Terverifikasi Dewan Pers
 
Rabu, 15 Mei 2019 | 10:27:48
Internasional

Kapal Minyak Arab Saudi Diserang, Buntut Manuver AS di Timur Tengah?

Sebarkan:
Detik.com
JAKARTA - Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara sepihak memutuskan menarik diri dari perjanjian nuklir Iran yang dikenal dengan nama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tahun 2018, Amerika menerapkan sanksi-sanksi baru terhadap Iran dan secara praktis memaksa negara-negara lain turut mengembargo Iran.

Salah satu contoh nyata adalah negara-negara yang selama ini mendapat pengecualian mengimpor minyak dari Iran; China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Turki, mulai Juni mendatang terancam dikenai sanksi Amerika Serikat jika mereka terus membeli minyak dari Iran.

Tentu risiko sanksi AS dalam upaya mengisolasi kembali Iran agar mau membuat perjanjian baru tentang program nuklirnya tersebut memperumit keadaan.

Sebab, tak dapat dipungkiri banyak negara memerlukan pasokan minyak dari Iran.

Terlebih lagi, sejumlah negara juga sudah terlanjur menjejakkan kaki di Iran dengan berinvestasi begitu dicapai kesepakatan perjanjian nuklir JCPOA tahun 2015 antara Iran dengan Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, dan China.

Konsekuensi perjanjian nuklir Iran adalah pencabutan sanksi-sanksi terhadap negara itu.

Dengan demikian kepentingan masing-masing negara, kata Direktur Indonesia Center for Middle East Studies Universitas Padjajaran, Dr. Dina Sulaeman, terganggu atas 'instruksi' embargo dari AS.

"Misalnya dari Parlemen Uni Eropa (UE) beberapa kali sudah menyatakan keberatannya atas embargo (pelarangan negara-konsumen untuk membeli minyak Iran), apalagi segera setelah JCPOA ditandatangani, UE sudah mulai melakukan proses investasi di Iran," jelas Dr. Dina Sulaeman yang juga menjadi dosen Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran.

Iran 'dapat dukungan' dari Uni Eropa, Israel 'tak senang'

Ia memandang ketegangan yang terjadi sehubungan dengan insiden yang disebut 'sabotase' terhadap empat kapal dagang termasuk dua kapal tanker Arab Saudi di perairan Uni Emirat Arab pada Minggu (12/05) merupakan kelanjutan dari berbagai manuver Amerika Serikat, terutama setelah Presiden Trump menarik AS dari perjanjian nuklir Iran.

"Jadi dalam perkembangannya, dalam ketegangan yang terjadi saat ini, Iran mendapatkan 'dukungan' dari negara-negara Uni Eropa karena eskalasi konflik AS dengan Iran akan mengganggu kepentingan nasional negara UE," kata Dr. Dina Sulaeman.

Di sisi lain, Israel merasa terancam dengan pencabutan sanksi terhadap Iran dengan dicapainya kesepakan nuklir JCPOA pada tahun 2015 tersebut.

"Tampaknya Trump ingin menyenangkan Israel, maka dia keluar dari kesepakatan JCPOA. Kemudian AS mengerahkan kapal induk ke Teluk untuk menekan Iran," tutur pengamat politik Timur Tengah dari LIPI, Hamdan Basyar.

Siapa yang dituding berada di balik serangan kapal?

Sejauh ini belum ada pihak yang dituduh berada di balik insiden 'sabotase' kapal di dekat Pelabuhan Fujairah di perairan Uni Emirat Arab, tidak jauh dari Selat Hormuz, yang memisahkan antara Iran dengan Uni Emirat Arab.

Tidak ada pula pernyataan resmi yang mengaitkan insiden 'sabotase' kapal dengan tuduhan yang dikeluarkan Amerika Serikat bahwa Iran merencanakan serangan yang "segera terjadi" terhadap kepentingan AS di Timur Tengah.

Utusan khusus AS untuk Iran, Brian Brook, menolak memberikan komentar terkait hal itu dan hanya mengatakan bahwa AS membantu menyelidiki peristiwa itu atas permintaan Uni Emirat Arab. Uni Emirat Arab menyebut insiden tersebut sebagai "sabotase yang disengaja".

Iran sudah menyatakan tidak terlibat dan meminta diadakan penyelidikan penuh. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Abbas Mousavi "menyerukan negara-negara di kawasan agar waspada dalam menghadapi petualangan unsur-unsur asing", tanpa merinci pihak yang dimaksud.

Di samping pengakuan Iran bahwa negara itu tidak berada di balik serangan, ada faktor lain yang mungkin dapat menjadi alasan mengapa Iran tidak buru-buru dituduh, kata Direktur Indonesia Center for Middle East Studies di Universitas Padjajaran, Dr. Dina Sulaeman.

"Rekam jejak Iran sebagai state (negara), juga tidak pernah melakukan serangan terlebih dulu. Tapi kita tahu bahwa di kawasan juga ada musuh UAE dan Saudi, yaitu milisi Yaman yang memiliki kekuatan senjata yang cukup kuat, dan beberapa kali sudah melemparkan rudal ke Saudi," tambahnya.

Kendati demikian, Iran bisa jadi negara yang gampang dituding berada di balik 'sabotase' empat kapal dagang.

"Ingat yang diserang tanker Saudi.... Dua negara itu berseberangan di berbagai tempat," kata pengamat politik Timur Tengah dari LIPI, Hamdan Basyar.

Selain dua kapal minyak Arab Saudi, dua kapal yang diserang adalah masing-masing satu kapal Uni Emirat Arab dan Norwegia.

Tarik ulur

Yang mengkhawatirkan, kata Dina Sulaeman, adalah jika insiden serangan kapal itu digunakan sebagai dalih untuk melancarkan perang, sebagaimana yang terjadi di era tahun 1960-an, ketika muncul "tuduhan bahwa kapal Vietnam Utara menembaki kapal USS Maddox, dan ini dijadikan pretext (dalih) oleh AS untuk menyerang Vietnam".

Meski demikian ketegangan yang meningkat belakangan, antara lain ditandai dengan pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln bersama pesawat-pesawat pengebom B-52 ke Teluk, diperkirakan tidak akan mengarah ke perang terbuka.

Menurut dosen Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran, Dina Sulaeman, kedua pihak terlihat tarik ulur.

Di pihak Iran muncul pernyataan keras dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menyebut kehadiran kapal induk AS di Teluk kini bisa menjadi sasaran dan peluang yang menguntungkan bagi Teheran, padahal dulu kehadirannya merupakan ancaman serius.

"Di saat yang sama, Presiden Rouhani juga menyatakan bahwa kurang lebih zaman sekarang adalah zaman diplomasi (bukan perang)," tambahnya.

Adapun di kubu Amerika Serikat, penasihat keamanan nasional John Bolton, dalam berbagai kesempatan menggarisbawahi bahwa negaranya tidak ingin beradu senjata dengan Iran.

Pernyataan itu seakan berbanding terbalik dengan ancaman-ancaman yang senantiasa dikeluarkan oleh Presiden Trump terhadap Iran.

"Di sisi lain, setelah memberikan berbagai ancaman, Trump malah memberikan nomer teleponnya, meminta Iran untuk menghubungi," jelas Dina Sulaeman yang pernah bekerja di Iran tersebut.

"Banyak kepentingan besar yang terancam bila perang benar-benar terjadi, terutama, ancaman macetnya suplai minyak dunia bila Selat Hormuz dilanda perang, krisis ekonomi global bisa dipastikan akan menyusul."

Tekanan terus menerus terhadap Iran diperkirakan akan semakin memperkeruh suasana di wilayah Timur Tengah.

"Hizbullah, Jihad Islam, Houthi sebagai proksi Iran akan bangkit lagi,"kata Hamdan Basyar.

Baik Hamdan Basyar maupun Dina Sulaeman mengatakan ketegangan seperti yang ada belakangan di wilayah Teluk pernah pula terjadi tahun 1980-an di masa perang Iran dan Irak.

Ketika itu, Irak menyerang kapal-kapal dengan tujuan pelabuhan Iran sebagai upaya menggagalkan pengiriman minyak dari Iran. Irak dibantu oleh Arab Saudi, Kuwait, Arab Saudi dan AS sebagai sekutunya di era tersebut.

Sebagai balasannya Iran menyerang pelabuhan minyak di Irak.




Sumber: detik.com
 
 
Komentar
 
Berita Terkait
Rabu, 22 Mei 2019 | 15:43:59

Babinsa Koramil 02/TP Bersama Warga Melaksanakan Karya Bhakti Semenisasi Jalan

TANAH PUTIH- Babinsa Koramil/02 Tanah Putih (TP), Kabupaten Rohil Riau, melaksanakan Gotong Royong Karya Bhakti semenisasi Jalan Teguh, RT 001/RW 001 Kelurahan Cempedak Rahuk, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten R
Rabu, 22 Mei 2019 | 15:36:33

BPN Sebut Massa Demo Ricuh Bukan Pendukung Prabowo-Sandiaga

JAKARTA - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyebut massa aksi demo ricuh 22 Mei bukanlah dari pendukungnya. BPN menilai massa merupakan masyarakat umum."Saya kira itu masyara
Rabu, 22 Mei 2019 | 15:33:17

Pasca Demo Mahasiswa, Aktifitas di Kantor DPRD Provinsi Riau Berjalan Normal

PEKANBARU- Pasca aksi demonstrasi ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang terdiri beberapa perguruan tinggi di Pekanbaru, selasa sore (21/5). Hari ini, aktifitas di kantor DP
Rabu, 22 Mei 2019 | 15:26:13

Ucapkan Selamat ke Jokowi, Trump Sebut Indonesia Contoh Demokrasi

Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden Joko Widodo dan rakyat Indonesia atas suksesnya pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) tahun 2019. Dal
 
Berita Lainnya
Rabu, 22 Mei 2019 | 15:26:13

Ucapkan Selamat ke Jokowi, Trump Sebut Indonesia Contoh Demokrasi

Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden Joko Widodo dan rakyat Indonesia atas suksesnya pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) tahun 2019. Dal
 
Rabu, 22 Mei 2019 | 10:17:18

PM Australia Ucapkan Selamat ke Jokowi Atas Kemenangan Pilpres 2019

Canberra - Ucapan selamat untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas kemenangan dalam pilpres 2019 datang dari Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison. PM Morrison mengharapkan hubungan Australia dan Ind
 
Selasa, 21 Mei 2019 | 15:45:08

Selamati Jokowi, Mahathir Harap Kerja Sama Malaysia-RI Makin Erat

Kuala Lumpur - Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohamad, menyelamati Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas kemenangan dalam pilpres 2019. Mahathir mendoakan hubungan Malaysia dan Indonesia semak
 
Selasa, 21 Mei 2019 | 15:19:24

Diancam Trump, Menlu: Iran Telah Berdiri Tegak Selama Ribuan Tahun

TEHERAN - Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif membalas ancaman Presiden Amerika Serikat yang mengejek genosida dengan mengatakan hal itu tidak akan mengakhiri Iran. "Iran telah berdiri tegak sela
 
Selasa, 21 Mei 2019 | 14:38:13

Presiden Baru Dilantik, Perdana Menteri Ukraina Memilih Mundur

KIEV - Perdana Menteri Ukraina Volodymyr Groysman memilih mengundurkan diri sebagai sikap protes terhadap pembubaran parlemen oleh Presiden yang baru dilantik, Volodymyr Zelensky. Zelensky yang merupakan
 
Selasa, 21 Mei 2019 | 11:46:42

Ketegangan AS dan Iran Meningkat, PBB Prihatin

New York - Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan keprihatinan atas meningkatnya retorika perang antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara itu pun diserukan untuk menahan pernyataan-p
 
Senin, 20 Mei 2019 | 14:21:39

Napi Militan ISIS Bikin Rusuh di Penjara Tajikistan, 32 Orang Tewas

Dushanbe - Sebuah kerusuhan yang dipicu sejumlah narapidana (napi) militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) pecah di sebuah penjara dengan keamanan ketat di Tajikistan, Asia Tengah. Sedikitnya
 
Senin, 20 Mei 2019 | 11:28:25

Trump: Jika Iran Menyerang, Itu Akan Jadi Akhir bagi Mereka

Washington DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan peringatan terbaru untuk Iran di tengah ketegangan kedua negara. Trump menegaskan bahwa Iran akan dihancurkan jika menyerang ke
 
Senin, 20 Mei 2019 | 10:35:24

Bus Pariwisata di Mesir Dibom, 12 Turis Asing Terluka

KAIRO - Sebuah bus pariwisata di Mesir menjadi sasaran teror bom. Setidaknya 16 orang terluka akibat kejadian itu.Dilansir Reuters, Senin (20/5/2019), 16 orang tersebut terdiri dari 12 turis asing yang merupaka
 
Senin, 20 Mei 2019 | 09:57:39

Jokowi Jadi Cover Majalah Milenial Ar-Rajul di Arab Saudi

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) jadi cover utama Majalah Milenial Ar-Rajul (Sang Tokoh) minggu ini. Majalah itu terbit di Arab Saudi.Dalam sampul berwarna cokelat itu, Jokowi tampak mengenakan setel
 
Sabtu, 18 Mei 2019 | 13:13:51

Kecelakaan Tragis, Serangan Udara AS Tewaskan 8 Polisi Afghanistan

KABUL - Setidaknya delapan polisi Afghanistan tewas dalam serangan udara Amerika Serikat di provinsi Helmand, Afghanistan selatan. Belasan polisi lainnya luka-luka dalam serangan yang disebut tak di
 
Sabtu, 18 Mei 2019 | 11:33:39

Iran Kutuk Serangan Arab Saudi ke Yaman yang Tewaskan 7 Warga Sipil

TEHERAN - Pemerintah Iran mengutuk serangan udara yang dilancarkan Arab Saudi ke kawasan permukiman di ibu kota Yaman, Sanaa. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan setidaknya tujuh warga sipil."Ka
 
Jumat, 17 Mei 2019 | 20:04:03

ABK KN Tanjung Datu 301 Saksikan Demontrasi Pollution Response

INDIA-Puluhan ABK Tanjung Datu 301 yang dipimpin Ketua Delegasi Laksma Bakamla Eko Murwanto, S.Sos, berkesempatan untuk menyaksikan demontrasi penanganan polusi air laut oleh Indian Coast Guard di Pangkalan ICG
 
Jumat, 17 Mei 2019 | 13:31:36

Terduga ISIS Ditangkap di Malaysia Berniat Serang Gereja di Yogyakarta

KUALA LUMPUR  - Kepolisian Malaysia menyebut dua warganya yang ditangkap terkait sel militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) merencanakan serangan terhadap gereja-gereja di Indonesia, khususny
 
Jumat, 17 Mei 2019 | 11:48:50

10 Tewas dalam Insiden Bangunan Runtuh di Shanghai

SHANGHAI Sepuluh orang tewas di rumah sakit setelah pada Kamis sebuah dinding pabrik di Shanghai secara tiba-tiba roboh menyebabkan puluhan orang terperangkap di bawahnya. Biro manajemen darurat Shangh
 
 
 
Terpopuler

1

16 Mei 2019 11:02 | 628 views
Internasional

Presiden Putin Minta Iran Tetap Dalam Perjanjian Nuklir

2

16 Mei 2019 16:47 | 306 views
Internasional

Presiden Iran Sebut Sanksi AS Kejahatan terhadap Kemanusiaan

3

17 Mei 2019 20:04 | 273 views
Iternasional

ABK KN Tanjung Datu 301 Saksikan Demontrasi Pollution Response

4

15 Mei 2019 16:52 | 229 views
Internasional

Wapres JK Bertemu Wakil PM Malaysia di Jenewa, Ini yang Dibahas

5

18 Mei 2019 11:33 | 147 views
Internasional

Iran Kutuk Serangan Arab Saudi ke Yaman yang Tewaskan 7 Warga Sipil

 
 
 
 
Top