Iklan Sosial
 
Kamis, 17 Mei 2018 | 09:41:14
Opini

Aksi Terorisme Merusak Penganut Agama

Oleh: Multajimah MA

Sebarkan:
(Foto: Internet)
Ilustrasi

Rasa nasionalisme yang menurun akibat adanya masalah terorisme. Tergambar dari para pelaku bom bunuh diri yang sebagaian besar adalah anak muda. Mereka bagian dari masyarakat Indonesia yang terpengaruh oleh doktrin jihad. Begitu mudahnya mereka terjebak dan tertipu akan "iming-iming" yang dijanjikan para teroris yang mendoktrin mereka agar mereka bersedia menjadi pelaku teror yang menghancurkan bangsanya sendiri.

Mereka umumnya melakukan teror dengan bentuk serupa. Gejala praktik keke­rasan yang dilakukan oleh sekelom­pok orang itu, secara historis-sosiologis, lebih tepat sebagai gejala sosial politik ketim­bang gejala keagamaan meskipun dengan mengibarkan panji-panji keaga­maan.

Fenomena radikalisme yang dilakukan oleh sebagian kalangan umat Islam, oleh pers Barat dibe­sar-besarkan, sehingga menjadi wacana internasional dan tercip­talah opini publik bahwa Islam itu menge­rikan dan penuh dengan kekerasan. Aki­batnya tidak jarang image negatif banyak dialamatkan kepada Islam. Sehingga umat Islam terpojokkan sebagai umat perlu dicurigai. Hal yang demikian terjadi karena masyarakat Barat mampu menguasai pers yang dija­dikan instrumen yang kuat guna memproyeksikan kultur dominan dari peradaban global. Apa yang ditangkap ma­syarakat dunia adalah apa yang didefinisikan dalam media-media Barat.

Istilah salah kaprah itu sesung­guhnya tidak perlu terjadi, jika Barat mau mengkaji Islam secara objektif. Islam berbeda dengan perilaku Muslim, artinya kebru­talan (radikalisme) yang dilakukan oleh sekelompok Muslim tidak dapat dijadikan alasan untuk menjadikan Islam sebagai biang keladi radikalisme.

Sebaliknya, kelompok-seko­lompok kecil umat Islam yang fanatik dan mengarah kepada kekerasan juga menjadi bahaya besar bagi masa depan peradaban manusia. Gerakan radikalisme yang dilakukan oleh sekelompok orang, termasuk Muslim, merupa­kan kanker rohani yang kronis yang mengancam manusia dan kema­nusiaan. Di luar itu semua, praktik-praktik arogansi Barat dan hege­mo­ninya atas dunia Islam harus juga disadari. Sebab, Islam sangat menghargai perbedaan, seperti pernah dikemukakan oleh Kunto­wijoyo, Islam justru tumbuh menjadi agama besar dalam semangat pluralisme.

Piagam Madinah menjadi tonggak demokrasi dan sifat inklusifisme paling awal di dunia. Lebih jauh, menurut Ahmad Syafi'i Ma'arif, karya monu­mental Rasu­lullah Saw itu punya tujuan strategis bagi terciptanya kese­rasian politik dengan mengem­bangkan toleransi sosio-religius yang seluas-luasnya. Bah­kan sejumlah pengamat Barat pun me­ngakui piagam Madinah itu meru­pakan sebuah konsensus bersama antara ber­bagai golongan, ras, suku, maupun aga­ma, yang paling demokratis sepanjang sejarah.

Piagam Madinah telah mewa­riskan kepada kita prinsip-prinsip inklusifisme dalam menata ma­sya­rakat yang pluralistik dan harmonis berlandaskan moral religius yang kokoh dan anggun, serta merupakan dasar penghor­matan yang kokoh bagi sebuah kehidupan yang toleran dengan menjamin hak-hak kaum non-muslim.

Menurut Harun Nasution, funda­mentalisme istilah yang tidak dipakai dalam umat Islam, dengan demikian berarti istilah yang cocok adalah moder­nisme atau pemba­ruan (tajdid). Tapi kalau yang dimaksud dengan fundamenta­lisme bukanlah paham kembali ke ajaran-ajaran dasar, tetapi paham dan gerakan memper­tahankan ajaran-ajaran lama dan menen­tang pembaruan, seperti dalam gerakan Protestan Amerika yang muncul pada abad ke 19 lalu, maka istilah demikian tidak sesuai dengan paham dan gerakan sejenisnya yang terdapat dalam Islam.

Istilah fundamentalisme Islam sebe­narnya disodorkan oleh media Barat di luar kehendak kita supaya diadopsi oleh kalangan umat manusia melalui media massa. Ada istilah yang menga­takan jika kebohongan diucapkan berkali-kali, maka pada akhirnya akan dipercaya. Dengan demikian istilah fundamentalisme ini; "kalaupun berpegang kepada Islam secara benar, baik dalam sisi aqidah, syariat, minhaj kehidupan, dakwah kepadanya, dianggap seba­­­gai "fundamentalisme", maka biarlah orang-orang yang merasa keberatan mau memberi kesaksian bahwa memang kita para "fundamentalis (Yusuf Qardhawi: 1997)

Banyak label-label yang diberikan oleh kalangan Eropa Barat dan Amerika Seri­kat untuk menyebut gerakan Islam radikal ini, mulai dari sebutan kelompok garis keras, ekstrimis, militan, Islam ka­nan, fundamentalisme, sampai terroris­me. Bahkan negara-negara Barat pascahan­cur­nya ideologi komunisme (pascaperang dingin) memandang Islam sebagai sebuah gerakan peradaban yang menakutkan (Nurcholish Madjid, 1995: 270). Hal yang demikian terjadi karena orang-orang Eropa Barat dan Amerika Serikat ber­hasil melibatkan diri dan mewarnai media sehingga mampu mem­bentuk opini publik.

Praktik-praktik kekerasan yang dila­kukan sekelompok Islam dengan memba­wa simbol-simbol agama telah diman­faatkan oleh orang-orang Barat dengan meman­faatkan media massa sebagai alat utama dalam memegang tampuk wacana peradaban, sehingga Islam terus menerus dipojokkan oleh publik.

Ketergesa-gesaan dalam generalisasi menyebabkan Barat tidak mampu me­mandang feno­mena historis umat Islam secara objektif. Hal ini tidak berarti pem­benaran terhadap praktik radikalisme yang dilakukan umat beragama, karena yang demikian bertentangan dengan pesan-pesan moral yang terkandung dalam agama dan moralitas mana pun.

Fundamentalis sangat me­nye­­nangkan bagi pers Barat ke­tim­bang label Tamil di Srilang­ka, militan Hindu di India, IRA (kelompok bersenjata Irlandia Utara), militant Yahudi sayap kanan, sekte kebatinan di Jepang atau bahkan musuh lamanya, ko­munis-marxis yang tidak ja­rang menggunakan jalan keke­rasan sebagai solusi penyele­sa­ian masalah.

Karena terlalu mengkaitkan kata-kata radikalisme, funda­men­­talis, atau gerakan militan dengan Islam, seringkali media Barat mengabaikan perkem­ba­ngan praktik kekerasan yang ditopang keyakinan keagamaan yang dilakukan oleh kalangan non-Islam atau pun yang di­to­pang oleh ideology "kiri."

Contoh yang sangat jelas ada­lah aksi tutup mulut para elit po­litik Barat ketika melihat prak­tik kekerasan yang dilaku­kan oleh ekstrimis Yahudi atau pun serdadu Israel atas orang-orang Arab Palestina.

Mantan pegawai Badan Kea­ma­nan Nasional (NSA) Ame­rika Serikat Edward Snowden menyatakan jika Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) meru­pakan organisasi bentukan dari kerjasama intelijen dari tiga ne­gara. Dikutip dari Global Re­search, sebuah organisasi riset media independen di Kanada, Snowden mengungkapkan jika satuan intelijen dari Inggris, AS dan Mossad Israel bekerjasama untuk menciptakan sebuah ne­gara khalifah baru yang disebut dengan ISIS. Snowden meng­ungkapkan, badan intelijen dari tiga negara tersebut membentuk sebuah organisasi teroris untuk menarik semua ekstremis di se­lu­ruh dunia. Mereka menyebut strategi tersebut dengan nama 'sarang lebah'.

Whistleblower NSA, Edward Joseph Snowden, berbicara blak-blakan soal negaranya, Ame­rika Serikat (AS) sebagai biang kemunculan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Dia mengatakannya da­lam wawancara dengan warta­wan koran Dagens Nyheter Swe­dia, Lena Sundström di sebuah hotel di Moskow. Tidak ada ISIS sampai kita mulai membom ne­ga­ra-negara ini (Irak dan Timur Tengah). Ancaman terbesar yang kita hadapi di wilayah ter­sebut lahir dari kebijakan kami sendiri, kata Snowden. AS ber­pikir pada tingkat emosional, bukan pada tingkat kecerdasan, sindir bekas kontraktor Badan Keamanan Nasional (NSA) AS itu.

Dokumen NSA yang dirilis Smowden menunjukkan bagai­ma­na strategi sarang lebah ter­sebut dibuat untuk melindungi kepentingan zionis dengan men­ciptakan slogan Islam. Berda­sarkan dokumen tersebut, satu-satunya cara untuk melindungi kepentingan Yahudi adalah men­ciptakan musuh di perbata­san. Strategi tersebut dibuat un­tuk menempatkan semua ekstre­mis di dalam satu tempat yang sama sehingga mudah dijadikan target. Tak hanya itu, adanya ISIS akan memperpanjang keti­dakstabilan di timur tengah, khu­susnya di negara-negara Arab. ***

Penulis, Dosen STAIS TTD & UIN SU

sumber:harian.analisadaily.com

 
 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Minggu, 19 Agustus 2018 | 18:43:16

HUT RI ke-73 dan Upacara Detik-Detik Proklamasi 2018 di Pelalawan

BUPATI, Pelalawan  HM Harris memimpin upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kabupaten Pelalawan tahun 2018 yang dipusatkan di Lapangan Sepakbola Pangkalan K
Jumat, 17 Agustus 2018 | 13:14:02

Berbagai Wahana Permainan, Pemda Pelalawan Kembangkan Danau Tajwid Sebagai "Destinasi" Wisata Lokal

SEBUAH, lokasi wisata sedang dikembangkan saat ini di Kelurahan Langgam Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan bernama Danau Tajwid. Perpaduan antara suasana alam nan asri digabung dengan berbagai permainan. Ter
Senin, 13 Agustus 2018 | 18:36:00

Digelar Seminar Internasional, Sekjen Menperin RI Dukung "Technopark" Pelalawan

Seminar tersebut di gelar di auditorium gedung Sekolah Tinggi Teknologi Pelalawan (ST2P), kawasan Techno Park Pelalawan, Kamis (9/8/18).Seminar internasional ini bertepatan pula dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ya
Jumat, 27 Juli 2018 | 16:01:51

Tragedi Tenggelamnya KM Sinar Bangun

Gema Takbir berkumandang membahana ada dimana-mana sebagai pertanda perayaan Idul Fitri 1439 H tahun ini, karena umat Muslim telah berhasil melewati ujian untuk menahan hawa nafsu selama sebulan penuh melaksana
 
Berita Lainnya
Jumat, 27 Juli 2018 | 16:01:51

Tragedi Tenggelamnya KM Sinar Bangun

Gema Takbir berkumandang membahana ada dimana-mana sebagai pertanda perayaan Idul Fitri 1439 H tahun ini, karena umat Muslim telah berhasil melewati ujian untuk menahan hawa nafsu selama sebulan penuh melaksana
 
Selasa, 24 Juli 2018 | 13:39:27

PERANG DAGANG USA vs CHINA

Genderang perang Amerika Serikat (USA) dengan China sudah dikumandangkan. Namun perang ini bukan perang senjata (hard power) tetapi ini adalah perang ekonomi (soft power) yaitu perang dagang.  Kalau dulu U
 
Jumat, 6 Juli 2018 | 15:14:19

Peran Media Massa Dalam Memberantas Aksi Terorisme di Indonesia

Terorisme merupakan musuh dunia yang tidak mengenal batas wilayah dan undang-undang suatu negara.  Aksinya dapat terjadi di negara mana saja yang mereka targetkan, tidak terkecuali di negara Indonesia terc
 
Minggu, 27 Mei 2018 | 12:22:31

Bersatu Melawan Aksi Terorisme

Terorisme identik dengan kekerasan. Tindakan teroris menyebabkan keresahan, rasa takut di tengah masyarakat, melukai atau mengancam kehidupan, kebebasan, atau keselamatan orang lain dengan tujuan tertentu. Korb
 
Minggu, 20 Mei 2018 | 16:47:03

Cegah Terorisme Dengan Pendidikan

Beberapa waktu yang lalu, bahkan sampai saat ini hangat dibicarakan tentang terorisme. Dalam waktu yang berdekatan terjadi penyerangan di Surabaya sampai penyerangan Mapolda Riau di Pekanbaru.Seluruh masyarakat
 
Kamis, 17 Mei 2018 | 17:07:41

Laku Ekoteologi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Kini sudah paruh akhir bulan Sya'ban menurut kalender Hijriyah atau ruwah menurut kalender Jawa. Arti­nya sebentar lagi, umat Islam sedua akan masuk pada bulan suci Ramadan atau pasa. Teologi Islam me
 
Kamis, 17 Mei 2018 | 17:03:05

Mendesak Presiden Terbitkan Perppu Antiterorisme

Pemerintah dan DPR belum menemui titik temu ihwal pengesahan RUU Antiterorisme. Bersebab itu, publik mendesak Pre­siden terbitkan Perppu Antiterorisme sebagai langkah cepat dan antisipatif ketimbang menung
 
Kamis, 17 Mei 2018 | 09:41:14

Aksi Terorisme Merusak Penganut Agama

Rasa nasionalisme yang menurun akibat adanya masalah terorisme. Tergambar dari para pelaku bom bunuh diri yang sebagaian besar adalah anak muda. Mereka bagian dari masyarakat Indonesia yang terpengaruh oleh dok
 
Kamis, 17 Mei 2018 | 09:15:43

Bersatu Melawan Teroris

Rentetan aksi terorisme yang terjadi belakang ini merupakan ancaman nasional (national threat). Para pelaku teror tidak mengenal ruang dan waktu. Mereka melakukan aksinya di setiap ada kesempatan, dengan a
 
Minggu, 22 April 2018 | 13:54:18

Catatan Tentang Rencana Dosen Impor

Rencana pemerintah mendatangkan dosen impor menjadi pembicaraan yang ramai di kalangan pemerhati pendidikan. Sebagian kalangan menyambut baik kebijakan tersebut dan sebagian lagi memandang kebijakan tersebut se
 
Senin, 2 April 2018 | 14:16:25

Optimalisasi Peran PELAKOR di Sekolah

Pada saat ini istilah PELAKOR marak terdengar di berbagai media. PELAKOR diidentikkan dengan makna yang tidak baik, karena menjadi perusak rumah tangga dalam meraih kebahagiaan. Dalam tulisan ini, PELAKOR dilih
 
Senin, 19 Februari 2018 | 14:55:40

Stop Kekerasan di Sekolah

Belum hilang ingatan pada tragedi penganiayaan siswa terhadap guru, yang berujung pada kematian pak Ahmad Budi Cahyono guru Seni Rupa SMA N 1 Torjun Sampang Madura, dunia pendidikan kembali dikagetkan oleh peng
 
Selasa, 13 Februari 2018 | 14:47:45

Pilkada Riau Milik Rokan Hilir

Pemilihan kepala daerah Riau tahun ini benar - benar milik Rokan Hilir, kenapa tidak, setelah ditetapkan sebagai pasangan calon oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau Senin 12/2/2018 kemarin dan dilanjutkan deng
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 06:21:25

Refleksi HPN 2018, Jurnalisme itu Tanggungjawab Moral

TANGGAL 9 Februari diperingati se­ba­gai Hari Pers Nasional (HPN). Tahun ini pe­­­ringatan HPN akan diada­kan di Su­ma­tera Barat. Rencananya, Pre­siden Jo­kowi bersama Menteri Kabinet dijad­wal­kan a
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 06:11:04

Tipikor Bukan Kejahatan Luar Biasa!

LEWAT pertengahan 2017, dunia hukum Indonesia diting­kahi hal yang jika direspon selintas kesannya biasa-biasa saja. Apakah gerangan hal di­mak­­­sud? Pernyataan yang dilontar­kan Ketua Panitia Kerja (Panj
 
 
 
Terpopuler
 
 
 
 
 
 
Top