Produk
 
Kamis, 17 Mei 2018 | 09:15:43
Opini

Bersatu Melawan Teroris

Oleh: Jonson Rajagukguk

Sebarkan:
Internet
Ilustrasi

Rentetan aksi terorisme yang terjadi belakang ini merupakan ancaman nasional (national threat). Para pelaku teror tidak mengenal ruang dan waktu. Mereka melakukan aksinya di setiap ada kesempatan, dengan asumsi objek teror yang mereka lakukan sangat lengah.

Terbunuhnya 13 orang dan 43 luka-luka di Surabaya merupakan tragedi nasional, betapa aksi teroris­me bisa saja terjadi dimana-mana. Tentu ini jadi pekerjaan kolektif kita bersama, yakni bersatu melawan teror yang tidak mengenal rasa kemanu­siaan sedikit pun.

Bagi mereka (teroris), target harus tercapai tidak peduli siapa yang mereka bunuh. Berangkat dari asumsi teroris yang sangat kejam ini patut kita pertanyakan, apa motivasi mereka membunuh manusia tidak berdosa ketika semua ajaran agama justru melarang aksi –aksi yang sangat biadab (savage action) ini.

Apa yang terjadi di Gereja Sura­baya dengan terbunuhnya 13 orang dan berbagai kejadian lainnya meru­pakan sebuah gambaran betapa prak­tik praktik barbar itu masih melekat di negara kita. Tentu harus kita per­tegas bahwa terorisme benar-be­nar mempraktikkan ilmu kebiada­ban (biadab­mologi), ilmu kebrutalan (brutalmologi), dan ilmu kebar­baran (barbarmologi) yang seharusnya di jaman digital dan peradaban mansuia toleran tidak perlu terjadi lagi. Apa lacur, namanya teroris, mereka tidak mengenal waktu, tidak mengenal rasa kasihan, dan juga tidak punya nalar. Kapan moment yang tepat selalu mereka tunggu untuk membunuh karena doktrin sesatnya.

Bahkan tragedi di London, Paris dan berbagai Kota besar di Eropa jadi sasaran aksi terorisme merupakan sinyal bahwa gerakan ini sudah sangat mengglobal. Apa yang terjadi di Paris Perancis tepatnya di Gedung Konser Bataclan setahun yang lalu dan memakan korban jiwa lebih kurang 130 adalah sebuah aksi yang benar-benar di luar perikemanusiaan.

Aksi yang sama sudah mulai terjadi di negara kita, sekalipun jumlah korban masih kalah jauh di Perancis, justru aksi yang mereka anggap berhasil bisa saja jadi motivasi kuat untuk melakukan aksinya lebih besar dalam skala masif di negara kita. Ini yang harus kita lawan agar aksinya jangan terulang, minimal ruang dan peluang bagi aksi teror ini bisa diminimalisir.

Sekali lagi, apa yang dilakukan oleh ekstrimisme dan terorisme atas nama apapun sungguh merupakan wujud ma­nusia barbar, brutal, dan juga sangat bia­dab. Manusia yang ti­dak tahu apa-apa harus jadi korban (meninggal) demi terwujudnya am­bisi para teroris yang latar belakang munculnya gerakan te­ro­ris­me mereka masih sulit kita pahami.

Apa sebenarnya yang dicari para teroris ini sehingga sampai hati, tega, bahkan merasa tidak bersalah dalam membunuh manusia yang tidak berdosa? Banyak studi menge­mu­kakan mengenai teroris­me ini, tetapi itu jangan jadi justifikasi untuk mendukung tindakan mereka.

Terlepas dari ketidakadilan eko­nomi (economic injustice) dan keti­dakadilan politik (political injustice) lainnya yang sering mereka paksakan sebagai pembenaran, sungguh tidak masuk akal membunuh manusia yang tidak mengetahui apa-apa hanya karena ketimpangan eko­nomi (eco­no­mi inequality) semata.

Di negara kita sampai sekarang masalah teroris belum tuntas dan masih banyak potensi yang bakal muncul. Ini harus kita waspada. Sebagai contoh, banyak aksi teroris dimana-mana adalah wujud nyata betapa aksi teroris sungguh harus diantisipasi dengan segala cara.

Pembunuhan yang tidak mengenal kemanusiaan (a murder that does not know humanity) itu patut kita jadikan sebagai renungan khusus bahwa te­roris sudah kehilangan nilai moral yang sangat tinggi. Kalau sudah ada niat untuk membunuh manusia yang tidak berdosa apa lagi yang mau dikata. Inilah puncak dari krisis moral (the peak of the moral crisis) yang membuat manusia hidup pada se­buah era barbarisme atau kani­balisme kemanusiaan (humanitarian cannibalism) secara sadis.

Tetapi saya masih meyakini semua agama tidak akan pernah mengajari tindakan teroris kepada jemaat atau umatnya.

Dalam konsep semua agama, baik Islam, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu, mengajarkan nilai-nilai kasih (teach the values of love) dan persaudaraan yang tinggi.

Sekalipun kita punya metode tersendiri dalam memuja Tuhan, tetapi pada prinsipnya ajaran untuk berbuat baik, menghormati sesama, saling mengasihi selalu diajarkan oleh para tokoh agama yang berdasar atas kita suci masing-masing. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Kalau­pun kekerasan berla­belkan agama ada, tetapi itu adalah tindakan pribadi yang tidak bisa dibenarkan.

Terkait aksi-aksi kekerasan bermotif agama yang dilakukan oleh para pelaku teror, ada hal-hal yang menjadi perhatian pengamat, di antaranya, ke­mun­culan politik sektarian (identitas) setelah kejatuhan Orde Baru, berkem­bangnya faham yang memilih cara-cara kekerasan, terjadinya kekerasan komunal seperti di Ambon dan Poso, serta munculnya beberapa kelompok radikal yang memilih cara kekerasan yang memiliki jaringan nasional, regional, dan global.

Selain itu, studi-studi tentang terrorism financing juga memper­kuat cara pandang itu, dengan berusaha mengerti bagaimana jaringan global terorisme saling mendukung dari sisi pembiayaan, termasuk dalam kasus Indonesia (Giraldo & Trinkunas, eds, 2007; Bersteker & Eckert, eds, 2008).

Antisipasi

Kedepan, apa yang harus dilaku­kan oleh pemerin­tah agar bibit terorisme itu tidak berkembang lagi dan terorisme itu tidak mendapat ruang di negara kita ini? Mungkin usulan yang bisa dilakukan adalah: Pertama, proyek pengembangan hidup toleran dan hidup harmoni secara sosial saatnya digalakkan.

Dalam hal ini pemerintah harus fokus upaya apa yang bisa dilakukan agar toleransi antar umat agama dan antar suku bisa mem­bangun komunitas yang slaing menghargai.

Untuk itu, saatnya pemerintah aktif dalam mem­bangun dialog antar umat bera­gama yang berbeda agar terjalin kohesi sosial yang saling meng­kons­truksi.

Kedua, Saatnya lembaga pendidikan dari strata paling bawah sampai pendidikan tinggi fokus me­ngembangkan kurikulum multikultural (developing multicul­tural curriculum) dengan pene­kanan imple­mentasi Ideologi Pancasila dan kebhinnekaa bangsa sebagai anugerah dari Tuhan.

Dengan demikian generasi yang lahir dari lembaga pendidikan adalah generasi yang mampu merawat keberagaman (taking care of diversity) bangsa. Jelas­nya lagi, lembaga pendidikan adalah "role model" proyek pengembangan multikultural.

Ketiga, penegakan hukum yang berkadilan harus dilakukan (equality before the law). Dengan adanya penegakan hukum yang berkeadilan dengan prinsip kesetaraan bahwa semua warga negara sama di depan hukum justru membangun "modal sosial" (social capital) dalam bentuk trust dari masyarakat. Masyarakat yang percaya pada hukum adalah jaminan (guarantee) dalam negara demokrasi. Dengan terba­ngunnya kepercayaan masyarakat pada institusi hu­kum maka program pembangunan bisa berjalan dengan baik dan bisa mencegah gerakan radikalisme, dan gerakan intoleran.

Keempat, mencegah ketimpangan ekonomi yang terlalu besar. Ketimpangan ekonomi yang terjadi saat ini bisa memicu gerakan –gerakan radikal. Se­bagai contoh 1 % orang terkaya Indonesia mengu­asai 49,3 % kekayaan nasional. Berdasarkan laporan dari BPS pada Maret tahun 2016 Indeks Gini Ratio Indonesia berada di angka 0,397. Artinya tingkat ketimpangan sangat tinggi. Bahkan data Bank di Indonesia didominasi oleh pemilik rekening di atas Rp 2 Miliar.

Meskipun hampir 98 % jumlah rekening di bank dimiliki oleh nasabah dengan jumlah tabu­ngan di bawah Rp 100 juta (BPS: 207). Maka ini bisa memicu munculnya akar radikalisme dan funda­mentaslime ekonomi.

Tugas pemerintah adalah membuat kebijakan yang bisa mengurangi ketimpangan ini. Keempat hal di atas musti dilakukan agar gerakan terorisme ini semkain mengecil, bahkan kalau bisa sampai hilang. Sudah terlalu banyak korban jiwa karena gera­kan terorisme yang sangat keji ini, dan kita tidak menginginkan korban jatuh laagi.

Penutup

Apa yang terjadi di Kota Surabaya merupakan tragedi yang sangat luar biasa biadabnyaa. Kita ha­rap­kan kasus ini segera diungkap dengen pene­gakan hukum yang berkeadilan sehingga rakyat tidak kehilangan "trust" kepada negara. Dan bagi keluarga korban segera diberi kekuatan oleh Tuhan (given by covenant by God) untuk menghadapi cobaan ini. Sekali lagi, Terorisme adalah musuh bersama (common enemy) dan tugas bersama (shared tasks) untuk memeranginya.

Kolaborasi antara masyarakat sipil (civil society), aparat penegak hukum, swasta, dan pemerintah sangat ampuh untuk memperkecil ruang bagi pelaku teror. Semoga saja gerakan –gerakan terorisme ini kedepan jangan terulang lagi seperti bom Gereja di kota Surabaya ini.

Penulis adalah Pengajar tetap FISIP Universitas HKBP Nommensen (UHN)

sumber: harian.analisadaily.com

 
 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Minggu, 27 Mei 2018 | 11:05:27

Afrizal DS: Di tengah Krisis, Firdaus Wali Kota yang Berhasil Genjot APBD Pekanbaru Rp3 Triliun

PEKANBARU-Selama berdirinya Kota Pekanbaru, DR Firdaus dianggap sebagai pemimpin yang paling suskes dalam membangun.Hal tersebut ditandai dengan terbukanya lapangan pekerjaan, kemajuan kota yang demikian pesat
Minggu, 27 Mei 2018 | 10:58:58

DR.Chaidir: Survei Internal Eksternal Firdaus-Rusli Teratas

PEKANBARU-Dukungan masyarakat yang terus menguat di seantero Riau dan juga hasil survei bulan Mei ini yang menempatkan pasangan calon (paslon) nomor urut 3 Firdaus-Rusli di tempat teratas dengan raihan suara di
Minggu, 27 Mei 2018 | 10:49:20

Hujan Deras Tak Surutkan Ratusan Warga Payung Sekaki Hadiri Kampanye Dialogis Firdaus Rusli

PEKANBARU- Ratusan warga Kecamatan Payung Sekaki kota Pekanbaru tetap antusias hadiri kampanye dialogis Cagub Riau DR H Firdaus MT walaupun dalam kondisi diguyur hujan, Sabtu (26/5/2018).Di tengah guyuran hujan
Kamis, 24 Mei 2018 | 14:26:22

Insya Allah, DR Firdaus Walikota Pertama di Riau yang Jadi Gubernur

PEKANBARU-Dukungan masyarakat yang terus menguat di seantero Riau dan juga hasil survei bulan Mei ini yang menempatkan pasangan calon (paslon) nomor urut 3 Firdaus-Rusli di tempat teratas dengan raihan suara di
 
Berita Lainnya
Minggu, 20 Mei 2018 | 16:47:03

Cegah Terorisme Dengan Pendidikan

Beberapa waktu yang lalu, bahkan sampai saat ini hangat dibicarakan tentang terorisme. Dalam waktu yang berdekatan terjadi penyerangan di Surabaya sampai penyerangan Mapolda Riau di Pekanbaru.Seluruh masyarakat
 
Kamis, 17 Mei 2018 | 17:07:41

Laku Ekoteologi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Kini sudah paruh akhir bulan Sya'ban menurut kalender Hijriyah atau ruwah menurut kalender Jawa. Arti­nya sebentar lagi, umat Islam sedua akan masuk pada bulan suci Ramadan atau pasa. Teologi Islam me
 
Kamis, 17 Mei 2018 | 17:03:05

Mendesak Presiden Terbitkan Perppu Antiterorisme

Pemerintah dan DPR belum menemui titik temu ihwal pengesahan RUU Antiterorisme. Bersebab itu, publik mendesak Pre­siden terbitkan Perppu Antiterorisme sebagai langkah cepat dan antisipatif ketimbang menung
 
Kamis, 17 Mei 2018 | 09:41:14

Aksi Terorisme Merusak Penganut Agama

Rasa nasionalisme yang menurun akibat adanya masalah terorisme. Tergambar dari para pelaku bom bunuh diri yang sebagaian besar adalah anak muda. Mereka bagian dari masyarakat Indonesia yang terpengaruh oleh dok
 
Kamis, 17 Mei 2018 | 09:15:43

Bersatu Melawan Teroris

Rentetan aksi terorisme yang terjadi belakang ini merupakan ancaman nasional (national threat). Para pelaku teror tidak mengenal ruang dan waktu. Mereka melakukan aksinya di setiap ada kesempatan, dengan a
 
Minggu, 22 April 2018 | 13:54:18

Catatan Tentang Rencana Dosen Impor

Rencana pemerintah mendatangkan dosen impor menjadi pembicaraan yang ramai di kalangan pemerhati pendidikan. Sebagian kalangan menyambut baik kebijakan tersebut dan sebagian lagi memandang kebijakan tersebut se
 
Senin, 2 April 2018 | 14:16:25

Optimalisasi Peran PELAKOR di Sekolah

Pada saat ini istilah PELAKOR marak terdengar di berbagai media. PELAKOR diidentikkan dengan makna yang tidak baik, karena menjadi perusak rumah tangga dalam meraih kebahagiaan. Dalam tulisan ini, PELAKOR dilih
 
Senin, 19 Februari 2018 | 14:55:40

Stop Kekerasan di Sekolah

Belum hilang ingatan pada tragedi penganiayaan siswa terhadap guru, yang berujung pada kematian pak Ahmad Budi Cahyono guru Seni Rupa SMA N 1 Torjun Sampang Madura, dunia pendidikan kembali dikagetkan oleh peng
 
Selasa, 13 Februari 2018 | 14:47:45

Pilkada Riau Milik Rokan Hilir

Pemilihan kepala daerah Riau tahun ini benar - benar milik Rokan Hilir, kenapa tidak, setelah ditetapkan sebagai pasangan calon oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau Senin 12/2/2018 kemarin dan dilanjutkan deng
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 06:21:25

Refleksi HPN 2018, Jurnalisme itu Tanggungjawab Moral

TANGGAL 9 Februari diperingati se­ba­gai Hari Pers Nasional (HPN). Tahun ini pe­­­ringatan HPN akan diada­kan di Su­ma­tera Barat. Rencananya, Pre­siden Jo­kowi bersama Menteri Kabinet dijad­wal­kan a
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 06:11:04

Tipikor Bukan Kejahatan Luar Biasa!

LEWAT pertengahan 2017, dunia hukum Indonesia diting­kahi hal yang jika direspon selintas kesannya biasa-biasa saja. Apakah gerangan hal di­mak­­­sud? Pernyataan yang dilontar­kan Ketua Panitia Kerja (Panj
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 05:53:29

Wabah McDonaldisasi Jelang Pilkada dan Pilpres

POLITIK "Jalan Tol" kini sedang men­jang­kiti partai politik dan menjadi wajah baru dunia perpolitikan tanah air. Partai politik yang seyogyanya bertugas untuk melahirkan kader-kader yang be
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 05:44:12

Citizen Journalism dan Media Sosial Beretika

MENYAKSIKAN maraknya be­rita-berita yang ada di media sosial, orang tua serta negara perlu menjadi pe­risai yang kuat untuk karakter anak. Tak jarang pula berita tersebut sama sekali tidak bermanfaat bahka
 
Minggu, 28 Januari 2018 | 11:23:28

Tahun Politik dan Orang-orang Licik

Kekuasaan memang demiki­an menggoda dan banyak orang yang tidak sanggup untuk mengendalikan­nya. Alih-alih dia menjadi pengendali ke­kuasaan, sering kali seorang pe­nguasa menjadi budak kekuasaan. Ke­kuas
 
Minggu, 28 Januari 2018 | 11:15:33

Pendidikan Gempa dan Audit Gedung Bertingkat

Gempa bumi berkekuatan 6,1 skala Rich­ter menggun­cang lima provinsi yakni Banten, Jakarta, Lampung, Jawa Barat danJawa Tengah, Selasa (23/1/2018) lalu. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geo
 
 
 
Terpopuler

1

20 Mei 2018 16:47 | 463 views
OPINI
Cegah Terorisme Dengan Pendidikan
 
 
 
 
 
 
Top