Iklan Sosial
 
Senin, 19 Februari 2018 | 14:55:40
OPINI

Stop Kekerasan di Sekolah

Oleh: Hardianto

Sebarkan:
Istimewa
Hardianto
Belum hilang ingatan pada tragedi penganiayaan siswa terhadap guru, yang berujung pada kematian pak Ahmad Budi Cahyono guru Seni Rupa SMA N 1 Torjun Sampang Madura, dunia pendidikan kembali dikagetkan oleh penganiayaan oknum orangtua siswa terhadap kepala sekolah SMP N 4 Labuan Uki Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang Mongondow Sulawesi Utara.

Dua tindakan anarkis ini benar-benar membuat seolah-olah profesi guru menjadi profesi yang tidak lagi aman. 
Apapun alasannya dua tindakan di atas tidak bisa dibenarkan sama sekali.

Kekerasan yang berujung pada kematian dan penganiayaan jelas sekali termasuk perkara pidana yang harus dituntaskan melalui jalur hukum. Profesi guru yang sangat mulia untuk mencerdaskan generasi bangsa harus dilindungi lebih kuat lagi melalui tata aturan yang lebih jelas.

Kejadian kekerasan ataupun tindakan bullying di sekolah tidak hanya dilihat dari konteks permasalahan yang terjadi saat itu, tetapi juga harus dilihat dari hulunya, kenapa masalah tersebut terjadi. Begitu juga penanganan kasusnya, tidak hanya untuk menyelesaikan masalah saja tetapi juga harus dilihat dampak atau hilirisasi masalah tersebut.

Permasalahan bullying di sekolah bisa melibatkan bully guru terhadap siswa, tindakan bully antara sesama siswa, dan sekarang orangtua terhadap guru. Bully yang dilakukan oknum guru berhulu dari permasalahan rekrutmen guru dan aturan tentang penegakan disiplin siswa.

Bully yang dilakukan oknum guru mengindikasikan perlunya peningkatan standarisasi rekrutmen guru. Guru tidak hanya terampil mengajar di kelas tetapi memahami ilmu psikologi peserta didik. Dalam aturan jelas, bahwa guru yang diterima harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial.

Tata aturan yang seakan-akan guru tidak boleh melakukan tindakan fisik sekecil apapun menjadi "senjata" bagi siswa, sehingga guru hanya bisa diam, mengurut dada atau berdoa menghadapi perilaku siswa sudah melanggar aturan. Penulis sangat tidak setuju apabila ada guru yang "menghajar siswa" sampai babak belur atau melakukan kekerasan dan pelecehan nilai kemanusiaan kepada siswa.

Tetapi kalau hanya sekedar mencubit sedikit tangan ataupun kaki yang bertujuan untuk menghentikan tindakan pada dasarnya itu tidak termasuk penganiayaan yang harus berujung di pengadilan.

Tindakan bully sesama siswa perlu penanganan dari guru, orangtua serta masyarakat dan pemerintah. Guru harus mampu menjaga agar tindakan bully tidak terjadi di kelas. Aturan sekolah dan penegakan disiplin sekolah harus benar-benar diterapkan.

Orangtua mesti selalu memperhatikan tindakan dan kondisi psikologi anak. Orangtua harus menjadi tempat anak mengadu setiap permasalahan yang menimpa mereka. Orangtua harus "dekat" dengan anak, jangan sampai anak lebih senang curhat kepada teman sebaya dari pada orangtua mereka.

Ketika anak curhat dengan teman mereka jelas solusi yang diberikan temannya tidak akan mampu sebaik solusi dari orangtua yang punya banyak pengalaman.

Orangtua juga jangan terlalu cepat percaya setiap pengaduan dari anak-anak mereka. Setiap ada pengaduan dari anak, orang tua harus cek kebenarannya. Orangtua jangan terlalu mudah emosi sehingga menyerang pihak sekolah. Perlunya komunikasi yang positif antara guru dan orangtua.

Pertemuan wali siswa dengan guru secara berkala bisa menjadi solusi agar komunikasi antara siswa, guru dan orangtua bisa terjaga.

Masyarakat juga berkontribusi terhadap tindakan bully yang dilakukan siswa. Masyarakat yang lebih individualis cenderung membiarkan anak melakukan tindakan tidak terpuji. Masyarakat harus bertanggungjawab melakukan kontrol sosial terhadap siswa.

Cukup sulit dewasa ini melihat orang dewasa yang mau menegur anak-anak melakukan tindakan yang bisa memancing tindakan bully atau tindakan negatif lainnya.

Pemerintah juga harus berupaya lebih maksimal untuk menekan tindakan kekerasan maupun bully. Penulis melihat tontonan atau sinetron yang tidak mendidik semakin banyak sehingga anak meniru apa yang mereka lihat.

Sinetron yang memperlihatkan tindakan ataupun potensi bully dan memancing kekerasan harus di stop penayangannya. Jangan biarkan tontonan yang merusak hadir lagi di layar televisi yang dilihat anak Indonesia. ***
 
 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Minggu, 20 Januari 2019 | 17:07:00

KBRI Beirut Siap Mendukung Pelaksanaan Umroh Personel Konga XXIII-M

LEBANON-Kesempatan untuk melaksanakan Ibadah Umroh bagi personel yang sedang melaksanakan tugas misi perdamaian seakan terbuka lebar,  terlebih bagi personel TNI yang sedang melaksanakan tugas misi perdama
Minggu, 20 Januari 2019 | 10:06:52

Jelajah Vihara Tertua di Jakarta yang Ditemukan Pelaut Secara Tak Sengaja

Bak permata tersembunyi, begitu pula kehadiran Vihara Lalitavistara di Cilincing, Jakarta Utara. Vihara yang berlokasi di Jalan Krematorium Cilincing ini memiliki sejarah panjang karena dibangun sejak abad 11.A
Minggu, 20 Januari 2019 | 10:00:32

Di Balik 80 Juta Bisa Apa

Kalimat 80 juta bisa dapat apa seketiga me­nyebar bak se­rangan fajar. Semua din­ding-dinding akun media sosial apa­pun itu dibanjiri oleh kalimat tersebut. Kalimat ta­nya yang se­mua orang akhirnya tahu m
Minggu, 20 Januari 2019 | 09:44:00

Bandara Changi Singapura Segera Miliki Air Terjun Dalam Ruang Tertinggi di Dunia

Singapura mungkin satu-satunya kota di dunia di mana penduduk setempat bepergian ke bandara untuk menghabiskan akhir pekan mereka. Pada 2019 ini, bangunan yang menghubungkan Terminal 1 dan Terminal 2 Bandara Ch
 
Berita Lainnya
Minggu, 20 Januari 2019 | 10:00:32

Di Balik 80 Juta Bisa Apa

Kalimat 80 juta bisa dapat apa seketiga me­nyebar bak se­rangan fajar. Semua din­ding-dinding akun media sosial apa­pun itu dibanjiri oleh kalimat tersebut. Kalimat ta­nya yang se­mua orang akhirnya tahu m
 
Minggu, 20 Januari 2019 | 09:20:13

Bias Gender dalam Kasus Prostitusi Online

Setelah sempat menyeruak pada tahun 2015, kasus pros­titusi on­line yang melibatkan para artis kembali naik ke permukaan. Kali ini melibatkan artis kenamaan Vanessa Angel. ditang­kap Kepolisian daerah Jawa
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:50:06

Pelecehan di Dunia Akademik

Beberapa waktu yang lalu kita mende­ngar seorang maha­siswi S3 mem­polisi­kan rektor sebuah PTS kare­na di­lempar disertasi. Ikhwalnya, sebagai­mana diberitakan banyak media, m­a­hasiswi S3 tersebut menjelaskan
 
Minggu, 13 Januari 2019 | 07:29:18

Prostitusi, Hukum dan Moralitas

Di tengah kasak-kusuk Pemilu 2019, sua­sana awal tahun menda­dak heboh dengan keberhasilan Polda Jawa Timur memergoki sekaligus me­nangkap VA, AS dan R terkait kasus pros­titusi di Surabaya. Kendati prostitusi
 
Minggu, 6 Januari 2019 | 07:57:54

Bencana Alam di Awal 2019

TAHUN 2019 telah diawali dengan ben­cana tanah longsor di Desa Sirnaresmi, Ke­­camatan Cisolok, Kabu­pa­ten Suka­bu­mi, Jawa Barat.  Bencana tersebut te­lah  merenggut puluhan jiwa manusia d
 
Rabu, 5 Desember 2018 | 14:20:45

Korupsi Masa Orba, Ini Pernyataan Ahmad Basarah

Pertama, saya ingin letakkan dulu konteks dan teks pernyataan media saya tentang mantan Presiden Soeharto. Saya ditanya oleh teman-teman media tentang pernyataan Capres Pak Prabowo di forum internasional yang m
 
Kamis, 27 September 2018 | 13:10:16

Eksistensi TNI Dalam Pendidikan Karakter Bangsa

Persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu mengenai semua aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dan dialog di media elektronik.
 
Kamis, 20 September 2018 | 11:11:18

Babinsa di Lombok Saat Gempa, Antara Keluarga dan Tugas

Musibah gempa bumi yang mengguncang Pulau Lombok, Sumbawa dan Sumbawa Barat beberapa waktu lalu telah menyisakan kenangan dan cerita yang mengharukan bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya bagi
 
Jumat, 14 September 2018 | 10:43:17

Sejarah Membuktikan, Papua adalah Indonesia Sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Tidak banyak orang Papua yang tahu bahwa saat anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) bersidang pada tanggal 14 Juli 1945, para founding fathers negara Indonesia itu telah
 
Rabu, 29 Agustus 2018 | 21:37:37

Kenapa Jokowi Berpelukan dengan Prabowo

Peristiwa yang membuat warga Indonesia terharu saat ini ketika melihat kedua calon presiden  Indonesia, Jokowi dan Prabowo  berpelukan. Keduanya berpelukan setelah Hanifan Yunadi Kusumah yang merupaka
 
Jumat, 27 Juli 2018 | 16:01:51

Tragedi Tenggelamnya KM Sinar Bangun

Gema Takbir berkumandang membahana ada dimana-mana sebagai pertanda perayaan Idul Fitri 1439 H tahun ini, karena umat Muslim telah berhasil melewati ujian untuk menahan hawa nafsu selama sebulan penuh melaksana
 
Selasa, 24 Juli 2018 | 13:39:27

PERANG DAGANG USA vs CHINA

Genderang perang Amerika Serikat (USA) dengan China sudah dikumandangkan. Namun perang ini bukan perang senjata (hard power) tetapi ini adalah perang ekonomi (soft power) yaitu perang dagang.  Kalau dulu U
 
Jumat, 6 Juli 2018 | 15:14:19

Peran Media Massa Dalam Memberantas Aksi Terorisme di Indonesia

Terorisme merupakan musuh dunia yang tidak mengenal batas wilayah dan undang-undang suatu negara.  Aksinya dapat terjadi di negara mana saja yang mereka targetkan, tidak terkecuali di negara Indonesia terc
 
Minggu, 27 Mei 2018 | 12:22:31

Bersatu Melawan Aksi Terorisme

Terorisme identik dengan kekerasan. Tindakan teroris menyebabkan keresahan, rasa takut di tengah masyarakat, melukai atau mengancam kehidupan, kebebasan, atau keselamatan orang lain dengan tujuan tertentu. Korb
 
Minggu, 20 Mei 2018 | 16:47:03

Cegah Terorisme Dengan Pendidikan

Beberapa waktu yang lalu, bahkan sampai saat ini hangat dibicarakan tentang terorisme. Dalam waktu yang berdekatan terjadi penyerangan di Surabaya sampai penyerangan Mapolda Riau di Pekanbaru.Seluruh masyarakat
 
 
 
Terpopuler

1

20 Jan 2019 09:20 | 114 views
Opini
Bias Gender dalam Kasus Prostitusi Online

2

20 Jan 2019 10:00 | 114 views
Opini
Di Balik 80 Juta Bisa Apa
 
 
 
 
 
 
Top