Produk
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 06:21:25
Opini

Refleksi HPN 2018, Jurnalisme itu Tanggungjawab Moral

Oleh: Jones Gultom

Sebarkan:
(Foto: Internet)
Ilustrasi

TANGGAL 9 Februari diperingati se­ba­gai Hari Pers Nasional (HPN). Tahun ini pe­­­ringatan HPN akan diada­kan di Su­ma­tera Barat. Rencananya, Pre­siden Jo­kowi bersama Menteri Kabinet dijad­wal­kan akan hadir di acara tersebut.

Berbicara tentang pers khususnya di In­­donesia, seperti sebuah novel yang tidak pernah selesai dibuat. Kehidupan pers Tanah Air masih jauh dari apa yang di­cita-citakan. Padahal dalam sebuah ne­geri demokrasi, pers adalah pilar keempat yang tak kalah penting dari tiga pilar lain; eksekutif-yudikatif-legislatif.

Salah satu masalah klasik yang tak juga tuntas adalah soal kesejahteraan in­san pers itu sendiri. Ini menjadi hal yang paling mendasar ketika kita ber­bicara tentang pers. Karena faktor inilah yang sering memicu lahirnya berbagai ma­cam turunan persoalan dalam tubuh pers Tanah Air. Jika hal ini tidak juga di­perbaiki persoalan-persoalan itu akan terus ada meski dalam bentuk yang berbeda.

Bukan rahasia umum kehidupan insan pers, terutama dari sisi ekonomi cen­de­rung lebih parah dari buruh peru­sahaan swasta. Boleh dibilang rata-rata insan pers di Indo­nesia mengalami itu. Upah yang mereka terima dari peker­jaannya sebagai jurnalis, masih sering tidak sesuai dengan standar pengupahan yang diatur pemerintah. Hal itu berbun­tut panjang, salah satunya memicu sebagian insan pers untuk menyimpang dari kode etik pers itu sendiri.

Ditambah lagi dengan gelombang media online yang memaksa sejumlah perusahaan pers konvensional (koran, majalah) banyak yang gulung tikar. Dalam beberapa tahun terakhir fenomena itu telah memunculkan istilah media kon­vensional/mainstream dan inkonven­sio­nal. Lucunya, persefsi orang terhadap me­­dia inkonvensional kerap merujuk ke­pada media online. Padahal dalam dunia pers, pemahaman seperti itu tidak ada. Media tetaplah media. Pers tetap pers. Tidak ada klasifikasi kecuali soal format yang digunakan (cetak atau elektronik).

Pemahaman ini ikut pula merembes dalam benak masya­rakat bahwa seolah-olah media inkonvensional (online) bu­kan­lah sebuah produk pers. Boleh jadi ka­rena aturan main tentang genre pers ini bisa dibilang belum jelas, tetapi itu bu­kan berarti pers jenis itu menjadi "ille­gal".

Memang kini Dewan Pers tengah ber­upaya membuat aturan main salah satu­nya dengan menyertifikasi perusahaan pers yang ada, terutama berbasis online. Te­tapi hal itu juga tidak bisa menjadi ja­minan. Karena peraturan itu lebih ter­kait soal prinsip dan himbauan. Sangsinya juga tidak bermuatan hukum. Dewan Pers sekedar lepas tanggung­ja­wab ma­na­kala pers yang tak mengikuti aturan itu tersandung kasus hukum. Kita ber­harap bias HAM seperti ini akan dibahas dalam HPN mendatang?

Siar damai

Seperti disinggung di atas, gencar di­ka­takan, media me­rupakan satu dari 4 pilar demokrasi di Indonesia. Media me­miliki peran yang vital untuk mewu­jud­kan penyeleng­garaan negara yang ter­kontrol. Termasuk berperan aktif dalam pro­ses pemilihan umum yang berasaskan jujur, adil, langsung, bebas dan rahasia.

Kita ingat di masa Orde Baru, media hidup dalam tekanan penguasa. Di masa itu, media adalah bagian dari mesin po­litik penguasa. Bagian dari rezim ke­kua­saan. Tidak ada ruang bagi media yang tidak tunduk pada bayang-bayang pe­nguasa.

Namun sejak reformasi bergulir, me­dia mendapatkan kebebasannya. Un­dang-undang pers segera dibuat untuk men­jamin kebebasan itu. Hasilnya setiap orang bebas mendi­rikan perusahaan surat kabar. Media-media dengan ragam ben­tuk dan varian terus bermunculan. Media on­line itu harus dianggap sebagai bagian dari revolusi media. Bukan sebagai predator sebagaimana yang disangkakan sebagian orang. Bagaimanapun, media sosial telah menjadi produk terhebat di abad revolusi industri jilid IV ini.

Sekedar mengingatkan kembali, etos jur­nalisme adalah netralitas. Seperti apa­pun kondisi yang dihadapi, media massa haruslah bersikap netral. Bahkan untuk situasi yang menuntut keberpiha­kan, media massa mesti lebih menge­de­pankan fakta dan kebenaran. Inilah cita-cita tertinggi insan pers. Sekalipun sulit untuk dilakukan, namun hal itu bukan se­­suatu yang mustahil. Setidaknya lang­kah menuju itu tetap harus diperta­han­kan.

Memang angan-angan media menjadi sa­rana penyampai fakta dan kebenaran ini pernah ditertawakan Voltaire, pe­mikir ke­lahiran Paris, 3 abad lalu. Dicibirnya, me­dia tidak akan bisa lepas dari kepentingan pemiliknya. Jika ia seorang po­litikus, maka ia akan memanfaatkan media itu untuk me­raih kekuasaan. Jika ia seorang pengusaha, ia akan me­man­faatkan medianya sebagai senjata demi meng­halal­kan segala cara. Jika ia seorang bandit, ia akan memanfaatkan medianya sebagai topeng.

Tetapi kita tidak boleh membiarkan pe­simis ini berkem­bang di masyarakat In­donesia. Masyarakat harus dididik me­lek media. Terutama pada musim pilkada ini. Rakyat harus jeli dan kritis memilah-milah informasi. Justru rakyat yang harus ber­pikir cover both side. Rakyat harus men­jadi media bagi dirinya sendiri. Se­perti idealnya kerja-kerja jurnalistik, rak­yat secara terus-menerus harus menguji sikap skeptisnya dalam menelaah in­formasi. Sebisanya rakyat menghindari informasi tunggal. Rakyat mesti mem­bong­kar kesadarannya sendiri, bahwa ia adalah makhluk yang tidak bisa dipretensi oleh keberpihakan satu media, melainkan berusaha memperoleh kebenarannya sen­diri, lewat beragam informasi dan olah akal sehat.

Rakyat harus menguji data-data itu dan mencari tahu sendiri fakta yang ada di dalamnya. Dalam situasi pilkada seka­rang ini, rakyat harus menjadi hakim yang berhak memutuskan sendiri mana in­formasi yang boleh ia percayai.

Demikian juga harapan kita pada media. Kita berharap media melakukan kerja-kerja sesuai dengan aturan yang berlaku padanya. Media harus menjalan­kan tugasnya sebagai penyebar damai di masyarakat. Media harus kembali pada misi utamanya sebagai penyampai ke­benaran. Media harus kembali ke basic. Jurnalisme sudah ratusan tahun menye­diakan dan mempersiapkan alat bagi jurnalis, cover both sides, bahkan jika perlu cover all sides, check recheck. Ha­rus dipisahkan fakta dan opini. Jangan men­dramatisir apalagi sampai melaku­kan labelisasi. Terutama dalam konteks pilkada 2018 dan pilpres 2019 menda­tang. Media dengan kerja-kerja jurnalis­tik­nya itu mesti mengambil perannya se­bagai sarana pencerdasan politik. Ba­gaimana pun kerja jurnalisme itu me­rupakan sebuah tanggungjawab mo­ral.***

(Penulis adalah jurnalis)

sumber:analisadaily.com

 
 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Rabu, 25 April 2018 | 17:01:18

Berbagai Kalangan Akui Keberhasilan DR Firdaus ST MT dan Ketokohan Rusli Effendi

MANDAU-Keberhasilan DR Firdaus ST MT dan ketokohan Rusli Effendi sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Riau terus mendapatkan pengakuan dari banyak kalangan.Makanya tak heran kalau dalam setiap kampan
Rabu, 25 April 2018 | 16:57:47

Cawagubri Rusli Effendi Bernostalgia di Pematang Pudu, Ini Harapan Warganya

MANDAU - Rusli Effendi yang datang Selasa 22/4 tanpa Firdaus bercerita kalau ia pada tahun 1980 silam pernah berkunjung ke daerah Pematang Pudi Permai ini, Dulu ia sering bertemu para tokoh masyarakat dan
Rabu, 25 April 2018 | 16:44:41

Begini Cara Pasangan Firdaus-Rusli Atasi Pengangguran di Duri

MANDAU - Meski berstatus sebagai kota Industri karena banyak perusahaan dan dan sejumlah industri berada di sana, namun hal tersebut berbanding terbalik dengan kondisi masyarakatnya yang ternyata masih ba
Rabu, 25 April 2018 | 16:38:43

Ini Alasan Ibu-ibu Qosidah di Mandau Menyukai Firdaus-Rusli

MANDAU-Sekelompok ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Qasida Alfalah Kelurahan Gajah Sakti  terkagum dengan pasangan Firdaus-Rusli, terutama saat Rusli Effendy datang langsung menemui mereka."Kami
 
Berita Lainnya
Minggu, 22 April 2018 | 13:54:18

Catatan Tentang Rencana Dosen Impor

Rencana pemerintah mendatangkan dosen impor menjadi pembicaraan yang ramai di kalangan pemerhati pendidikan. Sebagian kalangan menyambut baik kebijakan tersebut dan sebagian lagi memandang kebijakan tersebut se
 
Senin, 2 April 2018 | 14:16:25

Optimalisasi Peran PELAKOR di Sekolah

Pada saat ini istilah PELAKOR marak terdengar di berbagai media. PELAKOR diidentikkan dengan makna yang tidak baik, karena menjadi perusak rumah tangga dalam meraih kebahagiaan. Dalam tulisan ini, PELAKOR dilih
 
Senin, 19 Februari 2018 | 14:55:40

Stop Kekerasan di Sekolah

Belum hilang ingatan pada tragedi penganiayaan siswa terhadap guru, yang berujung pada kematian pak Ahmad Budi Cahyono guru Seni Rupa SMA N 1 Torjun Sampang Madura, dunia pendidikan kembali dikagetkan oleh peng
 
Selasa, 13 Februari 2018 | 14:47:45

Pilkada Riau Milik Rokan Hilir

Pemilihan kepala daerah Riau tahun ini benar - benar milik Rokan Hilir, kenapa tidak, setelah ditetapkan sebagai pasangan calon oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau Senin 12/2/2018 kemarin dan dilanjutkan deng
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 06:21:25

Refleksi HPN 2018, Jurnalisme itu Tanggungjawab Moral

TANGGAL 9 Februari diperingati se­ba­gai Hari Pers Nasional (HPN). Tahun ini pe­­­ringatan HPN akan diada­kan di Su­ma­tera Barat. Rencananya, Pre­siden Jo­kowi bersama Menteri Kabinet dijad­wal­kan a
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 06:11:04

Tipikor Bukan Kejahatan Luar Biasa!

LEWAT pertengahan 2017, dunia hukum Indonesia diting­kahi hal yang jika direspon selintas kesannya biasa-biasa saja. Apakah gerangan hal di­mak­­­sud? Pernyataan yang dilontar­kan Ketua Panitia Kerja (Panj
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 05:53:29

Wabah McDonaldisasi Jelang Pilkada dan Pilpres

POLITIK "Jalan Tol" kini sedang men­jang­kiti partai politik dan menjadi wajah baru dunia perpolitikan tanah air. Partai politik yang seyogyanya bertugas untuk melahirkan kader-kader yang be
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 05:44:12

Citizen Journalism dan Media Sosial Beretika

MENYAKSIKAN maraknya be­rita-berita yang ada di media sosial, orang tua serta negara perlu menjadi pe­risai yang kuat untuk karakter anak. Tak jarang pula berita tersebut sama sekali tidak bermanfaat bahka
 
Minggu, 28 Januari 2018 | 11:23:28

Tahun Politik dan Orang-orang Licik

Kekuasaan memang demiki­an menggoda dan banyak orang yang tidak sanggup untuk mengendalikan­nya. Alih-alih dia menjadi pengendali ke­kuasaan, sering kali seorang pe­nguasa menjadi budak kekuasaan. Ke­kuas
 
Minggu, 28 Januari 2018 | 11:15:33

Pendidikan Gempa dan Audit Gedung Bertingkat

Gempa bumi berkekuatan 6,1 skala Rich­ter menggun­cang lima provinsi yakni Banten, Jakarta, Lampung, Jawa Barat danJawa Tengah, Selasa (23/1/2018) lalu. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geo
 
Minggu, 28 Januari 2018 | 10:55:13

Mengenang Pertempuran Heroik Laut Arafuru

Menjelang tengah malam tang­gal 15 Januari 1962, tiga kapal perang Indonesia berlayar di perairan Laut Arafuru untuk menyusup ke da­ratan Papua dalam rangka membe­bas­kan Papua (Irian Jaya) dari ceng­ke­r
 
Minggu, 28 Januari 2018 | 10:38:14

Rendahnya Teori Penilangan Petugas Kepolisian

Sore itu, Selasa 19 Desember 2017 ada­lah hari paling berkesan bagi penulis. Se­bab hari itu adalah hari dimana penulis akan ditilang anggota polisi di Jalan Yos Su­darso tepatnya di persimpanga
 
Rabu, 10 Januari 2018 | 22:23:03

Menciptakan Kesejahteraan Melalui Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu langkah strategis untuk mewujudkan kesejahteraan.Pendidikan itu diibaratkan investasi yang harus dilakukan dan dikelola dengan baik. Pembangunan dan pengembangan bidang lain tanp
 
Minggu, 7 Januari 2018 | 07:28:55

Tahun Baru, Semangat Baru Melawan Narkoba

Tahun 2018 sudah dimasuki. Perta­ru­­ngan hidup untuk men­capai kebaikan te­­rus berjalan. Kita terus ber­ikhti­ar me­ma­­jukan nilai-nilai kemas­la­hatan dan men­jauhi serta memerangi ke­ja­hatan serta kebatil
 
Minggu, 7 Januari 2018 | 07:26:08

Memaknai Ulang Mudik

Kita kembali sedang merayakan pe­ris­tiwa paling erotis di negeri ini: mudik. Apa itu mudik? Mudik sebenarnya hanya­lah sebuah peristiwa pulang kampung. Tetapi, bukan pulang kampung biasa. Ada banyak motif, has
 
 
 
Terpopuler

1

22 Apr 2018 13:54 | 277 views
Catatan Tentang Rencana Dosen Impor
 
 
 
 
 
 
Top