu tidak berfungsi dengan baik.

Peningkatan aktivitas pertanian dan pemukiman di sepanjang DAS menye­bab­kan peningkatan debit air sungai se­cara signifikan ketika musim hujan, se­hinggga air sungai meluap dan mem­ban­jiri kawasan pemukiman.

Kerusakan vegetasi di sepanjang daerah aliran sungai mulai dari hulu hing­ga hilir, ketika cuaca ekstrim berhujan dalam periode waktu tertentu dapat me­nibulkan banjir sungai meluap yang datang secara tiba-tiba dan menimbulkan kerugian harta benda dan bahkan nyawa manusia. 

Oleh sebab itu, upaya konservasi DAS terutama sungai-sungai besar di Indone­sia perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat yang ber­mukim di daerah DAS, agar frekuensi su­ngai meluap semakin sedikit terjadi di waktu mendatang.

Pemukiman Rawan Bencana

Secara geologis dan hidrome­teorologi, beberapa wilayah di tanah air berada pada wilayah rawan bencana baik per­gerakan tanah, lokasi patahan atau sesar kerak bumi (gempa tektonik) dan subduksi lempeng bumi, daerah yang dekat gunung berapi, topografi daerah yang berpeluang mudah longsor dan lain-lain. 

Menurut data yang dirilis BNPB (2017), Indonesia terdapat 386 kabu­pa­ten/kota berada di zona bahaya sedang hing­ga tinggi gempa bumi, 233 kabu­paten/kota berada di daerah rawan tsunami dan sebanyak 75 kabupaten/kota  te­ran­cam erupsi gunung api.  Sebanyak 315 kabupaten/kota  berada di dae­rah bahaya sedang sampai tinggi banjir dan 274 kabupaten kota di daerah bahaya sedang-tinggi bencana longsor.

Dengan mengetahui begitu banyak dae­rah pemukiman yang berada pada zona rawan bencana, apa yang harus kita la­kukan, dan kebijakan apa yang harus di­ambil pemerintah pusat maupun dae­rah?  Secara sederhana kita bisa kata­kan, hin­darilah pemukiman di daerah-daerah yang rawan bencana.

Pendapat ini bisa dibenar­kan bila kejadian bencana di suatu lo­kasi sudah terjadi secara rutin atau su­dah dapat diprediksi secara tepat, atau suatu lokasi yang secara logika sangat ris­kan untuk mendirikan bangunan se­perti lahan yang mempunyai elevasi atau kemiringan di atas 20 %. 

Kejadian tanah longsor yang menim­bul­kan kerusakan rumah penduduk di ber­bagai daerah di tanah air menjadi pe­ngalaman berharga bagi masyarakat untuk  membangun pemukiman di daerah yang relatif aman bencana.  Informasi me­ngenai daerah-daerah yang rawan ben­cana tanah longsor hendaknya dise­bar­luaskan instansi yang berwenang kepada ma­syarakat hingga tingkat pemerintahan desa, dengan menekankan prinsip pencegahan atau mitigasi bencana jauh lebih berharga ketimbang mengalirkan ban­tuan kepada korban bencana.

Mitigasi Bencana Masuk Kurikulum

Mengingat bahwa bencana alam kerap terjadi di tanah air dari awal tahun hingga akhir tahun, maaka pemerintah sudah harus lebih serius melakukan program mitigasi bencana terutama yang bertu­juan untuk memperkecil jatuhnya korban jiwa. 

Karena wilayah Indonesia memiliki potensi kerawanan bencana alam relatif tinggi, sudah saatnya sekolah-sekolah di tanah air diberikan pelajaran mitigasi ben­cana mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMU, baik dalam bentuk mata pe­lajaran khusus atau muatan lokal atau terintegrasi dengan pelajaran ilmu alam.

Memasukkan materi mitigasi bencana dalam kurikulum sekolah (intra kuri­ku­ler) akan menanamkan sikap (afektif) se­lalu waspada kepada para pelajar de­ngan kepekaan yang lebih tinggi terhadap perubahan faktor-faktor alam.  Memper­da­lam pemahaman (kognitif) tentang tan­da-tanda perubahan alam yang terkait dengan aspek hidrometeorolgi dan geologi, akan sangat membantu masya­ra­kat dalam menghindari atau menye­le­mat­kan diri (psikomotorik) dari bencana alam

Oleh sebab itu, kita sangat meng­ha­rapkan agar materi mitigasi bencana dapat segera dimasukkan dalam kuriku­lum sebagai kebijakan nasional dibawah Kementerian Pendidikan dan Ke­bu­da­yaan, sehingga seluruh pelajar In­do­nesia dapat memahami mitigasi bencana secara kon­prehensif. Semoga terwu­jud.***

Penulis Dosen Tetap Universitas HKBP Nommensen dan Pemerhati Masalah Lingkungan.

Sumber: aanalisadaily.com

 
 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Kamis, 18 April 2019 | 22:03:28

Unggul di Sejumlah TPS, Dewi Juliani Diprediksi Lolos ke Senayan

ROKAN HILIR- Dewi Juliani, SH  yang populer dengan sebutan  (DJ6) Calon Legislatif (Caleg) DPR RI dari Partai PDI-P  nomor urut 6 unggul di sejumlah TPS di wilayah Dapil Riau 1, kususnya didaerah
Kamis, 18 April 2019 | 20:43:09

Dewi Juliani Unggul di 12 TPS Kasang Bangsawan Rohil

KASANGBANGSAWAN-Suara Calon Legislatif (Caleg) DPR-RI dari partai PDI P nomor urut 6 Dapil Riau 1, Dewi Juliani SH, (DJ6) unggul sementara di 12 TPS Kasang Bangsawan Kecamatan Pujud  Kabupaten Rokan Hilir.
Kamis, 18 April 2019 | 19:48:28

KN Tanjung Datu 1101 Akan Kunjungi India

JAKARTA-Plh. Direktur Kerjasama Kolonel Bakamla Salim membuka rapat pertemuan dengan Atase Pertahanan India untuk Indonesia Captain JS Dhanoa untuk membahas rencana Port Visit KN Tanjung Datu 1101 Bakamla RI ke
Rabu, 17 April 2019 | 21:13:41

Dewi Juliani Unggul Sementara di 6 TPS Kasang Bangsawan Pujud

ROKAN HILIR- Calon Legislatif (Caleg) DPR-RI dari partai PDI P nomor urut 6 Dapil Riau 1, Dewi Juliani SH, (DJ6) unggul sementara di 6 TPS Kasang Bangsawan Kecamatan Pujud  Kabupaten Rokan Hilir.Berdasarka
 
Berita Lainnya
Minggu, 14 April 2019 | 07:36:36

Menjaga Pilpres

Hari pencoblosan Pemilu Pemilihan Pre­siden (Pilpres) tinggal beberapa hari lagi. Tepatnya pada hari Rabu Tanggal 17 April 2019 nanti. Ka­dang hati tak sabar lagi menunggu hari pen­coblosan ini.
 
Minggu, 7 April 2019 | 07:45:04

Neuro Ledership Menuntun Lahirnya Neuro Creativity

Persaingan yang terjadi saat ini bukan hanya di dunia usaha saja, melainkan semua orang sampai negara sedang berada pada posisi bersaing. Mungkin sebagian ada yang kurang sependapat karena istilah persaingan
 
Jumat, 5 April 2019 | 19:14:27

Jangan Pilih (Calon) Penebar Uang

Seiring bertambahnya jumlah Partai Politik, dapil dan kursi, persaingan peserta pemilu semakin ketat. Dibandingkan tahun 2014 jumlah Partai Politik nasional pada pemilu tahun ini bertambah menjadi 16 diluar 4 P
 
Minggu, 31 Maret 2019 | 09:58:00

Hegemoni Pendidikan dan Pendidikan yang Membebaskan

Menurut rumusan Antonio Gra­maci, hegemoni diarti­kan sebagai sebu­ah upaya pihak elit penguasa yang mendo­minasi untuk meng­giring cara berpikir, bersikap, dan menilai masyarakat agar sesuai dengan k
 
Jumat, 29 Maret 2019 | 15:20:46

Mengatasi Tantangan Operasional UNTSO, UNDOF, dan Misi UNIFIL

Penasehat Militer RI Untuk PBB, Brigjen TNI Fulad, S.Sos., M.Si. menghadiri pertemuan Military Staff Committee Dewan Keamanan PBB yang membahas masalah UNTSO, UNDOF, dan UNIFIL – Lebanon beberapa saat lalu, yan
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 10:00:32

Di Balik 80 Juta Bisa Apa

Kalimat 80 juta bisa dapat apa seketiga me­nyebar bak se­rangan fajar. Semua din­ding-dinding akun media sosial apa­pun itu dibanjiri oleh kalimat tersebut. Kalimat ta­nya yang se­mua orang akhirnya tahu m
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 09:20:13

Bias Gender dalam Kasus Prostitusi Online

Setelah sempat menyeruak pada tahun 2015, kasus pros­titusi on­line yang melibatkan para artis kembali naik ke permukaan. Kali ini melibatkan artis kenamaan Vanessa Angel. ditang­kap Kepolisian daerah Jawa
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:50:06

Pelecehan di Dunia Akademik

Beberapa waktu yang lalu kita mende­ngar seorang maha­siswi S3 mem­polisi­kan rektor sebuah PTS kare­na di­lempar disertasi. Ikhwalnya, sebagai­mana diberitakan banyak media, m­a­hasiswi S3 tersebut menjelaskan
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:29:18

Prostitusi, Hukum dan Moralitas

Di tengah kasak-kusuk Pemilu 2019, sua­sana awal tahun menda­dak heboh dengan keberhasilan Polda Jawa Timur memergoki sekaligus me­nangkap VA, AS dan R terkait kasus pros­titusi di Surabaya. Kendati prostitusi
 
Minggu, 6 Januari 2019 | 07:57:54

Bencana Alam di Awal 2019

TAHUN 2019 telah diawali dengan ben­cana tanah longsor di Desa Sirnaresmi, Ke­­camatan Cisolok, Kabu­pa­ten Suka­bu­mi, Jawa Barat.  Bencana tersebut te­lah  merenggut puluhan jiwa manusia d
 
Rabu, 5 Desember 2018 | 14:20:45

Korupsi Masa Orba, Ini Pernyataan Ahmad Basarah

Pertama, saya ingin letakkan dulu konteks dan teks pernyataan media saya tentang mantan Presiden Soeharto. Saya ditanya oleh teman-teman media tentang pernyataan Capres Pak Prabowo di forum internasional yang m
 
Kamis, 27 September 2018 | 13:10:16

Eksistensi TNI Dalam Pendidikan Karakter Bangsa

Persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu mengenai semua aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dan dialog di media elektronik.
 
Kamis, 20 September 2018 | 11:11:18

Babinsa di Lombok Saat Gempa, Antara Keluarga dan Tugas

Musibah gempa bumi yang mengguncang Pulau Lombok, Sumbawa dan Sumbawa Barat beberapa waktu lalu telah menyisakan kenangan dan cerita yang mengharukan bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya bagi
 
Jumat, 14 September 2018 | 10:43:17

Sejarah Membuktikan, Papua adalah Indonesia Sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Tidak banyak orang Papua yang tahu bahwa saat anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) bersidang pada tanggal 14 Juli 1945, para founding fathers negara Indonesia itu telah
 
Rabu, 29 Agustus 2018 | 21:37:37

Kenapa Jokowi Berpelukan dengan Prabowo

Peristiwa yang membuat warga Indonesia terharu saat ini ketika melihat kedua calon presiden  Indonesia, Jokowi dan Prabowo  berpelukan. Keduanya berpelukan setelah Hanifan Yunadi Kusumah yang merupaka
 
 
 
Terpopuler

1

14 Apr 2019 07:36 | 372 views
Opini

Menjaga Pilpres

 
 
 
 
 
 
Top