Terverifikasi Dewan Pers
 
Minggu, 20 Mei 2018 | 16:47:03
OPINI

Cegah Terorisme Dengan Pendidikan

Oleh : Hardianto

Sebarkan:
Dok/Penulis
Hardianto
Beberapa waktu yang lalu, bahkan sampai saat ini hangat dibicarakan tentang terorisme. Dalam waktu yang berdekatan terjadi penyerangan di Surabaya sampai penyerangan Mapolda Riau di Pekanbaru.

Seluruh masyarakat mengutuk keras tindakan teror yang dilakukan oleh para teroris. Permasalahan teroris merupakan permasalahan serius tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia internasional.

Terorisme harus dilihat dari tindakannya supaya tidak terjadi justifikasi terhadap kelompok apalagi agama tertentu. Menurut Kamus Bahasa Indonesia Teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik. (sumber: kbbi.web.id).

Sementara detik.com menyebutkan pengertian terorisme versi pemerintah yaitu perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan, yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, menimbulkan korban yang bersifat massal, atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik atau fasilitas internasional.

Berdasarkan pengertian di atas, jelas bahwa terorisme merupakan perbuatan dengan kekerasan yang menimbulkan suasana teror dan cemas bagi masyarakat. Siapa saja yang melakukan tindakan semacam ini berarti sudah termasuk tindakan teror.

Jadi sangat tidak bijak ketika ada pandangan individu atau kelompok yang menyatakan terorisme dikaitkan dengan agama tertentu. Pandangan ini pada dasarnya adalah pandangan yang bisa mendatangkan kecemasan, ketakutan, kekacauan dan ini merupakan tindakan terorisme.

Terdapat 3 faktor penyebab teroris, yaitu 1) karena seseorang tersentuh. Bisa saja mereka pernah ditinggal oleh adiknya yang meninggal atau mendapat ajaran teror. 2) adanya komunitas garis keras pendukung gerakan tersebut dan 3) ideologi yang terlegitimasi dan mengakar (Sumber: liputan6.com).

Sumber lain menyebutkan bahwa terorisme dan penghancuran bumi lahir dari kolaborasi, pertama, syahwatisme dan hewanisme; kedua, sabu'iyah (sadisme); ketiga, syaithoniyah (nafsu setan); keempat, rabbaniyah (merasa setara Tuhan)," (Sumber: NU Online).

Selanjutnya Presiden Jokowi dikutip dari CNN Indonesia mengemukakan Kemiskinan, keterbelakangan, kesenjangan sosial, kalau diteruskan, berbahaya dan akan kemungkinan menjadi bahan bakar bagi tumbuhnya masalah sosial, termasuk radikalisme, ekstremisme, dan yang lebih ke sana lagi, terorisme. 

Sementara Sydney Jones dari IPAC mengemukakan terorisme disebabkan oleh adanya ketidakadilan dan diskriminasi (Sumber: www.antaranews.com).

Melihat faktor penyebab terorisme tersebut pada dasarnya terorisme bisa dicegah dengan berbagai upaya, salah satunya dengan pendidikan.

Pemberantasan terhadap terorisme sangat diperlukan dan pencegahan munculnya terorisme jauh lebih penting. Dalam Undang-Undang Sisdiknas disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Apabila tujuan pendidikan tersebut tercapai tentu saja tindakan teror dan paham terorisme tidak akan berkembang lagi.

Saat ini tujuan pendidikan tersebut belum tercapai secara optimal. Oleh karena itu perlu perbaikan sistem pendidikan yang menyeluruh dan bisa saja beriringan dengan semangat revolusi mental.

Melengkapi sarana prasarana pendidikan, perbaikan kurikulum, peningkatan kualifikasi tenaga pendidik dan kependidikan, penggunaan metode pembelajaran yang menyenangkan, serta peningkatan pola interaksi yang edukatif dalam kegiatan di sekolah merupakan upaya yang dapat mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Selain itu pendidikan non formal dan pendidikan informal juga perlu diperhatikan lebih serius lagi.

Dari sekian banyak upaya yang bisa dilakukan, penulis menekankan untuk mengoptimalisasikan peran guru. Perlu ditingkatkan kualitas dan kuantitas pelatihan-pelatihan kompetensi guru.

Guru harus difasilitasi agar kompetensi mereka semakin meningkat. Minimal setiap guru mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi sekali dalam satu semester. Sebaik apapun kurikulum atau sarana tanpa peningkatan kompetensi guru mustahil bisa dicapai tujuan pendidikan secara maksimal. (***)


Penulis adalah Dosen Universitas Pasir Pengaraian & Mahasiswa S3 MP UNJ
 
 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Rabu, 24 April 2019 | 16:54:17

Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Botox di Area Bawah Mata

JAKARTA - Bukan tidak mungkin jika perempuan mengalami kegalauan untuk melakukan prosedur botox atau tidak. Adanya efek samping menjadi pertimbangan perempuan untuk melakukan botox. Botox sendiri umum dilakuka
Rabu, 24 April 2019 | 16:52:25

Ketua KPU: Pemilu Serentak 2019 Melelahkan, Perlu Dievaluasi

JAKARTA - Ketua KPU Arief Budiman menyarankan agar pemerintah mengevaluasi Pemilu Serentak 2019. KPU meminta ada pembicaraan khusus soal pemilu ini.Awalnya, Arief menuturkan jumlah petugas KPPS ya
Rabu, 24 April 2019 | 16:47:56

Soroti Politik Uang, Gerindra Tantang Caleg Karawang Disumpah Pocong

KARAWANG - Caleg Gerindra Nace Permana menyoroti dugaan politik uang dalam Pileg 2019 di Karawang. Kader Gerindra tersebut menantang para caleg Karawang disumpah pocong."Saya yakin serangan fajar bukanlah
Rabu, 24 April 2019 | 16:41:58

Mulai 2019, Calon Jamaah Haji Kabupaten Siak Akan Berangkat Dari Pekanbaru

SIAK - Ditahun 2019 ini, Calon Jamaah Haji asal Provinsi Riau, khusus Kabupaten Siak, akan langsung diberangkatkan melalui Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II Kota Pekanbaru. Hal ini ditand
 
Berita Lainnya
Minggu, 21 April 2019 | 10:27:47

Kedewasaan dalam Berdemokrasi

PEMILIHAN umum (Pemilu) akhir­nya telah selesai dilakukan de­ngan menghasilkan pasangan Presi­den dan Wakil Presiden, juga anggota DPR, DPD, dan DPRD pada periode 2019-2024. Setidak-tidaknya, hasil per­­hi
 
Minggu, 21 April 2019 | 10:03:49

Tuhan Tidak Melihat Agamamu

KITA sepakat dalam suatu pema­ha­man yang utuh bahwa surga adalah hak prerogatif nya Tuhan dan manusia se­tinggi apapun ibadahnya takkan mam­pu memberi satu kepastian bah­wa si anu masuk surga dan si ana m
 
Minggu, 14 April 2019 | 07:36:36

Menjaga Pilpres

Hari pencoblosan Pemilu Pemilihan Pre­siden (Pilpres) tinggal beberapa hari lagi. Tepatnya pada hari Rabu Tanggal 17 April 2019 nanti. Ka­dang hati tak sabar lagi menunggu hari pen­coblosan ini.
 
Minggu, 7 April 2019 | 07:45:04

Neuro Ledership Menuntun Lahirnya Neuro Creativity

Persaingan yang terjadi saat ini bukan hanya di dunia usaha saja, melainkan semua orang sampai negara sedang berada pada posisi bersaing. Mungkin sebagian ada yang kurang sependapat karena istilah persaingan
 
Jumat, 5 April 2019 | 19:14:27

Jangan Pilih (Calon) Penebar Uang

Seiring bertambahnya jumlah Partai Politik, dapil dan kursi, persaingan peserta pemilu semakin ketat. Dibandingkan tahun 2014 jumlah Partai Politik nasional pada pemilu tahun ini bertambah menjadi 16 diluar 4 P
 
Minggu, 31 Maret 2019 | 09:58:00

Hegemoni Pendidikan dan Pendidikan yang Membebaskan

Menurut rumusan Antonio Gra­maci, hegemoni diarti­kan sebagai sebu­ah upaya pihak elit penguasa yang mendo­minasi untuk meng­giring cara berpikir, bersikap, dan menilai masyarakat agar sesuai dengan k
 
Jumat, 29 Maret 2019 | 15:20:46

Mengatasi Tantangan Operasional UNTSO, UNDOF, dan Misi UNIFIL

Penasehat Militer RI Untuk PBB, Brigjen TNI Fulad, S.Sos., M.Si. menghadiri pertemuan Military Staff Committee Dewan Keamanan PBB yang membahas masalah UNTSO, UNDOF, dan UNIFIL – Lebanon beberapa saat lalu, yan
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 10:00:32

Di Balik 80 Juta Bisa Apa

Kalimat 80 juta bisa dapat apa seketiga me­nyebar bak se­rangan fajar. Semua din­ding-dinding akun media sosial apa­pun itu dibanjiri oleh kalimat tersebut. Kalimat ta­nya yang se­mua orang akhirnya tahu m
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 09:20:13

Bias Gender dalam Kasus Prostitusi Online

Setelah sempat menyeruak pada tahun 2015, kasus pros­titusi on­line yang melibatkan para artis kembali naik ke permukaan. Kali ini melibatkan artis kenamaan Vanessa Angel. ditang­kap Kepolisian daerah Jawa
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:50:06

Pelecehan di Dunia Akademik

Beberapa waktu yang lalu kita mende­ngar seorang maha­siswi S3 mem­polisi­kan rektor sebuah PTS kare­na di­lempar disertasi. Ikhwalnya, sebagai­mana diberitakan banyak media, m­a­hasiswi S3 tersebut menjelaskan
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:29:18

Prostitusi, Hukum dan Moralitas

Di tengah kasak-kusuk Pemilu 2019, sua­sana awal tahun menda­dak heboh dengan keberhasilan Polda Jawa Timur memergoki sekaligus me­nangkap VA, AS dan R terkait kasus pros­titusi di Surabaya. Kendati prostitusi
 
Minggu, 6 Januari 2019 | 07:57:54

Bencana Alam di Awal 2019

TAHUN 2019 telah diawali dengan ben­cana tanah longsor di Desa Sirnaresmi, Ke­­camatan Cisolok, Kabu­pa­ten Suka­bu­mi, Jawa Barat.  Bencana tersebut te­lah  merenggut puluhan jiwa manusia d
 
Rabu, 5 Desember 2018 | 14:20:45

Korupsi Masa Orba, Ini Pernyataan Ahmad Basarah

Pertama, saya ingin letakkan dulu konteks dan teks pernyataan media saya tentang mantan Presiden Soeharto. Saya ditanya oleh teman-teman media tentang pernyataan Capres Pak Prabowo di forum internasional yang m
 
Kamis, 27 September 2018 | 13:10:16

Eksistensi TNI Dalam Pendidikan Karakter Bangsa

Persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu mengenai semua aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dan dialog di media elektronik.
 
Kamis, 20 September 2018 | 11:11:18

Babinsa di Lombok Saat Gempa, Antara Keluarga dan Tugas

Musibah gempa bumi yang mengguncang Pulau Lombok, Sumbawa dan Sumbawa Barat beberapa waktu lalu telah menyisakan kenangan dan cerita yang mengharukan bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya bagi
 
 
 
Terpopuler

1

21 Apr 2019 10:27 | 513 views
Opini

Kedewasaan dalam Berdemokrasi

2

21 Apr 2019 10:03 | 334 views
Opini

Tuhan Tidak Melihat Agamamu

 
 
 
 
 
Top