sosial
 
Minggu, 29 Oktober 2017 | 10:49:19
Opini

Masih Pentingkah Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia?

Oleh: Abul Muamar

Sebarkan:
analisadaily.com
Ilustrasi

Di Indonesia, bulan Oktober dikenal se­­­bagai bulan bahasa. Bahasa yang di­mak­­­sud tentu saja adalah bahasa per­sa­tuan negara kita, bahasa Indonesia. Satu per­­tanyaan yang langsung melintas di ke­­pala saya adalah, masih pentingkah ba­­­hasa persatuan, bahasa Indonesia da­lam kehidupan berbangsa dan ber­ne­gara di mana masyarakatnya, semakin hari ter­asa semakin acuh tak acuh terhadap ba­hasanya sendiri?

Agar tak gundah sendirian, pertanyaan itu saya ajukan kepada dosen saya, guru besar Filsafat Pancasila Universitas Gadjah Mada, Profesor Armaidy Arma­wi. Konklusi dari jawaban yang beliau be­rikan adalah, bahwa bahasa Indonesia itu, bagaimanapun tetap dan akan selalu penting, bahkan sangat penting, terutama dalam kaitannya dengan upaya dan cita-cita menjaga keutuhan negara ini, baik secara politis maupun secara teritorial.

Sebagai jembatan yang menghubung­kan keberagaman, bahasa sejatinya bu­kan merupakan implikasi dari geopo­litik, melainkan lebih berupa buah dari tra­­disi kultural masyarakat untuk saling me­mahami dalam perbedaan. Impian itu su­dah ada jauh sebelum bahasa Indonesia dikukuhkan melalui deklarasi Soem­pah Pemoeda pada 28 Oktober 1928. Artinya, sejak zaman dahulu pun, ma­sya­rakat kita yang beragam, memiliki ke­inginan untuk saling mengenal dan ber­bagi, dan dengan demikian, menyatu­kan masing-masing kultur bawaan mereka.

Coba bayangkan, di ruang tunggu se­buah bandara misalnya, bagaimanakah kiranya seorang Jawa yang hanya bisa ber­bahasa Jawa, dapat menyampaikan pe­san kepada orang Padang yang hanya bisa dan mengerti berbahasa Padang, untuk menjagai tasnya selagi ia pergi ke toi­let sejenak, jika bahasa Indonesia tidak ada? Bahasa isyarat memang ada, tetapi tentunya repot, bukan? Maka dari itu, sepatutnya kita bersyukur, dan berterima kasih kepada para pemuda di bulan Ok­tober 1928 yang sudah berjasa me­nah­bis­kan bahasa Indonesia sebagai bahasa per­satuan kita.

Sayangnya, dewasa ini kita lupa ber­syukur akan nikmat itu. Kita sering lupa bahwa kita bisa dengan mudah berkomu­n­ikasi dengan orang-orang di luar wi­layah kita, bahkan di luar pulau kita, karena adanya bahasa persatuan itu. Kita kerap memperlakukan bahasa Indonesia dengan sesuka hati (untuk tidak menyebut semena-mena), dan menganggap seakan itu sudah taken for granted dari sananya, dan karena itu tidak perlu terlalu dijunjung-junjung seperti yang diikrar­kan para pemuda waktu itu. Asalkan Anda dan Anda saling mengerti, asal kau dan aku saling mengerti, asalkan kita dan kalian saling mengerti, maka itu sudah cukup. Sedangkan penting tidaknya bahasa Indonesia itu, menjadi hal yang tidak lebih penting dibanding, memeriksa notifikasi dan komentar-komentar di laman media sosial.

Satu kendala besar yang kita hadapi pe­rihal bahasa persatuan ini, sebagai­mana juga halnya pada masalah yang me­nyangkut nasionalitas yang lain, ada­lah singgungannya dengan ragam lo­kalitas (kearifan lokal) yang begitu ma­jemuk di negara ini. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan NKRI, masih kerap berbenturan dengan geliat untuk mem­pertahankan kebudayaan lokal, yang dalam hal ini adalah bahasa daerah. Di Jawa, misalnya, bahkan di lingkungan universitas sekalipun, mayoritas orang-orang masih lebih senang (dan barangkali juga bangga) menggunakan bahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari. Demikian juga kiranya di Sumatera, Kalimantan, dan lainnya. Hal ini sudah berlangsung sejak bahasa Indonesia dicetuskan. Arti­nya, sampai sekarang pun, kalau kita berani mengakui, kita belum sepenuhnya men­junjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan kita. Dalam pada ini, na­sionalitas (ataupun nasionalisme) diam-diam berada dalam keadaan vis-a-vis dengan lokalitas.

Tanggalkan Bahasa Daerah di Tempat Umum

Lantas, salahkah keadaan itu? Pro­fesor Armaidy tidak menjawab­nya secara gamblang. Namun secara tersirat, beliau menyampaikan bah­wa sejak awal negara ini dibangun, termasuk di dalamnya bahasa Indonesia sebagai lingua franca, semes­tinya segala hal yang berbau lokal, hanya berlaku di dalam lokal itu sendiri saja. Artinya, lokalitas jangan dibawa-bawa "keluar". Lokalitas hendaknya dilestarikan dalam kon­teks kelokalannya sendiri. Seorang Batak, misalnya, mestinya hanya ber­bahasa Batak dengan sesama orang yang mengerti bahasa Batak da­­lam situasi dan ruang yang privat.

Pandangan ini tentu saja bisa di­sanggah dengan pernyataan seperti, "nasionalitas negara ini terdiri dari lokalitas-lokalitas yang majemuk; menanggalkan satu lokalitas sama artinya dengan mempreteli keutuhan nasionalitas itu sendiri". Jika argu­mentasinya seperti itu, tentu saja ba­gus dan bisa diterima. Artinya, orang yang menyatakan demikian punya kesadaran penuh terhadap dua hal tersebut. Itu berarti, dia menggu­nakan bahasa daerahnya di tempat umum bukan karena dia tidak na­si­onalis, melainkan karena dia sengaja melakukannya dan penuh kesadaran. Paling tidak, ketika ada orang lain duduk di sampingnya yang tidak me­ngerti bahasa daerah yang ditu­turkannya, yang barangkali merasa risih, ia bisa cepat-cepat beralih meng­gunakan bahasa Indonesia.

Selebihnya, adakah alasan lain yang bisa jadi pembenaran untuk menggunakan bahasa daerah di tempat umum? Jika memang ada, pembaca tulisan ini barangkali bisa menyimpan­nya terlebih dahulu, dan menuangkannya ke dalam bentuk tulisan agar dapat dibaca dan dipah­ami khalayak banyak—termasuk saya.

Namun saya pribadi, sepakat de­ngan apa yang dikatakan oleh Pro­fe­sor Armaidy. Bahwa bagaimanapun, mau tak mau, lokalitas harus tetap be­rada di bawah nasionalitas. Sekali lagi, itu demi keutuhan negara repu­blik ini, dan demi keberlangsung­an hidup bersama dalam keberagaman.

Lawan Invasi Melalui Bahasa

Selesai dengan urusan lokalitas versus nasionalitas tadi, PR kita se­lanjutnya adalah melawan invasi me­lalui penjunjungan terhadap bahasa Indonesia. Dalam konteks sosio-li­nguistik, masuknya bahasa asing dan digunakannya bahasa asing itu dalam sebuah negara sasaran, sebenarnya sudah merupakan bentuk invasi. Apa­kah kita mau bahasa Indonesia tergantikan oleh bahasa asing, seperti bahasa Inggris atau bahasa Korea, misalnya?

Jika kita memang maunya demi­kian, tentu perkara ini se­lesai sampai di sini. Tidak ada lagi masalah yang harus dibicarakan. Akan tetapi, jika yang ada adalah sebaliknya, sudah sepatutnyalah kita sadar akan invasi laten yang dilaku­kan oleh negara asing melalui bahasa mereka. Ingat, internasionali­sasi tidak mesti berarti bahwa kita harus menggunakan ba­hasa interna­sional. Apalagi jika itu ternyata hanya sebuah indoktrinasi yang selama ini kita telan mentah-mentah.

Mungkin kita memang sudah ter­lanjur basah, apalagi melihat negara-negara lain juga demikian. Tetapi kita belum terlambat. Tidak ada kata terlambat bagi bangsa yang besar seperti bangsa kita. Sebab, bagaima­napun, bangsa yang besar pasti akan membanggakan bahasanya sendiri. Tengoklah bagaimana Prancis, Jer­man, Italia, dan Spanyol. Betapa resis­­tannya mereka terhadap gempu­ran bahasa Inggris yang dianggap sebagai bahasa internasional. Mayo­ritas penduduk di negara-negara ter­sebut bahkan anti (baca: enggan) menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari mereka, seka­li­pun sekadar mengoplosnya dengan bahasa mereka sendiri, sebagaimana kebiasaan orang-orang kita.

Lalu, bagaimana dengan kita? Ki­ta sudah sama-sama tahu. Yang paling tidak dapat dipungkiri saat ini adalah kebiasaan mencampuraduk bahasa sendiri dengan bahasa asing, dan itu dilakukan dalam percakapan sehari-hari. Kebiasaan ini bahkan telah menyebabkan orang-orang kita lebih akrab dengan kata-kata macam bully, pancake, laundry, dan resign, ketimbang merisak, panekuk, pena­tu, dan mengundurkan diri.

Sebagai penutup, perlu diketahui, bahwa di luar sana, termasuk Australia dan Tiongkok, orang-orang se­dang gencar mempelajari bahasa Indonesia. Untuk apa? Entahlah. Yang pasti kita mesti siap-siap meng­an­tisipasi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. ***

Penulis adalah jurnalis; alumnus Ilmu Komunikasi FISIP USU; mahasiswa pascasarjana Filsafat UGM.

sumber:analisadaily.com

 
 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Sabtu, 17 Februari 2018 | 22:01:02

Hitungan Jam, Opsnal Polsek Pinggir Tangkap 4 Pelaku Narkotika di 2 Tempat Berbeda

PINGGIR - Hitungan jam, empat pelaku tindak pidana Narkotika jenis Shabu berhasil digulung Tim Opsnal Polsek Pinggir dari dua tempat yang berbeda.Kapolres Bengkalis, AKBP Abas Basuni Sik, yang dikonfirmasi spir
Sabtu, 17 Februari 2018 | 21:23:51

Jalin Silahturrahmi, Pj Bupati Inhil Sambangi Kantor Panwaslu

TEMBILAHAN - Guna menjalin tali silahturrahmi, Penjabat (Pj) Bupati Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Rudiyanto menyambangi kantor Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) di Jalan Trimas, Tembilahan, Sabtu (17/2/20
Sabtu, 17 Februari 2018 | 21:20:33

Kunjungi Ekowisata Pantai Solop, Ini Komentar Pjs Bupati Inhil

MANDAH-Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Kabupaten Indragiri Hilir H Rudyanto mengunjungi kawasan Ekowisata Pantai Solop, Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Sabtu (17/2/18)."Saya ingin melihat langsung kawasan Ek
Sabtu, 17 Februari 2018 | 21:16:59

Danramil 07/Reteh Gelar Komsos dengan Panwaslu

RETEH - Danramil 07/Reteh Kapten Arm Syahrul Effendi melaksanakan Komunikasi Sosial (Komsos) dengan panwaslu Kecamatan Reteh bertempat di kantor Panwaslu Kecamatan Reteh yang berada di jalan penunjang. Keg
 
Berita Lainnya
Selasa, 13 Februari 2018 | 14:47:45

Pilkada Riau Milik Rokan Hilir

Pemilihan kepala daerah Riau tahun ini benar - benar milik Rokan Hilir, kenapa tidak, setelah ditetapkan sebagai pasangan calon oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau Senin 12/2/2018 kemarin dan dilanjutkan deng
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 06:21:25

Refleksi HPN 2018, Jurnalisme itu Tanggungjawab Moral

TANGGAL 9 Februari diperingati se­ba­gai Hari Pers Nasional (HPN). Tahun ini pe­­­ringatan HPN akan diada­kan di Su­ma­tera Barat. Rencananya, Pre­siden Jo­kowi bersama Menteri Kabinet dijad­wal­kan a
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 06:11:04

Tipikor Bukan Kejahatan Luar Biasa!

LEWAT pertengahan 2017, dunia hukum Indonesia diting­kahi hal yang jika direspon selintas kesannya biasa-biasa saja. Apakah gerangan hal di­mak­­­sud? Pernyataan yang dilontar­kan Ketua Panitia Kerja (Panj
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 05:53:29

Wabah McDonaldisasi Jelang Pilkada dan Pilpres

POLITIK "Jalan Tol" kini sedang men­jang­kiti partai politik dan menjadi wajah baru dunia perpolitikan tanah air. Partai politik yang seyogyanya bertugas untuk melahirkan kader-kader yang be
 
Minggu, 11 Februari 2018 | 05:44:12

Citizen Journalism dan Media Sosial Beretika

MENYAKSIKAN maraknya be­rita-berita yang ada di media sosial, orang tua serta negara perlu menjadi pe­risai yang kuat untuk karakter anak. Tak jarang pula berita tersebut sama sekali tidak bermanfaat bahka
 
Minggu, 28 Januari 2018 | 11:23:28

Tahun Politik dan Orang-orang Licik

Kekuasaan memang demiki­an menggoda dan banyak orang yang tidak sanggup untuk mengendalikan­nya. Alih-alih dia menjadi pengendali ke­kuasaan, sering kali seorang pe­nguasa menjadi budak kekuasaan. Ke­kuas
 
Minggu, 28 Januari 2018 | 11:15:33

Pendidikan Gempa dan Audit Gedung Bertingkat

Gempa bumi berkekuatan 6,1 skala Rich­ter menggun­cang lima provinsi yakni Banten, Jakarta, Lampung, Jawa Barat danJawa Tengah, Selasa (23/1/2018) lalu. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geo
 
Minggu, 28 Januari 2018 | 10:55:13

Mengenang Pertempuran Heroik Laut Arafuru

Menjelang tengah malam tang­gal 15 Januari 1962, tiga kapal perang Indonesia berlayar di perairan Laut Arafuru untuk menyusup ke da­ratan Papua dalam rangka membe­bas­kan Papua (Irian Jaya) dari ceng­ke­r
 
Minggu, 28 Januari 2018 | 10:38:14

Rendahnya Teori Penilangan Petugas Kepolisian

Sore itu, Selasa 19 Desember 2017 ada­lah hari paling berkesan bagi penulis. Se­bab hari itu adalah hari dimana penulis akan ditilang anggota polisi di Jalan Yos Su­darso tepatnya di persimpanga
 
Rabu, 10 Januari 2018 | 22:23:03

Menciptakan Kesejahteraan Melalui Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu langkah strategis untuk mewujudkan kesejahteraan.Pendidikan itu diibaratkan investasi yang harus dilakukan dan dikelola dengan baik. Pembangunan dan pengembangan bidang lain tanp
 
Minggu, 7 Januari 2018 | 07:28:55

Tahun Baru, Semangat Baru Melawan Narkoba

Tahun 2018 sudah dimasuki. Perta­ru­­ngan hidup untuk men­capai kebaikan te­­rus berjalan. Kita terus ber­ikhti­ar me­ma­­jukan nilai-nilai kemas­la­hatan dan men­jauhi serta memerangi ke­ja­hatan serta kebatil
 
Minggu, 7 Januari 2018 | 07:26:08

Memaknai Ulang Mudik

Kita kembali sedang merayakan pe­ris­tiwa paling erotis di negeri ini: mudik. Apa itu mudik? Mudik sebenarnya hanya­lah sebuah peristiwa pulang kampung. Tetapi, bukan pulang kampung biasa. Ada banyak motif, has
 
Minggu, 7 Januari 2018 | 07:20:30

Kisah Sampah di Malam Tahun Baru

Perayaan malam tahun baru menjadi acara paling meriah di seluruh negara di dunia. Ketika malam pergantian tahun baru bia­sanya jutaan manusia berkumpul pada suatu tempat yang luas menantikan detik-detik pergant
 
Minggu, 7 Januari 2018 | 06:41:54

Selamat Datang di Era Eksponensial

PROFESSOR Klaus Schwab, pendiri dan pe­mimpin eksekutif Forum Ekonomi Du­nia, dalam bukunya The Fourth In­dustrial Revolution, menyatakan bah­wa saat ini dunia tengah memasuki Re­volusi In­dus­
 
Minggu, 24 Desember 2017 | 08:04:33

Memaknai Hari Natal

Seluruh umat Kristiani di berba­gai be­lahan dunia bersuka cita merayakan Na­tal pada setiap tanggal 25 De­sem­ber. De­mikian halnya dengan masyarakat Kristiani di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingg
 
 
 
Terpopuler

1

13 Feb 2018 14:47 | 512 views
Pilkada Riau Milik Rokan Hilir

2

11 Feb 2018 06:21 | 220 views
Opini
Refleksi HPN 2018, Jurnalisme itu Tanggungjawab Moral

3

11 Feb 2018 06:11 | 150 views
Opini
Tipikor Bukan Kejahatan Luar Biasa!

4

11 Feb 2018 05:53 | 149 views
Opini
Wabah McDonaldisasi Jelang Pilkada dan Pilpres

5

11 Feb 2018 05:44 | 78 views
Opini
Citizen Journalism dan Media Sosial Beretika
 
 
 
 
 
 
Top