Produk
 
Minggu, 22 April 2018 | 13:54:18

Catatan Tentang Rencana Dosen Impor

Penulis : Hardianto

Sebarkan:
Istimewa
Hardianto
Rencana pemerintah mendatangkan dosen impor menjadi pembicaraan yang ramai di kalangan pemerhati pendidikan. Sebagian kalangan menyambut baik kebijakan tersebut dan sebagian lagi memandang kebijakan tersebut sesuatu yang tidak tepat.

Alasan utama mendatangkan dosen asing adalah untuk meningkatkan reputasi pendidikan Indonesia di mata dunia internasional. Dikutip dari katadata.co.id  menristekdikti menyatakan bahwa impor 200 dosen asing bertujuan untuk meningkatkan staff mobility (masuknya dosen asing atau dosen indonesia ke negara asing).

Staff mobility ini merupakan salah satu indikator untuk mewujudkan pendidikan reputasi dunia. Saat ini sudah ada 30 dosen asing yang mengajar dan Indonesia membutuhkan lebih 1000 orang dosen asing. Dikutip dari republika.co.id dan eramuslim.combahwa pemerintah telah mempersiapkan 300 M untuk penggajian dosen asing dan akomodasinya.

Dosen asing tersebut akan digaji mulai dari 39 juta sampai 65 juta rupiah per bulan. Saat ini sudah ada 70 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta yang mengusulkan permintaan agar dosen asing bisa mengajar.

Terlepas dari sudah adanya kajian pemerintah mengenai rencana tersebut (termasuk bidang ilmu dosen yang diimpor), perlu juga diperhatikan lebih dalam dampak positif dan negatif yang bisa ditimbulkan dari kebijakan tersebut.

Adanya dosen asing memang akan meningkatkan staff mobility. Selain itu, dosen asing tentu akan dapat memicu prestasi sebagian dosen lokal. Dosen lokal diharapkan dapat menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari dosen impor tersebut.

Sebagai salah seorang dosen yang bekerja di salah satu PTS, saya melihat kebijakan dosen impor baik dilakukan apabila: Jangan asal impor.

Regulasi tentang dosen impor tentu saja sudah dikaji lebih dalam sebelum rencana ini diimplementasikan. Akan tetapi perlu juga diingat bahwa dosen impor (yang katanya hebat) belum tentu bisa juga hebat setelah mengajar di Perguruan Tinggi lokal.

Sarana prasarana yang lengkap dan mutakhir serta budaya akademik yang ada di Perguruan Tinggi asalnya bisa jadi penyebab hebatnya dosen tersebut.

Ketika di Perguruan Tinggi lokal dengan sarana prasarana yang ada saat ini menjadikan kehebatannya berkurang atau bahkan hilang.

Sebelum dikontrak tiga tahun, alangkah lebih baik diujicoba selama 4 atau 6 bulan. Contoh sederhana adalah pemain bola asing yang bermain di liga Indonesia. Klub sepakbola di Indonesia tentu sudah memperhatikan skill si pemain sebelum dikontrak, akan tetapi ketika kompetisi berjalan kita bisa melihat banyak pemain asing yang tidak lebih hebat dari pemain lokal.

Jangan-jangan dosen asing nantinya di naturalisasi seperti pemain asing yang dinaturalisasi.

Perhatian pemerintah terhadap PTS lebih ditingkatkan pemerataan pendidikan, baik dari kualitas dan kesempatan juga perlu diperhatikan pemerintah.

Dana 300 M sangat besar dan akan sangat membantu apabila dialokasikan untuk mengembangkan perguruan tinggi di Indonesia terutama PTS. Banyak PTS yang belum memiliki sarana prasarana yang memadai untuk berkompetisi dengan PTN apalagi berkompetisi secara internasional.

Ketika PTN dan PTS besar disuntik dengan tambahan dosen asing, tentu saja kesenjangan kualitas akan semakin dirasakan. Hal ini akan menjadikan PTS kehilangan calon mahasiswa dan berakhir dengan penutupan Perguruan Tinggi.

Ketika kualitas PTS dan PTN sudah tidak terlalu jauh maka kebijakan dosen asing rasanya bisa diprioritaskan. Gaji dosen baik PTN dan PTS harus ditingkatkan terlebih dahulu.

Melihat besarnya perkiraan gaji yang diterima dosen asing (39-65 Juta rupiah/bulan) akan membuat miris apabila dibandingkan dengan dosen lokal. Pemerintah tentu mengetahui bahwa ada dosen PTS yang digaji hanya 2 juta rupiah per bulan. Bahkan ada gaji dosen yang sudah berkualifikasi S3 masih kurang dari 3 juta rupiah perbulan.

Bagaimana dosen akan meningkatkan kemampuannya sementara gaji yang mereka terima sangat sedikit. Pemerintah perlu membuat kebijakan tentang gaji minimal seorang dosen, sehingga mereka bisa fokus dalam melaksanakan tri dharma perguruan tinggi.

Ketika gaji dosen di Indonesia sudah memadai mereka akan bisa bersaing dengan dosen asing.

Membuka kesempatan dosen lokal untuk mengembangkan kemampuannya
pengembangan kemampuan yang dimaksud disini adalah selain kesempatan studi lanjut juga pelatihan-pelatihan dan kegiatan lainnya.

Bea siswa bagi dosen studi lanjut hendaknya bisa ditambah jumlahnya (dari segi nominal dan jumlah penerimanya).

Banyak dosen yang menginginkan studi lanjut terkendala dana. Dosen di daerah juga merasakan belum banyak kesempatan yang bisa diikuti untuk pengembangan diri seperti mengikuti pelatihan non gelar dan sebagainya.

Begitu juga dana penelitian hibah untuk dosen juga perlu ditingkatkan. Ketika kesempatan-kesempatan itu semakin luas diberikan, tentu saja kualitas dosen lokal akan bisa bersaing dengan kualitas dosen asing. *****

Hardianto Dosen Pendidikan IPS UPP dan Mahasiswa S3 MP Universitas Negeri Jakarta
 
 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Sabtu, 26 Mei 2018 | 15:17:48

Bocorkan Rahasia ke China, 2 Eks Mata-mata Prancis Ditangkap

Paris - Dua mantan mata-mata Prancis ditangkap setelah dituduh menyerahkan informasi rahasia ke China. Keduanya dianggap telah melakukan pengkhianatan negara. Seperti dilansir AFP, Sabtu (26/5/201
Sabtu, 26 Mei 2018 | 15:14:10

Warga Menyemut Lihat Pencarian Sopir Pikap Tercebur di Kalimalang

Jakarta - Warga menyemut di Jl. KH Noer Ali, Kalimalang, Bekasi. Mereka melihat upaya pencarian sopir pikap yang tercebur ke Kalimalang. Pencarian dilanjutkan tim Basarnas dan BPBD pada sekitar pukul 13.35
Sabtu, 26 Mei 2018 | 15:09:29

Sedang Cari Ikan di Sungai, Petani Tewas Dimakan Buaya

SERUYAN - Taslim (68) warga Desa Panca Jaya, Kecamatan Seruyan Tengah, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, tewas dimangsa buaya saat sedang mencari ikan di sungai. Kapolsek Seruyan Tengah Ipda Romadhon
Sabtu, 26 Mei 2018 | 15:06:25

Pegawai Honorer di Pemda Dapat THR? Ini Penjelasan Sri Mulyani

Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan tentang tunjangan hari raya (THR) untuk pegawai non PNS di pemerintah pusat maupun di daerah. Khusus untuk pegawai non PNS daerah, Sri Mulyani
 
Berita Lainnya
Minggu, 20 Mei 2018 | 16:47:03

Cegah Terorisme Dengan Pendidikan

Beberapa waktu yang lalu, bahkan sampai saat ini hangat dibicarakan tentang terorisme. Dalam waktu yang berdekatan terjadi penyerangan di Surabaya sampai penyerangan Mapolda Riau di Pekanbaru.Seluruh masyarakat
 
Kamis, 17 Mei 2018 | 17:07:41

Laku Ekoteologi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Kini sudah paruh akhir bulan Sya'ban menurut kalender Hijriyah atau ruwah menurut kalender Jawa. Arti­nya sebentar lagi, umat Islam sedua akan masuk pada bulan suci Ramadan atau pasa. Teologi Islam me
 
Kamis, 17 Mei 2018 | 17:03:05

Mendesak Presiden Terbitkan Perppu Antiterorisme

Pemerintah dan DPR belum menemui titik temu ihwal pengesahan RUU Antiterorisme. Bersebab itu, publik mendesak Pre­siden terbitkan Perppu Antiterorisme sebagai langkah cepat dan antisipatif ketimbang menung
 
Kamis, 17 Mei 2018 | 09:41:14

Aksi Terorisme Merusak Penganut Agama

Rasa nasionalisme yang menurun akibat adanya masalah terorisme. Tergambar dari para pelaku bom bunuh diri yang sebagaian besar adalah anak muda. Mereka bagian dari masyarakat Indonesia yang terpengaruh oleh dok
 
Kamis, 17 Mei 2018 | 09:15:43

Bersatu Melawan Teroris

Rentetan aksi terorisme yang terjadi belakang ini merupakan ancaman nasional (national threat). Para pelaku teror tidak mengenal ruang dan waktu. Mereka melakukan aksinya di setiap ada kesempatan, dengan a
 
Minggu, 22 April 2018 | 13:54:18

Catatan Tentang Rencana Dosen Impor

Rencana pemerintah mendatangkan dosen impor menjadi pembicaraan yang ramai di kalangan pemerhati pendidikan. Sebagian kalangan menyambut baik kebijakan tersebut dan sebagian lagi memandang kebijakan tersebut se
 
Senin, 2 April 2018 | 14:16:25

Optimalisasi Peran PELAKOR di Sekolah

Pada saat ini istilah PELAKOR marak terdengar di berbagai media. PELAKOR diidentikkan dengan makna yang tidak baik, karena menjadi perusak rumah tangga dalam meraih kebahagiaan. Dalam tulisan ini, PELAKOR dilih
 
Senin, 19 Februari 2018 | 14:55:40

Stop Kekerasan di Sekolah

Belum hilang ingatan pada tragedi penganiayaan siswa terhadap guru, yang berujung pada kematian pak Ahmad Budi Cahyono guru Seni Rupa SMA N 1 Torjun Sampang Madura, dunia pendidikan kembali dikagetkan oleh peng
 
Selasa, 13 Februari 2018 | 14:47:45

Pilkada Riau Milik Rokan Hilir

Pemilihan kepala daerah Riau tahun ini benar - benar milik Rokan Hilir, kenapa tidak, setelah ditetapkan sebagai pasangan calon oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau Senin 12/2/2018 kemarin dan dilanjutkan deng
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 06:21:25

Refleksi HPN 2018, Jurnalisme itu Tanggungjawab Moral

TANGGAL 9 Februari diperingati se­ba­gai Hari Pers Nasional (HPN). Tahun ini pe­­­ringatan HPN akan diada­kan di Su­ma­tera Barat. Rencananya, Pre­siden Jo­kowi bersama Menteri Kabinet dijad­wal­kan a
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 06:11:04

Tipikor Bukan Kejahatan Luar Biasa!

LEWAT pertengahan 2017, dunia hukum Indonesia diting­kahi hal yang jika direspon selintas kesannya biasa-biasa saja. Apakah gerangan hal di­mak­­­sud? Pernyataan yang dilontar­kan Ketua Panitia Kerja (Panj
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 05:53:29

Wabah McDonaldisasi Jelang Pilkada dan Pilpres

POLITIK "Jalan Tol" kini sedang men­jang­kiti partai politik dan menjadi wajah baru dunia perpolitikan tanah air. Partai politik yang seyogyanya bertugas untuk melahirkan kader-kader yang be
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 05:44:12

Citizen Journalism dan Media Sosial Beretika

MENYAKSIKAN maraknya be­rita-berita yang ada di media sosial, orang tua serta negara perlu menjadi pe­risai yang kuat untuk karakter anak. Tak jarang pula berita tersebut sama sekali tidak bermanfaat bahka
 
Minggu, 28 Januari 2018 | 11:23:28

Tahun Politik dan Orang-orang Licik

Kekuasaan memang demiki­an menggoda dan banyak orang yang tidak sanggup untuk mengendalikan­nya. Alih-alih dia menjadi pengendali ke­kuasaan, sering kali seorang pe­nguasa menjadi budak kekuasaan. Ke­kuas
 
Minggu, 28 Januari 2018 | 11:15:33

Pendidikan Gempa dan Audit Gedung Bertingkat

Gempa bumi berkekuatan 6,1 skala Rich­ter menggun­cang lima provinsi yakni Banten, Jakarta, Lampung, Jawa Barat danJawa Tengah, Selasa (23/1/2018) lalu. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geo
 
 
 
Terpopuler

1

20 Mei 2018 16:47 | 462 views
OPINI
Cegah Terorisme Dengan Pendidikan
 
 
 
 
 
 
Top