Jumat, 20 September 2019 | 10:32:04
internasional

Hari-hari Kelam di Kampus Pakistan Usai Seorang Profesor Dituduh Menghina Islam

merdeka.com

Sebarkan:
merdeka.com

Profesor Khalid Hameed, mengabdikan dirinya sebagai dosen sastra Inggris di Government Sadiq Egerton College, Kota Bahawalpur, Pakistan. Baginya, bukan masalah untuk datang lebih awal setiap harinya. Termasuk, di hari kala ia dibunuh.

Pagi itu, Hameed tiba tepat pukul delapan. Segera langkahnya menuju ruang staf untuk tanda tangan, membuka kunci ruangannya, dan masuk. Tanpa sadar, seorang mengikutinya dari belakang.

Tepat saat membuka pintu ruangannya, Hameed diserang. Kepalanya dipukul dengan gembok berat. Hameed ditikam berkali-kali hingga meregang nyawa.

Peristiwa nahas itu terjadi pada 20 Maret lalu. Hameed meninggal di usia 59 tahun, enam bulan menuju masa pensiun.

Atas kejadian tersebut, polisi menahan Khateed Hussain, salah satu mahasiswa Hameed.

Di mata keluarga, Hameed dikenal sebagai seorang muslim yang taat. Ironisnya pada video interogasi, tersangka mengatakan alasannya membunuh Hameed adalah karena dosen senior itu telah menghina Islam.

Menurut kepolisian, Hussain telah dipengaruhi oleh Pendakwah Pakistan Tehreek-e-Labbaik Zafar Gillani dan kelompok Islam garis keras.

Namun, enam bulan setelah diinterogasi Hussain tak jua menerima tuntutan. Pun demikian dengan Zafar dan kelompok Islam garis keras yang disebut-sebut mempengaruhi Hussain.

Kasus pembunuhan Hameed bukan hanya meninggalkan luka mendalam di hati keluarga dan rekan sejawatnya, tetapi juga kekhawatiran bagi para pengajar. Kematian Hameed dikaitkan dengan kampanye menentang kebebasan pendidikan, gerakan yang ditolak oleh kelompok berpengaruh di Pakistan.

Bagi Tabasum dan rekan dosen lainnya, Hameed bukanlah seorang penghasut paham liberal. Hameed hanyalah dosen yang berdedikasi dan begitu disukai banyak orang.

"Sebenarnya, dosen adalah simbol dari semua pendidikan liberal," kata Irshad Ahmad Tabasum, profesor di departemen yang sama dengan Hameed.

Tabasum dan rekan pengajar lainnya berpendapat, kampus mereka tidak pernah memiliki masalah dengan kelompok garis keras. Tidak ada dari mereka yang dapat menjelaskan motif pelaku membunuh Hameed.

Sebelum kematian Hameed, sempat beredar pamflet berisi seruan larangan terhadap pertemuan yang melibatkan Hameed. Pamflet itu juga memuat fitnah tentang Hameed. Dikatakan, laki-laki dan perempuan yang hadir akan diperbolehkan untuk menari bersama.

Meski nama Hussain disebut sebagai pelaku pembunuhan, tetapi penyelidik mengatakan ia tidak terlibat dalam pembuatan pamflet tersebut. Pernyataan ini diragukan oleh para dosen.

Dosen tidak lagi berani berbicara

Dikutip dari The New York Times, Rabu (18/9), di hadapan penyidik Hussain menyebut bahwa Hameed "biasa menyerukan perlawanan terhadap Islam dan menghina setiap hari."

Penyataan Hussain membuat heran para pengajar di universitas itu. Seperti kelas sastra Inggris pada umumnya, Hameed biasa menjelaskan berbagai hal seputar filsafat, sejarah, agama dan politik yang berkaitan dengan mata kuliahnya. Tidak ada pengajar yang mengetahui pasti apa yang membuat Hussain begitu marah, hingga tega membunuh.

Pembunuhan Hameed seolah membungkam kebebasan berpendapat di institusi pendidikan. Kini, para dosen sangat berhati-hati dalam menyampaikan materi perkuliahan. Mereka khawatir, akan ada mahasiswa yang sakit hati dan mengulang kisah Hameed.

"Selama 25 tahun terakhir, saya tidak pernah merasakan tekanan seperti yang sekarang saya rasakan," ungkap Tabasum.

Sebelum peristiwa pembunuhan yang merenggut nyawa Hameed terjadi, Tabasum kerap membagikan sejarah tentang tragedi Yunani, "Oedipus Rex" di kelasnya. Namun saat ini, ia tidak lagi memiliki keberanian untuk membicarakan hal itu di depan kelas.

"Karena setiap kata dapat menciptakan masalah bagi Anda," jelasnya. "Inilah yang tertanam dalam diri saya setelah kejadian itu."

Asisten Profesor di Sadiq Egerton Mahmood Ahmed Shaheen mengatakan, para dosen kini enggan membahas materi yang terlalu filosofis. Menurutnya, insiden pembunuhan Hameed telah memengaruhi perasaan dan cara pandang para pengajar.

"Kami merasa sedikit tidak aman ketika belajar dan mendiskusikan sesuatu di kelas, terutama jika itu terkait dengan agama," jelasnya.

Bukan hanya di kampus tempat Hameed mengajar, ketakutan itu juga menyebar hingga ke luar Kota Bahawalpur. Rasa takut juga dirasakan para pengajar di Inu Kota Islamabad yang berjarak sekitar 600 km lebih.

Shaista Sonnu Sirajuddin, Mantan Profesor Sastra Inggir di Universitas Punjab, Lahore, Pakistan berpendapat kejadian serupa bisa saja terjadi di tempat lain. "Saya takut dan khawatir, kita juga bisa menjadi korban."

Selain dosen, mahasiswa juga pernah jadi korban

Dua tahun lalu, seorang mahasiswa berusia 25 tahun di Universitas Abdul Wali Khan Mardan diseret dari kamar asramanya dan dibunuh oleh sejumlah orang. Pembunuhan itu terjadi setelah beredar rumor bahwa ia telah mengunggah ujaran kebencian di media sosial.

Mahasiswa malang itu bernama Marshal khan. Ia digambarkan sebagai pribadi yang humanis. Bahkan, kamar asramanya dipenuhi poster para pahlawan politik dan slogan tentang kebebasan berpendapat.

Sorotan para pembela agama garis keras telah menjadi masalah di sejumlah kampus di Pakistan, sejak kekuasaan militer jenderal Mohammad Zia ul-Haq, tahun 1980-an. Sejak saat itu Pakistan mulai berani menerapkan islamisasi dalam hukum di negara mereka.

"Jika Anda mengundang pembicara yang berpikiran maju, pembicara itu akan diteriaki untuk turun, dan pergi keluar kampus," katanya.

Profesor Hameed adalah sosok religius

Istri dan keempat anak Hameed mengatakan, dosen senior itu sangat religius. Selama lima tahun bekerja di Makkah, Hameed sudah berulang kali melakukan ibadah umroh.

Menurut kesaksian para dosen dan alumni Sadiq Egerton yang dikutip dari The New York Times, Hameed juga memiliki jiwa sosial tinggi. Ia sering menaruh perhatian pada mahasiswa tidak mampu. Hameed berkeyakinan, gelar pendidikan dapat mengubah hidup mereka dan keluarganya.

Hingga saat ini, Hussain dilaporkan masih mendekam di penjara. Mahasiswa berusia 21 tahun itu belum mendapat dakwaan resmi.

Sementara, Zafar Gillani, penceramah yang dituduh menghasut Hussain, juga sempat ditahan. Namun, saat ini ia sudah diberikan kebebasan bersyarat.

Shafiq Qureshi yang bertindak sebagai jaksa penuntut umum dalam kasus ini mengatakan, laporan investigasi telah lengkap. Menurutnya, tuntutan resmi sudah dapat diajukan bulan ini. Shafiq berharap, sidang pengadilan dapat segera digelar.

Kasus ini mendapat pengawalan ketat dari para mahasiswa, dosen, dan warga Pakistan lainnya. Asisten Profesor Sastra Inggris di Sadiq Egerton Diwan Asif Shahzad sempat meyakini, hukuman pada pelaku akan memperkuat dukungan terhadap pendidikan liberal. Namun, keyakinan itu mulai goyah. Pasalnya, proses hukum atas kasus ini belum juga berjalan.

"Kami semua khawatir apa yang akan menjadi keputusan akhir," kata Shahzad.

 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Selasa, 22 Oktober 2019 | 17:36:18

Norizal Resmi Nahkodai BPC GAPENSI Kabupaten Bengkalis Periode 2019 -2024

Bengkalis - Berdasarkan hasil keputusan sidang Pleno I musyawarah cabang VIII (Muscab) BPC Gapensi Kabupaten bengkalis yang dilaksanakan di aula kantor BPC Gapensi Bengkalis pada hari Selasa (22/10/19) pagi, ak
Selasa, 22 Oktober 2019 | 17:13:07

Besok Operasi Zebra Di Tanjungpinang, Ini Sasarannya

 Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Tanjungpinang akan menggelar Operasi Zebra Seligi pada Rabu (23/10) besok."Dalam operasi ini setidaknya ada delapan sasaran, diantaranya kelengkapan administrasi peng
Selasa, 22 Oktober 2019 | 13:42:49

Apakah Muhammad Rudi Maju Sebagai Pilgub Kepri? Ini Respon Relawan

Partai Nasdem, tidak lama lagi akan membuka pendaftaran, bagi kader-kader yang berpotensi untuk maju bakal calon Gubernur dan Walikota di pemilihan serentak 2020, Selasa(30/9/2019)Ketua relawan Haji Muhammad Ru
Selasa, 22 Oktober 2019 | 13:38:27

BPC GAPENSI Kabupaten Bengkalis Gelar Muscab VIII

Bengkalis - Badan Pimpinan Cabang Gabungan Pelaksana Kontruksi Nasional Indonesia (BPC-GAPENSI) Kabupaten Bengkalis, Selasa pagi (22/10/19) melaksanakan musyawarah ke VIII di aula kantor  BPC Gapensi Kabup
 
Berita Lainnya
Senin, 21 Oktober 2019 | 19:00:36

850 Prajurit TNI Konga XXIII-N Unifil Gelar Latihan Teknis

KONGA- Sebanyak 850 prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Batalyon Mekanis (Satgas Yonmek) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII-N Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon) menggelar latihan teknis
 
Kamis, 17 Oktober 2019 | 13:40:41

Drama Keluarga di Belanda Ditemukan Setelah 9 Tahun Terkurung

Drenthe - Seorang ayah dan lima anaknya ditemukan dalam ruangan kecil pada sebuah perkebunan di Belanda. Mereka dilaporkan telah terkurung di ruangan itu selama sembilan tahun.Terungkapnya k
 
Kamis, 17 Oktober 2019 | 13:22:08

5 Wanita Muslim Masuk Daftar Perempuan Berpengaruh Dunia, 2 dari Asia

 Diskriminasi tidak menjadi penghambat dalam melakukan aksi untuk perubahan dunia bagi sebagian orang. Meski menjadi bagian dari minoritas di sebuah wilayah, seseorang tetap bisa berbuat demi perubahan.Con
 
Kamis, 17 Oktober 2019 | 11:10:13

Perempuan asal Indonesia Masuk Daftar 100 Orang Berpengaruh di Dunia

 Kaum perempuan mempunyai peran tak kalah penting dalam kehidupan dibanding kaum laki-laki. Mereka pun bisa menjadi sosok berpengaruh di dunia. Kaum hawa juga bisa memberikan dampak positif terhadap orang
 
Minggu, 13 Oktober 2019 | 10:28:53

Bakamla RI/IDNCG Hadiri HLM for the 15th HACGAM di Colombo

SRILANGKA- Perwakilan Bakamla RI/Indonesian Coast Guard (IDNCG) dan Polair yang tergabung sebagai Delegasi Republik Indonesia (Delri) dipimpin Deputi Operasi dan Latihan Bakamla RI Laksda Bakamla T.S.N.B. Hutab
 
Minggu, 6 Oktober 2019 | 10:33:59

Usai Nyanyi Lagu Opera di Kereta Perempuan Tunawisma Ini Terkenal

SEORANG polisi Los Angeles berhenti untuk memfilmkan seorang perempuan tunawisma yang menyanyikan lagu opera di kereta bawah tanah. Mereka tidak menyadari bahwa video tersebut menjadi viral.Emily Zamourka terli
 
Rabu, 2 Oktober 2019 | 19:07:54

Puluhan Pucuk Senjata Berhasil Diperoleh Dari Ex-Combatan Kabege Kongo

KONGO- Sebanyak 48 pucuk senjata yang terdiri dari, 41 pucuk AK-47, 1 pucuk Mortir 60 LR, 2 pucuk Machine Gun, 2 pucuk RPG, 2 pucuk senjata Arquebus, 1 buah granat, ratusan butir munisi, ratusan busur dan ribua
 
Rabu, 2 Oktober 2019 | 10:54:40

2 WNI Meninggal Akibat Jembatan Ambrol di Taiwan

Jakarta - Tiga orang WNI sempat hilang dalam insiden jembatan ambrol di Taiwan. Dua di antaranya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia."Tim pencarian otoritas Taiwan telah menemukan 2 dari 3 WNI yan
 
Rabu, 2 Oktober 2019 | 08:52:59

Bentrok di Irak, 2 Demonstran Tewas dan Lebih dari 200 Orang Terluka

Baghdad - Dua demonstran tewas dalam bentrokan pasukan keamanan selama protes di Irak. Selain itu, lebih dari 200 orang terluka.Dilansir AFP, Rabu (2/10/9/2019), lebih dari 1.00 orang turun ke ib
 
Selasa, 1 Oktober 2019 | 16:54:39

11 Polisi Afghanistan Tewas dalam Serangan Taliban, 13 Diculik

Kabul - Setidaknya 11 polisi tewas saat para militan Taliban menyerang markas mereka di wilayah Afghanistan utara. Belasan polisi lainnya dilaporkan telah diculik Taliban.Juru bicara provinsi Bal
 
Selasa, 1 Oktober 2019 | 11:06:39

Kena Peluru Karet, Jurnalis Indonesia Tuntut Jawaban dari Polisi Hong Kong

Hong Kong - Jurnalis asal Indonesia yang bertugas di Hong Kong, Veby Mega Indah, menuntut jawaban dari Kepolisian Hong Kong terkait insiden peluru karet yang mengenai dirinya saat meliput unjuk r
 
Selasa, 1 Oktober 2019 | 09:37:38

Bunuh Bocah Umur 8 Tahun, Wanita di Spanyol Divonis Penjara Seumur Hidup

Madrid - Ana Julia Quezada terbukti bersalah membunuh seorang anak berumur 8 tahun. Pengadilan Spanyol memvonis wanita tersebut dengan hukuman penjara seumur hidup.Korban bernama Gabriel Cruz yang hilang p
 
Senin, 30 September 2019 | 17:00:53

Roda Pesawat Meletus di Udara, Qantas Airways Putar Balik ke Brisbane

Brisbane - Sebuah pesawat Qantas Airways dengan rute domestik terpaksa putar balik ke Brisbane, Australia, setelah salah satu rodanya meletus di udara. Insiden ini terjadi sesaat setelah pes
 
Senin, 30 September 2019 | 16:45:11

Dalam 3 Hari, 100 Orang Tewas Akibat Hujan Lebat di India

New Delhi - Setidaknya 100 orang tewas di wilayah India utara dalam tiga hari terakhir ini akibat hujan lebat yang telah merendam jalan-jalan, bangsal-bangsal rumah sakit dan rumah-rumah.Puluhan
 
Senin, 30 September 2019 | 13:39:02

Akui Bertanggung Jawab, Putra Mahkota Saudi Tak Tahu Pembunuhan Khashoggi

Riyadh - Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, bersikeras menyatakan tidak tahu-menahu soal pembunuhan wartawan senior Saudi, Jamal Khashoggi, meskipun dia mengakui dirinya
 
 
 
Terpopuler
 
 
 
 
Top